Rabu, 06/05/2026 10:19 WIB

Satu Meninggal Dunia, Malam yang Runtuh di Sungai Landia: Ketika Hujan Mengubur Rumah dan Harapan

 Longsor melanda kawasan Bukit Indah, Jorong Baruah, Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Selasa (5/5/2026) malam. Foto tvrisumbar.co.id

Longsor melanda kawasan Bukit Indah, Jorong Baruah, Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Selasa (5/5/2026) malam. Foto tvrisumbar.co.id

Sungai Landia, sumbarsatu.com—Malam pekat, kalam kujuik di Sungai Landia itu mestinya seperti biasa, dingin yang turun perlahan dari perbukitan, suara serangga yang bersahutan, dan lampu-lampu rumah yang temaram di kaki bukit. Tapi Selasa malam, 5 Mei 2026, hujan datang dengan cara yang berbeda—lebih deras, lebih lama, seperti tak ingin berhenti. Air mencoroh kencang seperti ditumpahkan dari langit.

Sekitar pukul 11 malam, ketika sebagian warga sudah terlelap, tanah di lereng dekat Mushalla Al Mubarak Simanciah Jorong Kampuang Baruah Nagari Sungai Landia, Agam, Sumatera Barat,  tak lagi mampu menahan beban air. Dalam hitungan detik, perbukitan itu runtuh. Suaranya memecah malam—gemuruh panjang yang diikuti jerit dan dentuman.

Material longsor meluncur deras, menghantam rumah-rumah di bawahnya. Tiga rumah tertimbun. Tujuh orang berada di dalamnya. Di tengah hujan yang belum reda, warga berlarian keluar. Sebagian menggali dengan tangan kosong, sebagian lagi berteriak memanggil nama keluarga yang tertimbun. Tak ada yang benar-benar siap menghadapi malam seperti itu.

Tak lama, masyarakat berdatangan kendati hujan belum reda. Mereka kuyup. Sanak saudara mereka ada dalam timbunan material tanah berlumpur. Berselang sekian puluh menit, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, hingga relawan berdatangan. Lampu sorot dinyalakan, menembus gelap dan hujan. Tanah yang masih labil membuat setiap langkah terasa berisiko. Namun waktu tak memberi pilihan—di bawah timbunan itu, nyawa sedang dipertaruhkan.

Satu per satu korban berhasil ditemukan. Enam orang selamat, meski luka-luka. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit, tubuh mereka dingin dan penuh lumpur, tetapi masih bernapas. Namun satu nama tak kunjung muncul dari reruntuhan. Namanya Awal, 55 tahun.

Pria paruh baya itu masih tertimbun di bawah material tanah dan puing rumahnya. Pencarian berlangsung berjam-jam, di antara kelelahan dan harap yang kian menipis. Hingga akhirnya, menjelang subuh—sekitar pukul 03.50 WIB—tim menemukan tubuhnya. Ia sudah tak bernyawa. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Di saat fajar mulai menyingsing di Sungai Landia, duka itu menjadi nyata. Tangis pecah di antara warga. Sebuah keluarga kehilangan, sebuah kampung berduka.

Di lokasi kejadian, jejak longsor terlihat jelas: lereng yang terbelah, rumah yang rata dengan tanah, dan sisa-sisa kehidupan yang tertinggal—perabot, pakaian, dan kenangan yang tak sempat diselamatkan.

Tim SAR menyelesaikan evakuasi menjelang pagi. Setelah seluruh korban ditemukan, operasi resmi ditutup. Personel kembali ke satuan masing-masing, meninggalkan kampung yang masih diselimuti trauma. Namun bagi warga Sungai Landia, peristiwa itu tak selesai begitu saja.

Hujan masih akan turun di hari-hari berikutnya. Bukit-bukit tetap berdiri di sekeliling mereka. Dan di setiap rintiknya, kini terselip kecemasan—tentang tanah yang bisa kembali runtuh, tentang malam yang mungkin tak lagi benar-benar tenang.

Bencana itu bukan hanya merenggut satu nyawa. Ia juga mengubah cara sebuah kampung memandang langit.

Untuk sementara jalur Jalan Provinsi Bukittinggi-Lubuak Basuang-Maninjau via Sungai Landia ditutup, dan dialihkan ke Jalan Kabupaten via Nagari Sianok-Kampung Pisang-Panta.ssc/mn

BACA JUGA