28 Tahun Reformasi: Soeharto Lengser, Otoritarianisme Dinilai Datang Kembali

Jum'at, 22/05/2026 06:59 WIB
-

-

Jakarta, sumbarsatu.com--Tepat 28 tahun lalu, pada 21 Mei 1998, Soeharto mengakhiri kekuasaannya sebagai orang nomor satu di Indonesia setelah berkuasa selama kurang lebih 32 tahun.

Peringatan atas peristiwa bersejarah tersebut kini nyaris luput dari perhatian. Hanya segelintir media massa yang kembali mengulas momentum runtuhnya Orde Baru itu, seolah menjadi ingatan yang perlahan dilupakan.

Padahal, pengunduran diri Soeharto menandai puncak perlawanan panjang terhadap sistem otoritarianisme yang bercokol selama puluhan tahun di Indonesia. Sejumlah kalangan bahkan menilai gejala kembalinya sistem tersebut mulai tampak secara perlahan dalam kehidupan politik saat ini.

Pada 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka, Jakarta, Soeharto membacakan pernyataan pengunduran dirinya. Dalam pidato singkat itu, ia menyatakan berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia, yang kemudian langsung dilanjutkan oleh Wakil Presiden B. J. Habibie.

Pengumuman itu disambut sorak-sorai mahasiswa yang saat itu menduduki Gedung DPR/MPR. Tuntutan reformasi yang diperjuangkan mahasiswa bersama berbagai elemen masyarakat akhirnya tercapai setelah gelombang demonstrasi berlangsung di berbagai daerah.

Soeharto lengser setelah pilar politik dan ekonomi yang menopang kekuasaannya selama tiga dekade mulai runtuh di tengah krisis multidimensi. Krisis moneter yang meledak pada pertengahan 1997 akibat buruknya pengelolaan ekonomi membuat nilai tukar rupiah terjun bebas dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp17.000 per dolar AS.

Dampaknya sangat besar. Puluhan ribu perusahaan bangkrut dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Krisis ekonomi kemudian memicu ledakan krisis sosial dan politik yang sesungguhnya telah lama terakumulasi.

Di tengah situasi itu, pada 9 Mei 1998 Soeharto tetap berangkat ke Mesir untuk menghadiri KTT G-15 ketika demonstrasi anti-pemerintah semakin meluas. Tiga hari kemudian, tepatnya 12 Mei 1998, aparat menembak mahasiswa Universitas Trisakti yang tengah berdemonstrasi di kampus mereka di Grogol, Jakarta Barat.

Empat mahasiswa tewas dalam tragedi tersebut, yakni Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, dan Heri Hertanto. Kematian mereka memicu kerusuhan besar bernuansa rasial di Jakarta dan sejumlah kota lain pada 13–14 Mei 1998. Ribuan bangunan dibakar dan ribuan orang dilaporkan meninggal dunia dalam kerusuhan tersebut.

Soeharto kemudian mempersingkat kunjungannya di Mesir dan kembali ke Jakarta pada 15 Mei 1998. Ia sempat mencoba mengakomodasi tuntutan reformasi dan mencari dukungan politik untuk mempertahankan kekuasaannya. Namun, satu per satu tokoh yang selama ini menjadi penyangga kekuasaannya mulai meninggalkan dirinya.

Pada akhirnya, mantan ayah mertua Presiden Prabowo Subianto itu harus meninggalkan Istana Merdeka untuk selamanya.

Kini, hampir tiga dekade setelah Reformasi 1998, mantan menantunya justru berada di istana yang sama. Di tengah kondisi ekonomi yang kembali penuh tekanan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, bahkan melampaui titik terendah pada era akhir kekuasaan Soeharto.ssc



BACA JUGA