SANTIKA SYNTHESIS 2026: UNP Tegaskan Arah Baru Pembelajaran Sosiologi

Rabu, 06/05/2026 09:02 WIB
dead

dead

Padang, sumbarsatu.com — Dua pakar Sosiologi Universitas Negeri Padang (UNP) menegaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sosiologi tidak lagi dapat dipahami sebagai ujian berbasis hafalan, melainkan sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dalam membaca realitas sosial.

Pandangan tersebut mengemuka dalam kegiatan SANTIKA SYNTHESIS 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial UNP, Selasa (5/5/2026).

Dua akademisi yang menjadi pemakalah adalah Kepala Departemen Sosiologi UNP, Dr. Delmira Syafrini, S.Sos., M.A., dan Guru Besar Sosiologi UNP, Prof. Dr. Erianjoni, S.Sos., M.Si. Keduanya menekankan bahwa TKA Sosiologi kini menuntut kemampuan analisis, bukan sekadar penguasaan definisi.

Dalam makalahnya berjudul “Optimalisasi Tes Potensi Akademik (TKA) Sosiologi sebagai Instrumen Penguatan Critical Thinking Siswa: Tantangan dan Strategi Guru dalam Mendukung Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)”, Delmira menjelaskan bahwa TKA dirancang untuk mengukur pemahaman konsep sekaligus kemampuan siswa menganalisis fenomena sosial.

“Peserta didik tidak cukup hanya mengenali konsep, tetapi harus mampu membaca realitas sosial, memahami dinamika masyarakat, serta mengembangkan kepekaan terhadap persoalan sosial,” ujarnya.

Menurut Delmira, bentuk soal TKA Sosiologi juga mengalami perkembangan signifikan. Selain pilihan ganda konvensional, kini hadir model soal kompleks seperti multiple choice multiple answers (MCMA) dan kategori, yang menuntut ketelitian serta kemampuan membaca kasus secara mendalam.

Ia menegaskan, kondisi tersebut mengharuskan guru mengubah pendekatan pembelajaran. “Guru perlu menyederhanakan konsep, membuat peta konsep, mengenalkan kata kunci, serta melatih siswa melalui soal berbasis kasus,” katanya.

Delmira juga menawarkan tiga langkah membaca soal, yakni mengidentifikasi fenomena sosial, menentukan konsep utama, dan mencocokkan jawaban dengan pilihan yang paling relevan.

Sementara itu, Prof. Erianjoni dalam makalah “Analisis Soal TKA Sosiologi SMA” menyoroti perubahan karakter soal yang semakin menekankan penalaran.

Menurutnya, tantangan TKA tidak hanya terletak pada kesiapan siswa, tetapi juga kesiapan guru dan sekolah dalam menggeser pola pembelajaran dari hafalan menuju pemahaman konseptual.

“Materi TKA kini berfokus pada analisis fenomena sosial seperti konflik, perubahan sosial, struktur masyarakat, globalisasi, hingga dampak teknologi terhadap perilaku sosial,” ujarnya.

Erianjoni menambahkan, pemahaman terhadap hakikat sosiologi sebagai ilmu juga menjadi kunci. Siswa perlu memahami bahwa sosiologi bersifat empiris, teoritis, kumulatif, dan non-etis agar mampu membedakan antara fakta sosial dan opini pribadi.

Kegiatan SANTIKA SYNTHESIS 2026 mengusung tema “Write The Vision, Draw The Reality” dan diikuti 531 peserta olimpiade sosiologi tingkat SMA/sederajat dari 89 sekolah di 17 provinsi. Selain itu, kompetisi tingkat mahasiswa berupa esai dan video dokumenter diikuti 41 peserta dari 11 provinsi.

Ketua pelaksana, Aufa Raihan, menyebut kegiatan ini sebagai ruang kolaborasi nasional antara pelajar dan mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis di bidang sosial.

“Kami ingin menjadikan sosiologi tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai alat membaca realitas dan memahami masyarakat,” ujarnya.

Selain seminar, kegiatan ini juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara UNP dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumbar, serta MGMP Sosiologi kabupaten/kota se-Sumatera Barat.

Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat ekosistem pendidikan ilmu sosial, khususnya dalam menyiapkan siswa menghadapi pembelajaran dan asesmen berbasis penalaran di masa depan. ssc/rel



BACA JUGA