Makin Kesini, Makin Kesana! RIP Apresiasi Drama di UPGRISBA

Kamis, 29/01/2026 18:00 WIB
ged

ged

OLEH Irawan Winata--Alumni UPGRISBA & Praktisi Seni

SEKOLAH Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI yang kini bertransformasi menjadi Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) tampak kian kehilangan “kuku” dalam dunia perteateran di Sumatera Barat.

Institusi yang dahulu produktif melahirkan seniman-seniman muda berbakat melalui mata kuliah Apresiasi dan Telaah Drama Indonesia kini justru menenggelamkan potensi tersebut atas nama pembaruan.

Situasi ini patut disayangkan. Ketika perguruan tinggi lain di Sumatera Barat berlomba menghadirkan panggung dan membuka ruang kreatif bagi mahasiswa, UPGRISBA justru seolah memotong kukunya sendiri agar terlihat rapi dan manis.

Dampaknya nyata: batas imajinasi menyempit, daya kritis mahasiswa tereduksi, dan kampus terancam mencetak calon guru yang miskin kreativitas serta inovasi.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan mahasiswa. Para dosen pengampu pun seperti dipaksa menyimpan pengetahuannya di dalam lemari besi—terkunci bersama pengalaman, emosi, dan konflik dramatik yang sejatinya penting sebagai media pembelajaran.

Mahasiswa kehilangan ruang belajar teater, kehilangan pengalaman mengelola proses dan waktu, kehilangan kepekaan rasa, serta kehilangan kemampuan memahami karakter manusia—kompetensi yang justru krusial dalam praktik pendidikan.

Pertanyaannya, apakah UPGRISBA sedang menyesuaikan rencana studi? Apakah mata kuliah drama dianggap tidak lagi relevan? Jika demikian, di mana letak efisiensi dan urgensinya? Ataukah penghapusan ini semata-mata konsekuensi teknokratis dari pembaruan kurikulum?

UPGRISBA tampak kehilangan tanggung jawab moralnya. Perubahan status dari STKIP menjadi universitas seharusnya memperkuat daya saing pengkaryaan dan pengembangan keilmuan, bukan justru menjauh dari kerja keras, tradisi, dan prestasi yang telah dibangun bertahun-tahun.

“Makin ke sini, makin ke sana!”

Sastra mencakup novel, puisi, dan drama. Jika drama—yang bermuara pada praktik pertunjukan teater—dihilangkan, maka Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia setidaknya wajib menghadirkan kompensasi akademik yang setara. Misalnya, dengan mendorong lahirnya penulis puisi atau novel yang karyanya dibukukan dan dipasarkan secara profesional, sebagaimana manajemen teater yang dahulu pernah hidup dan berjaya di kampus ini.

Tujuan pembelajaran sastra adalah meningkatkan kemampuan berbahasa, mengasah analisis, menumbuhkan daya pikir kritis, serta memperdalam pemahaman budaya. Sastra merupakan medium ekspresi pikiran dan perasaan. Ketika salah satu pilarnya dihilangkan, mahasiswa kehilangan esensi pembelajaran itu sendiri.

Tulisan ini lahir sebagai buah cinta terhadap Bahasa Indonesia dan dunia pendidikan. Semoga dengan “perginya” mata kuliah drama, kampus benar-benar mampu melahirkan penulis-penulis berbakat sebagai pengganti. Jika tidak, maka yang patut diucapkan hanyalah: selamat jalan kreativitas.

RIP Drama.*



BACA JUGA