yang
Jakarta, sumbarsatu.com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menjalar ke dalam negeri. Dunia usaha di Indonesia merasakan tekanan yang kian nyata, terutama dari lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani mengungkapkan, Jumat (28/3/2026) kenaikan harga minyak menjadi faktor paling cepat memukul biaya produksi. Dampaknya merambat ke sektor energi dan logistik, serta mulai menekan harga bahan baku impor.
Meski tekanan meningkat, pelaku usaha masih berupaya menahan kenaikan harga produk, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Erwin Aksa menilai sektor berbasis energi menjadi yang paling cepat terdampak. Sementara sektor manufaktur dan ritel diperkirakan baru akan merasakan efek lanjutan dalam satu hingga dua bulan ke depan, seiring naiknya biaya produksi dan tergerusnya margin usaha.
Ia mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan energi, memastikan subsidi tepat sasaran—khususnya bagi sektor produktif—serta menyiapkan stimulus bagi sektor yang paling terdampak.
Ketidakpastian Selat Hormuz
Di sisi lain, ketegangan kawasan juga berdampak pada jalur distribusi energi global. Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyebut pihaknya masih bernegosiasi agar dua tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan proses diplomasi masih berlangsung dan harus melalui antrean panjang bersama negara lain.
Iran sendiri telah membuka akses terbatas bagi tanker dari negara-negara yang dianggap bersahabat dan tidak mendukung agresi Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut sejumlah negara seperti China, Rusia, India, Irak, Pakistan, dan Bangladesh telah mendapat izin, disusul Malaysia dan Thailand.
Optimisme vs Realitas Pertumbuhan
Di tengah tekanan global, pemerintah tetap menunjukkan optimisme. Menteri Keuangan Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 dapat mencapai 5,5 hingga 5,7 persen.
Optimisme ini ditopang oleh peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri, serta dorongan belanja pemerintah. Pemerintah juga mengandalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, termasuk belanja negara yang agresif dan suku bunga yang akomodatif untuk menjaga momentum ekonomi.
Namun, pandangan lebih konservatif datang dari Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Ia memperkirakan pertumbuhan hanya berada di kisaran 5,1 hingga 5,2 persen.
Menurutnya, eskalasi konflik Timur Tengah menjadi faktor penghambat utama. Selain itu, perlambatan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) serta kinerja ekspor bersih turut menahan laju pertumbuhan.
Daya Tahan Ekonomi Diuji
Kondisi ini menggambarkan tarik-menarik antara optimisme domestik dan tekanan global. Konsumsi rumah tangga memang masih menjadi penopang utama, namun risiko dari luar negeri—terutama energi dan geopolitik—membuat fondasi pertumbuhan tetap rentan.
Dalam situasi ini, ketepatan kebijakan pemerintah dan daya tahan dunia usaha akan menjadi penentu apakah ekonomi Indonesia mampu menjaga stabilitas di tengah badai global.ssc/mn
