maha
Tanah Datar, sumbarsatu.com— Kerusakan jalan provinsi di Kabupaten Tanah Datar kembali memakan korban jiwa. Seorang mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester VII UIN Mahmud Yunus Batusangkar meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas saat menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).
Tragedi ini memicu aksi unjuk rasa mahasiswa yang menuntut Pemerintah Provinsi Sumatra Barat segera bertanggung jawab atas buruknya infrastruktur jalan.
Aksi tersebut digelar oleh Gerakan Mahasiswa Peduli Tanah Datar pada Jumat, 30 Januari 2026, sebagai bentuk protes atas kondisi jalan provinsi yang rusak parah dan dinilai telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
Selain menyuarakan tuntutan perbaikan jalan, aksi ini juga menjadi ruang duka dan solidaritas untuk mengenang mahasiswi yang meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu pagi, 8 November 2025, ketika korban hendak berangkat ke MTsN 1 Tanah Datar, lokasi PPL yang sedang dijalaninya. Saat melintasi ruas jalan provinsi di wilayah Tanah Datar, korban tidak dapat menghindari lubang di badan jalan yang rusak parah. Kendaraannya kehilangan kendali dan korban terjatuh ke arah truk yang sedang melintas. Korban meninggal dunia di lokasi kejadian.
Bagi mahasiswa, kematian tersebut menjadi bukti bahwa persoalan jalan rusak di Tanah Datar bukan sekadar keluhan infrastruktur, melainkan soal keselamatan dan nyawa manusia. Mereka menilai pembiaran terhadap kondisi jalan provinsi sama artinya dengan membiarkan potensi kecelakaan terus berulang.
Aksi unjuk rasa dimulai dari Rumah Perjuangan Piliang dan bergerak menuju Simpang Padang Siminyak sebagai titik utama aksi. Massa aksi mendapat pengawalan dari Patwal Kepolisian Resor Tanah Datar, Satpol PP, serta aparat kepolisian, sehingga kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.
Dalam orasinya, Presiden Mahasiswa UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Muhammad Yandra, menegaskan bahwa Kabupaten Tanah Datar tidak boleh diperlakukan sebagai wilayah pinggiran dalam pembangunan infrastruktur provinsi.
“Kabupaten Tanah Datar bukan anak tiri dari Provinsi Sumatra Barat. Kecelakaan yang merenggut nyawa rekan kami menunjukkan bahwa jalan provinsi ini sudah seharusnya diperbaiki. Jangan tunggu korban berikutnya,” tegasnya.
Sebagai bentuk duka dan solidaritas, massa aksi menabur bunga di titik kecelakaan tempat mahasiswi tersebut meninggal dunia. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama.
Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Peduli Tanah Datar, Imam Toelis, menyampaikan ultimatum kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Barat. Ia mendesak agar tuntutan mahasiswa segera ditindaklanjuti.
“Jika dalam waktu 1×7 hari tidak ada langkah nyata dari Gubernur Sumatra Barat, kami akan memblokade jalan ini sebagai bentuk perlawanan,” ujarnya.
Aksi tersebut berlangsung damai dan tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Gerakan Mahasiswa Peduli Tanah Datar menyatakan akan menindaklanjuti aksi ini melalui surat audiensi kepada Gubernur Sumatra Barat dengan tembusan kepada Bupati Tanah Datar.ssc/rel