Tiyo Ardianto dalam podcast Dialektika Madilog Forum dengan judul “Nyala Api di Jalan Sunyi Perjuangan” yang dipandu Indra J Piliang dan ditayangkan melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (18/2/2026).
Jakarta, sumbarsatu.com — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto Ardianto mengaku menerima berbagai bentuk teror setelah menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, terutama terkait prioritas anggaran dan kasus kematian seorang anak di Nusa Tenggara Timur akibat kemiskinan.
Pengakuan itu disampaikan Tiyo Ardianto dalam podcast Dialektika Madilog Forum dengan judul “Nyala Api di Jalan Sunyi Perjuangan” yang dipandu Indra J Piliang dan ditayangkan melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (18/2/2026).
Dalam perbincangan tersebut, Tiyo Ardianto menegaskan kritik yang ia sampaikan bukan sikap personal, melainkan representasi kelembagaan mahasiswa.
“Hari ini sebagai Ketua BEM UGM kita tidak lagi bicara soal pribadi. Ini sikap lembaga yang saya menjadi juru bicaranya,” ujar Tiyo Ardianto.
Ia menjelaskan kritik bermula dari keprihatinan atas kematian seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu. Peristiwa itu, menurutnya, memperlihatkan ironi prioritas anggaran negara di tengah persoalan akses pendidikan dasar.
Sebagai respons, BEM UGM mengirimkan surat terbuka kepada UNICEF untuk mendorong perhatian terhadap pemenuhan hak anak di Indonesia. Tiyo Ardianto menilai kondisi tersebut kontras dengan besarnya anggaran pemerintah untuk sejumlah program nasional yang dianggap belum sepenuhnya menyasar kebutuhan mendasar masyarakat.
Usai kritik itu disampaikan, Tiyo Ardianto mengaku mengalami tekanan dalam berbagai bentuk. Ia menyebut menerima pesan intimidasi dari nomor tak dikenal, termasuk nomor luar negeri, disertai serangan karakter di media sosial hingga isu negatif yang dinilai merusak reputasinya.
“Kami tidak hanya mendapatkan ancaman penculikan atau serangan karakter, tapi bahkan ancaman pembunuhan,” kata Tiyo Ardianto.
Selain ancaman digital, ia juga mengungkap dugaan penguntitan terhadap dirinya dan sejumlah pengurus BEM UGM, baik di Yogyakarta maupun di kampung halamannya. Meski demikian, Tiyo Ardianto menegaskan tekanan tersebut tidak membuatnya surut.
“Silakan teror saya sebesar apa pun. Selama tidak membunuh lahir dan batin saya, maka saya pastikan setelah itu saya akan lebih kuat,” ujarnya.
Terkait keamanan, Tiyo Ardianto menyebut pimpinan Universitas Gadjah Mada telah menyatakan komitmen melindungi mahasiswa dalam menyampaikan ekspresi akademik. Satuan keamanan kampus disebut diminta berkoordinasi intensif dengannya.
Ia juga mengatakan sejumlah lembaga advokasi hukum dan perlindungan korban telah menjalin komunikasi untuk menindaklanjuti dugaan teror tersebut.
Dalam podcast yang sama, Tiyo Ardianto turut melontarkan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis yang dinilai belum tepat sasaran. Ia menilai penggunaan istilah “gratis” tidak mencerminkan realitas karena program tersebut bersumber dari pajak rakyat. Selain itu, ia juga menyoroti aspek kompetensi kelembagaan dan pentingnya pendekatan berbasis keilmuan dalam kebijakan publik.
Terlepas dari polemik yang muncul, Tiyo Ardianto menegaskan kritik mahasiswa merupakan bagian dari kontrol sosial dalam demokrasi. Ia berharap ruang kebebasan berpendapat tetap terjaga dan tidak dihadapkan pada intimidasi.ssc/mn