Fadli Zon Resmikan Reaktivasi Gedung Abdullah Kamil, Dorong Jadi Pusat Pemikiran Kebudayaan Minangkabau

Jum'at, 23/01/2026 23:27 WIB

Menteri Fadli Zon menandatangani prasasti peresmian reaktivasig Gedung Abdullah Kamil tampak mendampingi Wali Kota Padang Fadly Amran, Ketua Pengurus Yayasan Genta Budaya Weno Aulia, Direktur Sarana dan Prasarana Kementerian Kebudayaan RI Feri Arlius, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Syaiful Bahri dan lainnya Jumat (23/1/2026).foto ika

Menteri Fadli Zon menandatangani prasasti peresmian reaktivasig Gedung Abdullah Kamil tampak mendampingi Wali Kota Padang Fadly Amran, Ketua Pengurus Yayasan Genta Budaya Weno Aulia, Direktur Sarana dan Prasarana Kementerian Kebudayaan RI Feri Arlius, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Syaiful Bahri dan lainnya Jumat (23/1/2026).foto ika

 Padang, sumbarsatu.com — Upaya menghidupkan kembali Gedung Abdullah Kamil Genta Budaya di Kota Padang menandai fase penting dalam perjalanan kebudayaan Sumatera Barat. Kehadiran gedung itu kembali bukan sekadar renovasi bangunan semata. 

Reaktivasi gedung yang dikelola Yayasan Genta Budaya ini merupakan upaya memulihkan ruang ingatan, ruang ekspresi, sekaligus ruang dialog kebudayaan Minangkabau yang sempat terhenti akibat gempa bumi besar lebih dari satu dekade silam.

Gedung Abdullah Kamil bukan bangunan biasa. Ia lahir dari gagasan tentang pentingnya ruang kebudayaan sebagai fondasi peradaban. Dalam sejarahnya, gedung ini dirancang sebagai pusat pertemuan seni, pemikiran, dan pendidikan budaya Minangkabau. Namun gempa bumi yang melanda Sumatera Barat pada 2007 dan 2009 memutus denyut aktivitas itu, meninggalkan bangunan rusak dan ruang budaya yang nyaris sunyi.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa kebangkitan kembali Gedung Abdullah Kamil harus dibaca sebagai bagian dari agenda besar pemajuan kebudayaan nasional yang bertumpu pada kekuatan lokal.

Ia menilai, gedung ini memiliki peran strategis sebagai pusat kebudayaan regional yang mampu menjembatani tradisi, pengetahuan, dan praktik seni kontemporer.

“Walaupun belum seratus persen rampung, kita berharap gedung ini kembali menjadi pusat budaya, pusat edukasi, pusat belajar, sekaligus menggerakkan kemajuan kebudayaan, mulai dari tradisi, riset kebudayaan, seni pertunjukan, film, hingga pemikiran-pemikiran kebudayaan,” ujar Fadli Zon saat meresmikan reaktivasi Gedung Abdullah Kamil Genta Budaya, Jumat (23/1/2026), di Jalan Diponegoro, Padang.

Pernyataan tersebut menempatkan Gedung Abdullah Kamil bukan hanya sebagai ruang aktivitas seni, tetapi sebagai ekosistem pengetahuan kebudayaan.

Fadli Zon menekankan pentingnya kehadiran ruang yang memungkinkan dialog lintas disiplin antara seniman, peneliti, akademisi, budayawan, dan komunitas agar kebudayaan tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu, melainkan tumbuh sebagai praktik hidup yang relevan dengan perubahan zaman.

Menurutnya, keberhasilan sebuah gedung kebudayaan tidak diukur dari kemegahan fisik semata, tetapi dari intensitas gagasan dan perjumpaan yang terjadi di dalamnya. Karena itu, ia mendorong agar pemanfaatan Gedung Abdullah Kamil dioptimalkan oleh komunitas budaya, khususnya di Kota Padang dan wilayah sekitarnya.

“Gedung ini harus menjadi ruang berkegiatan bersama, tempat komunitas budaya tumbuh, berjejaring, dan berkolaborasi dalam memajukan kebudayaan,” katanya.

Gedung Abdullah Kamil berada di bawah naungan Yayasan Genta Budaya, lembaga kebudayaan yang didirikan pada 1988 dengan fokus utama pada pelestarian dan pengembangan seni budaya Minangkabau, serta gagasan. Sejak awal berdirinya, yayasan ini memposisikan diri sebagai ruang independen bagi ekspresi seni, diskusi intelektual, pengarsipan, serta pengembangan pengetahuan kebudayaan lokal.

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Genta Budaya, Weno Aulia, menjelaskan bahwa gedung tersebut merupakan gagasan almarhum Haji Abdullah Kamil, diplomat senior asal Minangkabau yang memiliki perhatian mendalam terhadap kebudayaan dan pendidikan. Bagi Abdullah Kamil, keberadaan gedung kebudayaan adalah syarat penting bagi keberlanjutan identitas dan daya hidup masyarakat.

