That's What Friends Are For

Senin, 01/12/2025 12:57 WIB

OLEH Alfitri (Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas)

SUATU hari di bulan Ramadhan 1440 Hijriyah. Pada akhir Mei 2019. Lebaran lebih kurang seminggu lagi.

Untuk kedua kalinya pengurus yayasan TK Islam dan madrasah di kampung saya kembali mengirim WA. Pertama, ia mengucapkan terima kasih atas dana Zakat, Infaq, dan Sadaqah (ZIS) yang sebelumnya sudah saya transfer. Kedua, ia mengabarkan bahwa pada waktu seminggu menjelang lebaran tersebut dana ZIS yang terkumpul masih jauh dari target.

Ia khawatir akan cukup banyak mustahik yang biasanya menerima ZIS menjelang lebaran itu, tidak akan menerima. Atau akan dibagi rata saja menerima sedikit seorang. Artinya, itu turun dari jumlah yang dibagikan pada tahun sebelumnya.

Saya maklum dengan point kedua WA yang dikirimkan pengurus yayasan tersebut. Karena itu, saya ingin meneruskan pesan WA tersebut ke salah seorang teman yang mungkin saja masih memiliki dana ZIS untuk disalurkan.

Saya berpikir sekejap. Entah kenapa, hati saya lantas tergerak untuk meneruskan pesan WA tersebut ke Uni Nn, teman sesama SMA dulu. "Feeling" saya saat itu menyatakan bahwa ia adalah orang yang baik hati dan suka menolong. Semoga saja masih ada dana ZIS-nya yang bisa ia salurkan.

Ternyata dugaan saya tak meleset. Tak lama setelah WA pengurus yayasan itu saya teruskan kepadanya, langsung ia balas. Tanpa hak-hek-hok kontan saja Uni Nn, "straight to the point". "Tolong kirim nomor rekening yayasannyo Pak De... beko ambo transfer yo...", tulisnya di WA.

"Alhamdulillah. Terima kasih Uni Nn. Semoga amal ini dibalas oleh Allah Swt dengan pahala berlipat ganda dan Uni Nn senantiasa sehat, dan murah rezeki" jawab saya di WA. Pengurus yayasan TK Islam dan madrasah di kampung saya pun sangat berterima kasih karena sangat terbantu. Saya yakin dana ZIS yang disalurkan Uni Nn itu adalah tulus tanpa pretensi apa pun.

Memang saat itu Uni Nn adalah salah seorang caleg . Tapi pencoblosan pada Pemilu 2019 sudah selesai dilakukan tanggal 17 April. Lagi pula, kampung saya tidak termasuk dapil-nya Uni Nn. Jadi, yakin benar saya bahwa itu adalah amal saleh semata.

Saya pun merenung dan sedikit berefleksi. Secara filosofis, kebaikan hati seorang teman dapat dilihat sebagai perwujudan dari nilai-nilai etis yang tumbuh dari relasi manusiawi. Tindakan tersebut mencerminkan kebajikan moral karena adanya empati dalam bingkai persahabatan. That's what friends are for. Itu lah artinya seorang teman. Bukan sekedar karena kebetulan pernah bersekolah di tempat yang sama di masa lalu.

Lalu, dari perspektif sosiologis saya melihat tindakan Uni Nn itu sebagai ekspresi solidaritas sosial. Ia sedang meneguhkan norma sosial tentang gotong royong terhadap pemenuhan harapan suatu komunitas. Sekaligus, ini juga ekspresi rasa kebersamaan dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi dan individualis.

Saya kira refleksi saya terhadap Uni Nn itu tidak keliru dan berlebihan. Hari-hari ini pun, di saat Sumatera Barat baru saja dilanda bencana banjir dan longsor, terpantau di medsos, Uni Nn termasuk perantau yang cepat dan aktif mengulurkan tangan dan memberi bantuan ke pada masyarakat yang terdampak.

Kendati, pada pemilu 2024 yang lalu sebagai caleg ia gagal lagi masuk ke parlemen. Tapi, ternyata itu tak menghalanginya untuk terus berbuat baik kepada kampung halaman. Semoga kesalehan sosial yang ia lakukan ini menjadi amal yang akan dibalas Allah Swt. Aamiin.*

Lebaran

BACA JUGA