Oleh Dr. Lismomon Nata, S.Pd.,M.Si (Ketua Tim Kerja Pengembangan Program Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN)
TRANSFORMASI Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) pasca pelantikan Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, menandai satu pesan kebijakan yang sangat jelas: keluarga diletakkan sebagai basis pembangunan nasional. Negara tidak lagi sekadar hadir pada hilir persoalan sosial, tetapi mulai menata fondasi dari unit terkecil dan paling menentukan yaitu keluarga.
Dalam praktik kebijakan publik, khususnya selama satu tahun terakhir, istilah quick win kerap dimaknai secara sempit sebagai capaian cepat yang mudah diukur secara administratif. Padahal, dalam isu kependudukan dan pembangunan keluarga yang bersinggungan langsung dengan relasi, nilai, budaya, dan dinamika sosial, keberhasilan sejati justru diuji oleh daya tahan program dalam kehidupan sehari-hari keluarga Indonesia.
Di titik inilah empat Quick Win yang diluncurkan oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, menemukan makna strategisnya. Keempatnya bukan sekadar rangkaian program prioritas, melainkan upaya menggeser paradigma pembangunan keluarga dari pendekatan programatik menuju pendekatan sosial yang berakar di komunitas.
Empat Quick Win tersebut adalah Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Sidaya (Lansia Berdaya), dan Super Apps. Apabila dibaca secara utuh, membentuk satu benang merah yang kuat, yakninya pendekatan life-cycle yang menyentuh anak, orang tua, lansia, serta diperkuat oleh sistem pendukung digital. Tantangan berikutnya adalah bagaimana desain kebijakan tersebut dapat membumi, kemudian hidup dan tumbuh bersama seluruh masyarakat Indonesia.
Tamasya: Investasi Awal yang Menentukan Arah Generasi
Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) merepresentasikan investasi paling awal dalam siklus kehidupan. Program ini menjawab kebutuhan nyata keluarga urban dan semi-urban, khususnya keluarga pekerja, akan layanan pengasuhan anak yang aman, terjangkau, dan berbasis nilai. Lebih dari itu, Tamasya diarahkan untuk memastikan fase krusial 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) berjalan optimal, sebuah fase yang secara ilmiah terbukti menentukan kualitas sumber daya manusia jangka panjang.
Namun, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa keberlanjutan Tamasya tidak cukup ditopang oleh penyediaan ruang fisik semata. Tanpa penguatan kapasitas pengasuh, standar layanan yang kontekstual, serta keterhubungan dengan ekosistem desa, komunitas, dan dunia usaha, Tamasya berisiko tereduksi menjadi daycare biasa.
Agar benar-benar membumi, Tamasya perlu diposisikan sebagai ekosistem pengasuhan, ruang belajar bersama antara orang tua, pengasuh, dan komunitas. Di sinilah kualitas sumber daya manusia, kompetensi pengasuh, dan nilai pengasuhan menjadi inti perhatian, sementara ruang fisik berfungsi sebagai prasyarat dasar yang aman dan nyaman. Dengan pendekatan ini, Tamasya tidak hanya menjaga anak, tetapi ikut membentuk generasi di masa akan datang.
GATI: Harmonisasi Pengasuhan dan Pendampingan Anak serta Remaja
Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) bergerak pada wilayah yang lebih subtil, namun sangat fundamental, yaitu perubahan budaya. Selama ini cenderung pengasuhan kerap dipersepsikan sebagai ranah ibu, sementara ayah ditempatkan terutama sebagai pencari nafkah. Pada saat yang sama, anak dan remaja sering kali menjalani proses pencarian jati diri tanpa pendampingan yang memadai.
GATI hadir untuk melengkapi konstruksi sosial tersebut, dengan pesan bahwa keterlibatan ayah memiliki dampak nyata terhadap kesehatan mental anak, prestasi belajar, serta ketahanan keluarga. Namun, data dan praktik sosial menunjukkan bahwa perubahan budaya tidak dapat dicapai melalui regulasi atau kampanye simbolik semata.
GATI hanya akan berumur panjang jika hadir dalam bentuk praktik nyata di komunitas, melalui figur ayah teladan, kisah hidup yang autentik, serta ruang partisipasi yang memungkinkan ayah belajar, berbagi, dan tumbuh bersama. Ketika ayah merasa dilibatkan dan dimaknai perannya, GATI bertransformasi dari program pemerintah diharapkan dapat menjadi gerakan sosial. Di titik ini, negara tidak lagi berdiri sebagai pengarah tunggal, melainkan sebagai fasilitator perubahan nilai.
Sidaya: Menyongsong Transisi Demografi dengan Bijak
Sidaya (Lansia Berdaya) menjawab tantangan demografi yang kerap luput dari perhatian jangka pendek. Bonus demografi yang selama ini menjadi narasi utama pembangunan perlahan bergerak menuju realitas aging population. Dalam konteks ini, menggeser paradigma lansia dari “beban” menjadi “aset sosial” merupakan langkah strategis.
Namun, data menunjukkan bahwa lansia bukan kelompok yang homogen. Ada lansia yang masih sehat, produktif, dan ingin berkontribusi; ada pula yang rentan dan membutuhkan perlindungan. Pendekatan seragam dan karitatif justru berpotensi melemahkan tujuan pemberdayaan.
Agar berakar, Sidaya perlu memberi ruang diferensiasi lokal untuk menguatkan lansia produktif melalui aktivitas sosial dan ekonomi berbasis komunitas, sekaligus memastikan lansia rentan mendapatkan dukungan yang bermartabat. Dengan pendekatan ini, Sidaya menjadi investasi sosial jangka panjang yang menyiapkan masyarakat menghadapi transisi demografi secara lebih manusiawi.
Super Apps: Teknologi yang Membantu, Bukan Menggantikan
Di antara tiga quick win berbasis sosial tersebut, Super Apps berperan sebagai enabler. Integrasi data dan layanan melalui teknologi dan kecerdasan buatan (AI) merupakan kebutuhan yang tak terelakkan di era digital. Kecepatan, akurasi, dan kemudahan akses menjadi nilai tambah nyata bagi keluarga dan petugas lapangan.
Namun, tantangan literasi digital, kesenjangan akses, serta isu kepercayaan publik mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh berjalan sendiri. AI yang membumi adalah AI yang memahami konteks lokal, dipercaya masyarakat, dan membantu pengambilan keputusan, bukan menggantikan relasi sosial yang sudah ada. Tanpa empati sosial, Super Apps berisiko menjadi etalase teknologi yang jauh dari realitas keluarga Indonesia.
Dari Quick Win ke Fondasi Pembangunan Kualitas Indonesia
Data dan catatan kritis menunjukkan bahwa keempat quick win ini telah dirancang dengan logika siklus hidup yang kuat dan saling melengkapi. Namun, keberhasilannya tidak ditentukan oleh kecanggihan konsep atau kecepatan peluncuran. Program keberlangusngannya terjaga jika diimplementasikan secara konsisten, adaptif terhadap keragaman lokal, dan tumbuh sebagai gerakan bersama di tingkat komunitas.
Maka daripada itu, dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia, tepatnya keluarga Indonesia menjadi kunci. Dalam konteks inilah makna quick win diuji. Ketika Tamasya, GATI, Sidaya, dan Super Apps mampu berakar dalam praktik sosial masyarakat, ia tidak lagi sekadar capaian cepat. Ia menjelma menjadi fondasi pembangunan keluarga Indonesia, perlahan, membumi, dan berkelanjutan untuk Indonesia maju dan sejahtera.*