Femisida Meningkat, JPP Sumbar Bangun Mimbar Perlawanan Lewat Seni dan Diskusi Publik

Sabtu, 14/03/2026 13:38 WIB
jpp2

jpp2

Padang, sumbarsatu.com— Jaringan Peduli Perempuan Sumatera Barat (JPP) menggelar kegiatan bertajuk “Sadar Kesetaraan: Membongkar Akar Kekerasan dan Femisida” dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) 2026. Agenda ini berlangsung pada Jumat (13/32026) di lantai satu gedung terbengkalai Taman Budaya Sumatera Barat, Kota Padang.

Kegiatan tersebut digelar sebagai respons atas meningkatnya kasus kekerasan seksual dan femisida di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat. Acara ini dirancang sebagai ruang aman sekaligus mimbar perlawanan yang memadukan diskusi kebijakan, literasi publik, dan pertunjukan seni dari berbagai komunitas.

Perwakilan JPP, Anisa Hamda, mengatakan kegiatan ini penting dilakukan mengingat kekerasan terhadap perempuan kini telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data SIMFONI PPA dan Komnas Perempuan periode 2024–2025, tercatat lebih dari 12.000 korban kekerasan seksual secara nasional.

Selain itu, terdapat peningkatan kasus femisida—pembunuhan terhadap perempuan karena identitas gendernya—yang mencapai sekitar 290 kasus secara nasional. Di Sumatera Barat sendiri, LBH Padang mencatat sedikitnya empat kasus femisida pada periode yang sama.

“Kegiatan ini dilakukan untuk membongkar normalisasi kekerasan yang selama ini tersembunyi di balik tembok domestik maupun stigma sosial. Tujuan utama kami adalah mengonsolidasi kekuatan masyarakat sipil, mengedukasi publik tentang bahaya ketimpangan yang melahirkan femisida, serta mendesak negara agar memberikan perlindungan substantif bagi perempuan,” ujar Anisa.

Menurutnya, peringatan IWD tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Momentum ini harus menjadi gerakan nyata untuk merebut kembali ruang hidup yang aman bagi perempuan di berbagai sektor kehidupan.

Anisa menambahkan, JPP berharap kegiatan tersebut mampu membangun kesadaran kolektif yang lebih luas di tengah masyarakat Sumatera Barat. Harapan lainnya adalah terbentuknya sistem dukungan bagi para penyintas, berkurangnya praktik victim blaming, serta lahirnya kebijakan perlindungan yang lebih responsif di tingkat lokal maupun nasional.

“Kami berharap setiap individu yang hadir membawa pulang semangat untuk tidak lagi berkompromi dengan kekerasan dalam bentuk sekecil apa pun. Nyawa dan martabat perempuan bukanlah sekadar statistik, tetapi hak asasi yang harus dijaga bersama,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Caak dari Sekolah Gender Sumatera Barat. Ia menilai peringatan Hari Perempuan Internasional bukan hanya momentum merayakan pencapaian perempuan, tetapi juga pengingat atas berbagai tantangan serius yang masih dihadapi perempuan di seluruh dunia.

“Di tengah semangat perayaan IWD, meningkatnya kasus kekerasan seksual dan femisida harus menjadi perhatian kita semua. Masih banyak perempuan yang hidup dalam ancaman kekerasan hanya karena identitas gender mereka,” ujarnya.

Menurut Caak, perjuangan menuju kesetaraan gender belum selesai. Karena itu, momentum ini harus dimaknai sebagai panggilan bersama untuk memperkuat komitmen dalam melindungi perempuan, memperjuangkan keadilan bagi korban, serta mendorong lahirnya sistem sosial dan hukum yang lebih tegas dalam mencegah kekerasan berbasis gender.

Kegiatan dimulai sejak pukul 16.00 WIB dengan rangkaian agenda pembuka yang bersifat inklusif. Publik yang hadir disambut dengan Lapak Baca dari Extinction Rebellion Padang dan Pojok Literasi Rakyat. Selain itu, tersedia sesi art therapy dari Dangau Studio, serta Bilik Aman yang dikelola bersama oleh PHP Unand dan LBH Padang sebagai ruang konseling privat bagi pengunjung.

Panitia juga menghadirkan Pos Kesehatan Gratis hasil kolaborasi antara Poltekkes dan Sekolah Gender Sumbar, serta pameran isu kekerasan seksual yang menampilkan karya dari PHP Unand, Sekolah Gender Sumbar, dan Dangau Studio.

Memasuki sore hari, suasana kegiatan diperkuat dengan penampilan musik akustik oleh Rahma dan Ishalul. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi publik yang dipandu oleh Zasgia Nuraini Putri dari PHP Unand.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber lintas sektor, di antaranya akademisi sosiologi Erianjoni, aktivis perempuan dari Pelita Padang Ais, serta aktivis HAM dari LBH Padang Alfi Syukri. Para narasumber membahas berbagai aspek femisida, mulai dari akar sosiologis kekerasan terhadap perempuan, gerakan masyarakat sipil, hingga strategi bantuan hukum struktural bagi korban di Sumatera Barat.

Menjelang dan setelah waktu berbuka puasa, panggung kegiatan diisi dengan berbagai ekspresi solidaritas, seperti pembacaan puisi oleh Mak Uniang, Armunadi, Jep, dan Bima dari UIN Imam Bonjol Padang, serta pertunjukan monolog oleh Raja dan Tatira. Acara juga diwarnai dengan pertunjukan musik solo dan akustik yang menghadirkan Rahma dan Salsabila.

Perwakilan Extinction Rebellion Padang, MHD Abdul Afwan, menilai kolaborasi berbagai komunitas dalam kegiatan tersebut berhasil menciptakan ruang solidaritas yang kuat.

“Ruang aman yang dihidupkan JPP melalui seni, literasi, dan diskusi hari ini sangat penting dan patut direplikasi. Konsolidasi ini mengingatkan kita bahwa eksploitasi terhadap tubuh perempuan dan perampasan ruang hidup berasal dari sistem ketimpangan yang sama. Perjuangan merebut kembali kedaulatan atas tubuh dan tanah adalah satu napas solidaritas yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Afwan.ssc/rel



BACA JUGA