Dari Lapangan ke Lembar Cerita: Legenda Sepak Bola Kelvin Templeton Kini Jadi Novelis

Minggu, 22/03/2026 08:29 WIB
Kelvin Templeton dengan novel debutnya, Collision. ( ABC News: Rachael Lucas )

Kelvin Templeton dengan novel debutnya, Collision. ( ABC News: Rachael Lucas )

Melbourne, sumbarsatu.com-- Legenda sepak bola Australia, Kelvin Templeton, mengangkat pengalaman keras era VFL tahun 1970-an sebagai inspirasi dalam novel debutnya berjudul Collision. Kisah ini merefleksikan dunia sepak bola masa lalu yang dikenal “liar dan berbahaya”, sekaligus menyoroti sisi kemanusiaan para pemain di balik kerasnya kompetisi.

Templeton, yang pernah membela Footscray Football Club (kini Western Bulldogs) dan Melbourne Football Club pada 1970–1980-an, memiliki karier gemilang. Ia meraih Medali Brownlow 1980 sebagai pemain terbaik dan teradil, serta dua kali memenangkan Medali Coleman pada 1978 dan 1979 sebagai pencetak gol terbanyak. Selama membela Footscray, ia mencetak hampir 500 gol sebelum menutup kariernya bersama Melbourne.

Setelah pensiun, ia sempat menjabat sebagai kepala eksekutif Sydney Swans dan pada 2024 masuk dalam Australian Football Hall of Fame. Kini, di usia 69 tahun, ia menapaki dunia kepenulisan.

Tumbuh di Tyers, Victoria, Templeton mengenang sepak bola era 1970-an sebagai permainan yang sangat fisik, bahkan kerap diwarnai kekerasan. Lapangan berlumpur, loyalitas lokal yang kuat, hingga perkelahian antarpemain menjadi hal lumrah saat itu.

Ia juga mengingat sejumlah rekan yang mengalami cedera serius, seperti Neil Sachse yang mengalami kelumpuhan, serta kasus cedera lain yang meninggalkan dampak jangka panjang.

"Pengalaman inilah yang kemudian dituangkan dalam Collision, sebuah novel yang mengikuti kisah fiksi Joshua “Clover” Shamrock, pemain muda berbakat yang kariernya hancur akibat cedera. Karakter ini digambarkan harus menghadapi krisis identitas setelah kehilangan dunia yang selama ini membentuk dirinyam" kata Templeton.

"enulisan novel ini lebih menekankan pada emosi dibanding fakta autobiografis. Ia menyebut kisah tersebut sebagai perjalanan transformasi, yang menggambarkan bagaimana ketangguhan dan sikap pantang menyerah—yang berguna di lapangan—justru bisa menjadi bumerang dalam kehidupan pribadi.

Templeton juga membandingkan sepak bola masa lalu dengan kondisi modern. Ia menilai permainan kini lebih cepat dan profesional, dengan dukungan yang lebih baik terhadap kesehatan mental pemain. Jika dahulu pemain dituntut “tabah” dan menutup emosi, kini mereka justru diberi ruang untuk beristirahat dan memulihkan diri secara psikologis.

Melalui Collision, Templeton tidak hanya mengisahkan kerasnya sepak bola era lama, tetapi juga mengajak pembaca memahami sisi rapuh di balik maskulinitas dan tekanan yang dihadapi para atlet.

Sumber: https://www.abc.net.au/

Lebaran

BACA JUGA