Rupiah Tertekan Meski Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, BI Lakukan Intervensi

Rabu, 06/05/2026 12:00 WIB
pur

pur

Jakarta, sumbarsatu.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada kisaran Rp17.420–Rp17.460 per dolar AS, Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026) terkoreksi 0,14 persen ke level Rp17.409 per dolar AS. Sepanjang hari, mata uang Garuda sempat bergerak di rentang Rp17.385 hingga Rp17.437 per dolar AS.

Pelemahan rupiah bahkan tetap terjadi setelah Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen (year on year), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen. Usai pengumuman tersebut, rupiah tercatat berada di level Rp17.425 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, mengatakan pihaknya telah mengambil langkah intervensi terukur di pasar untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh kondisi fiskal pemerintah.

Ia menegaskan bahwa fiskal justru menjadi penopang pertumbuhan ekonomi, dengan defisit APBN tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Di sisi lain, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Ia memperkirakan nilai tukar dapat menyentuh Rp17.550 per dolar AS dalam waktu dekat.

Menurutnya, ketidakpastian global menjadi faktor utama, termasuk kenaikan harga minyak yang berpotensi mendorong inflasi dan membuka peluang bank sentral global seperti Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga.

Selain itu, tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri untuk impor energi turut menambah tekanan terhadap rupiah.

Dari sisi domestik, BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.

Konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menjadi penopang utama dengan kontribusi gabungan sebesar 82,65 persen terhadap PDB.

Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan menyumbang 54,26 persen terhadap PDB, sementara PMTB tumbuh 5,96 persen dengan kontribusi 28,29 persen.

Ekspor tercatat tumbuh 0,9 persen dengan kontribusi 21,22 persen, sedangkan konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen dengan kontribusi 6,72 persen, didorong belanja pegawai, pembayaran THR, serta belanja program pemerintah.

Pada sisi ketenagakerjaan, jumlah pengangguran per Februari 2026 tercatat sebanyak 7,24 juta orang, turun sekitar 35 ribu dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Total angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang, dengan jumlah penduduk bekerja sebesar 147,67 juta orang.

Namun demikian, BPS mencatat adanya penurunan proporsi pekerja formal menjadi 40,58 persen, yang menunjukkan tantangan struktural di pasar tenaga kerja masih perlu menjadi perhatian pemerintah.ssc/mn



BACA JUGA