Lembah Anai: Kereta Api Kayutanam-Duku, 51 Menit yang Mengesankan

Kamis, 11/12/2025 11:12 WIB

Jalur Lembah Ana saat dibuka untuk sepeda motor. Foto Humas Pemko PP

Jalur Lembah Ana saat dibuka untuk sepeda motor. Foto Humas Pemko PP

OLEH Kurniasih Zaitun (Dosen ISI Padang Panjang dan Mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta)

RABU 10 Desember 2025 adalah hari ketiga dibukanya kembali jalur Lembah Anai—jalan nasional Padang–Bukittinggi yang sempat terputus total akibat bencana besar akhir November lalu. Pembukaan jalurini khusus untuk kendaraan roda dua, yang jadwalnya sudah diatur. 

Pagi itu, Rabu `10 Desember 2025  pukul 05.50, saya melakukan perjalanan dari Kota Padang Panjang menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang Pariaman. Saya adalah salah satu dari ribuan warga yang terdampak langsung oleh bencana longsor dan banjir bandang di Sumatera Barat.

Putusnya jalan di berbagai titik jalur publik telah memisahkan masyarakat dari aktivitas sehari-hari. Lembah Anai menjadi titik paling krusial: longsor besar pada 27 November 2025 lalu meuluhantakkan jalan nasional Lembah Anai. Akses vital ini tertutup total.

Pada 8–10 Desember, pemerintah provinsi, aparatur pusat, dan warga setempat bekerja bahu-membahu memulihkan jalur ini. Hari ketiga uji coba jalur darurat—yang hanya dibuka untuk kendaraan bermotor roda dua pada pukul 06.00–08.00 dan 16.30–18.30—menjadi harapan baru. Bagi kami yang terisolasi, jalur itu bukan sekadar jalan, tetapi jendela untuk kembali bernapas, bekerja, bergerak.

Selama jalur Lembah Anai tertutup, Sitinjau Lauik menjadi satu-satunya akses keluar-masuk Padang. Jalan itu berubah menjadi lintasan yang menakutkan: padat, licin, penuh tikungan, dan rawan kecelakaan. Perjalanan Bukittinggi–Padangpanjang–Padang yang biasanya hanya dua jam, berubah menjadi tujuh hingga sepuluh jam. Rasanya seperti perjalanan tanpa ujung—penuh kecemasan dan ketidakpastian.

 

Karena itu, ketika jalur darurat Lembah Anai akhirnya dibuka, masyarakat menyambutnya dengan syukur bercampur lega. Walaupun hanya sepeda motor yang boleh melintas, jalur ini tetap memberi ruang gerak baru: lebih dekat, lebih cepat, dan lebih manusiawi. Di sepanjang jalur, warga setempat ikut membantu—menawarkan jasa ojek, mobil sewaan, hingga travel kecil untuk mengantarkan penumpang ke batas jalan sebelum dan sesudah area yang sedang diperbaiki. Aktivitas ekonomi yang sempat mati perlahan berdenyut kembali.

 

Namun, tidak semua orang bisa mengandalkan jalur darurat. Di sinilah Kereta Api Indonesia (KAI) mengambil peran yang sangat penting. Dari Kayu Tanam, kereta menjadi pilihan yang paling masuk akal: aman, teratur, efisien, dan terjangkau. Jalur Kayu Tanam–Duku yang ditempuh hanya 51 menit menghubungkan masyarakat dari Kayu Tanam, Sicincin, Lubuk Alung, Pasar Usang, dan Duku hingga Bandara Internasional Minangkabau.

Sejak 1 Agustus 2025, KA Lembah Anai tidak lagi berhenti di Duku untuk transit; relasinya telah diperluas langsung ke BIM. Sebuah langkah kecil, tetapi berdampak besar: memberikan warga yang terdampak bencana pilihan moda transportasi yang stabil di tengah kekacauan jalan raya. Kereta terdiri dari empat gerbong berkapasitas sekitar 50 penumpang tiap gerbong.

Pagi itu, hujan turun tipis, membuat perjalanan saya terasa dingin tetapi menenangkan. Kondisi kereta bersih, ber-AC, wangi, dan nyaman. Penumpangnya didominasi pedagang, anak sekolah, mahasiswa, pegawai kantor, serta beberapa orang yang hendak terbang dari BIM.

“Hari-hari biasa memang begini, tidak terlalu penuh, kecuali akhir pekan,” kata seorang ibu yang rutin menggunakan kereta untuk kontrol kesehatan di Padang.

Namun dari kondisi gerbong yang lengang, saya menyadari satu hal: banyak warga masih belum tahu bahwa kereta di Sumbar sudah beroperasi penuh hingga BIM. Informasi publik belum merata, dan KAI belum sepenuhnya menjadi pilihan utama masyarakat—padahal manfaatnya sangat besar, terutama di masa pascabencana ketika jalan raya masih sering macet, licin, dan berbahaya.

Sebagai korban bencana, saya akhirnya menjadikan kereta sebagai moda utama perjalanan Kayutanam–Padang. Selain murah dan nyaman, kereta memberi kepastian waktu—sesuatu yang sangat berharga ketika jalan raya sering tak terduga. Kereta membebaskan saya dari supir ugal-ugalan, kemacetan, dan rasa cemas terhadap kecelakaan atau copet.

Perjalanan, dalam bentuk apa pun, selalu punya panggungnya sendiri. Stasiun, terminal, pintu bandara—semuanya adalah ruang emosional tempat orang berpisah, bertemu, menunggu, atau menata ulang harapannya.

Kita semua seperti aktor yang memainkan peran masing-masing: protagonis, antagonis, pemeran utama, atau sekadar figuran dalam cerita orang lain. Dan hari itu, di tengah bencana yang mengubah lanskap Sumatera Barat, perjalanan kecil saya dengan kereta memberi saya ruang netral untuk melihat hidup dari kejauhan—hening, jujur, dan manusiawi.

PT KAI bersama dengan pemerintah telah memulai reaktivasi jalur kereta api di Sumatera Barat yang tentu saja memiliki sejarah panjang itu demi kemudahan konekivitas dan keterhubungan serta mobilitas masyarakat. Dan capaian berdampak dan memberi kemanfaatan meningkatkan kesejehteraan masyarakat.  

Dalam perencanaan, PT KAI dan didukung pemerintah, akan mengaktifkan kembali jalur kereta api Padang–Pariaman–Kayutanam, Padang Panjang, Bukittinggi, Sawahlunto, dan Payakumbuh.

Semua itu kini terasa relevan: di saat jalan raya rapuh oleh bencana, rel-rel baja inilah yang menyambung denyut hidup masyarakat.

Hari itu, saya menutup perjalanan dengan satu kesimpulan sederhana: selama kereta api masih berjalan, hidup masyarakat Sumatera Barat akan terus bergerak maju—pelan, tetapi pasti. *

 

Lebaran

BACA JUGA