Foto Dokumentasi Youtube Musik Kamar
OLEH Renita Sari (Mahasiswa Program Studi Pengkajian Seni Pascasarjana ISI Padang Panjang)
VISUAL mapping panggung Hindia di Synchronize Fest 2023 kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Meski konser tersebut telah berlangsung dua tahun lalu, potongan foto dan cuplikan video penampilannya kembali beredar dan memunculkan tanda tanya publik: apa makna simbol-simbol gelap yang muncul dalam mapping panggung saat Hindia membawakan lagu “Matahari Tenggelam”?
Dalam foto dan video yang viral, tampak figur bertanduk, wajah menyeramkan, serta bentuk yang menyerupai “mulut neraka” terpampang besar di layar LED belakang panggung.
Dominasi warna merah menyala dan komposisi visual yang gelap mengubah suasana panggung dari konser musik biasa menjadi menyerupai adegan ritual yang dramatis. Tak pelak, publik pun terbelah: apakah ini sekadar simbolisme artistik, atau estetika yang telah melampaui batas?
Synchronize Fest memang dikenal dengan produksi panggung yang megah dan eksperimental. Namun visual yang ditampilkan dalam set Hindia—khususnya pada lagu “Matahari Tenggelam”—membuat sebagian penonton terdiam.
Ada yang terpukau, ada pula yang merasa merinding. Menariknya, tidak sedikit warganet yang baru menyadari keberadaan simbol-simbol tersebut setelah foto dan video konsernya kembali beredar tahun ini.
Dalam sejarah seni visual, simbol bertanduk, wajah monster, dan gambaran neraka bukanlah hal baru. Banyak seniman menggunakannya sebagai metafora tentang sisi gelap manusia, konflik batin, atau pergulatan emosional. Namun dalam konteks Indonesia, simbol-simbol semacam ini membawa beban makna sosial dan kultural yang berbeda.
Visual tersebut kerap tidak dibaca sebagai estetika semata, melainkan langsung diasosiasikan dengan hal-hal berbau “iblis”, “dajjal”, atau “pemujaan setan”. Karena itu, tak mengherankan jika visual panggung Hindia kembali memicu perdebatan.
Sebagian menganggapnya sebagai eksplorasi artistik yang sah, sementara yang lain menilai simbolisme tersebut berbahaya karena ditampilkan tanpa konteks yang jelas.
Padahal, secara tematik, lagu “Matahari Tenggelam” berbicara tentang perjalanan batin, kehilangan, dan sisi gelap dalam kehidupan manusia. Secara musikal dan naratif, penggunaan visual bernuansa kelam sebenarnya dapat dipahami dan bahkan berpotensi memperkuat atmosfer lagu. Namun, sebagai pelaku musik, saya menilai visual tersebut justru terasa “kebablasan”. Dalam konser musik, esensi utama seharusnya tetap berada pada lagu dan performa, bukan pada mapping panggung semata.
Alih-alih larut dalam suasana musikal “Matahari Tenggelam”, sebagian penonton justru terdistraksi oleh simbol-simbol gelap di layar LED. Akibatnya, momen musikal yang semestinya menjadi pusat perhatian malah tersisih. Publik lebih mengingat gambarnya daripada lagunya.
Persoalan muncul ketika simbol-simbol itu tampil begitu ekstrem dan literal. Figur bertanduk, mata tajam, dan imaji neraka bukan sekadar gelap, melainkan ekstrem gelap. Visual semacam ini terasa terlalu jauh dari konteks musiknya sendiri. Bukannya memperdalam makna lagu, visual tersebut justru menyedot perhatian dan mengaburkan pesan musikal yang ingin disampaikan.
Kini, setelah potongan visual itu kembali beredar, diskusi pun mencuat lagi. Apakah simbol-simbol tersebut memang dimaksudkan sebagai metafora artistik yang kompleks, atau sekadar efek visual dramatis tanpa pesan yang matang? Yang jelas, simbol-simbol yang tampil saat “Matahari Tenggelam” berhasil memancing spekulasi panjang, bahkan dua tahun setelah konsernya berlalu.
Kontroversi ini mengingatkan kita bahwa dalam pertunjukan musik, visual adalah pedang bermata dua. Ia dapat memperkuat atmosfer dan makna, tetapi juga dapat memicu tafsir liar ketika tampil tanpa konteks yang memadai.
Dalam kasus penampilan Hindia di Synchronize Fest 2023, simbol-simbol gelap tersebut terbukti masih menyisakan pertanyaan yang hingga kini belum sepenuhnya menemukan jawaban.*