“Gedung Abdullah Kamil merupakan gedung kebudayaan yang digagas oleh diplomat senior asal Minangkabau, almarhum Haji Abdullah Kamil,” ujar Weno.

Pembangunan gedung ini memiliki nilai historis yang kuat. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 13 Agustus 1988 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Hasan Basri Durin. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 7 Maret 1992, gedung ini diresmikan oleh Presiden Soeharto. Momentum tersebut menegaskan komitmen negara terhadap pengembangan kebudayaan daerah sebagai bagian dari identitas nasional.

Namun perjalanan Gedung Abdullah Kamil tidak selalu berjalan mulus. Gempa bumi besar yang mengguncang Sumatera Barat pada 2007 dan 2009 menyebabkan kerusakan serius pada bangunan tersebut. Weno Aulia menjelaskan, kerusakan paling berat terjadi pada bagian utara gedung, yang mengalami retak struktural dan kebocoran parah, sehingga tidak lagi layak digunakan untuk aktivitas publik.

“Kerusakan paling berat terjadi pada bagian utara bangunan. Kondisinya tidak memungkinkan untuk digunakan, sehingga gedung ini sempat tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” jelas Weno.

Kerusakan tersebut membuat Gedung Abdullah Kamil perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang kebudayaan. Aktivitas seni dan diskusi yang sebelumnya rutin digelar terhenti. Sementara bangunan dibiarkan terbengkalai akibat keterbatasan sumber daya untuk melakukan renovasi menyeluruh. Dalam kurun waktu tersebut, ruang kebudayaan Minangkabau kehilangan salah satu simpul pentingnya.

Revitalisasi yang kini dilakukan menjadi titik balik bagi Yayasan Genta Budaya. Renovasi fisik gedung disertai dengan upaya aktivasi programatik, yakni mengembalikan fungsi gedung sebagai ruang hidup kebudayaan. Weno menilai, dukungan Kementerian Kebudayaan, khususnya dari Menteri Fadli Zon, menjadi momentum penting dalam proses reitalisasi dan reaktivasi gedung ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Fadli Zon yang telah merenovasi sekaligus mengaktivasi kembali gedung ini,” terangnya.

Ia menegaskan, tantangan terbesar ke depan bukan hanya menyelesaikan pembangunan fisik, tetapi memastikan keberlanjutan fungsi gedung melalui program-program kebudayaan yang konsisten dan terbuka.

"Gedung Abdullah Kamil diharapkan menjadi rumah bersama bagi berbagai komunitas seni dan budaya, mulai dari seni pertunjukan, sastra, film, hingga riset dan diskursus kebudayaan," tambah anak Hasan Basri Durin ini.

Komitmen terhadap keberlanjutan gedung ini juga disampaikan oleh Sekretaris Yayasan Genta Budaya, Edy Utama. Ia menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda agar Gedung Abdullah Kamil tidak hanya menjadi monumen masa lalu, tetapi juga laboratorium masa depan kebudayaan Minangkabau—tempat lahirnya gagasan baru dan praktik kebudayaan yang kritis.

Reaktivasi Gedung Abdullah Kamil turut mendapat dukungan Pemerintah Kota Padang. Wali Kota Padang, Fadly Amran, yang mendampingi Menteri Kebudayaan dalam peresmian tersebut, menyatakan komitmennya untuk mendukung eksistensi gedung ke depan, termasuk melalui penataan lanskap dan taman di halaman gedung agar lebih representatif sebagai ruang publik budaya.

Acara peresmian reaktivasi Gedung Abdullah Kamil dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, antara lain Fasli Jalal selaku Ketua Diaspora Minangkabau dan Pembina Yayasan Genta Budaya, ulama Buya Masoed Abidin, sastrawan Taufiq Ismail, serta tokoh-tokoh Sumatera Barat seperti Wery Darta Taifur, Hasril Chaniago, Raudha Thaib, Sheiful Yazan, dan Pri Gustari selaku Direktur Utama PT Semen Padang, Khairul Jasmi, dan lainnya. Hadir pula kalangan akademisi, seniman, dan budayawan, serta jajaran pengurus Yayasan Genta Budaya.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menandatangani prasasti peresmian reaktiasi Gedung Abdullah Kamil, didampingi Wali Kota Padang Fadly Amran, Ketua Yayasan Genta Budaya Weno Aulia, Direktur Sarana dan Prasarana Kementerian Kebudayaan RI Feri Arlius, serta Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Syaiful Bahri.

Dengan kembali diaktifkannya Gedung Abdullah Kamil, harapan besar disematkan pada bangunan ini sebagai pusat edukasi, produksi seni, dan pemikiran kebudayaan.

Lebih dari sekadar renovasi fisik, revitalisasi ini menjadi upaya memulihkan ingatan kolektif, menguatkan identitas budaya, dan membuka ruang dialog bagi perkembangan kebudayaan Minangkabau yang berkelanjutan di Sumatera Barat.ssc/mn



BACA JUGA