Padang, sumbarsatu.com — Malam ini, Rabu (1/10/2025), Auditorium Gubernur Sumatera Barat dilangsungkan pemberian Anugerah Kebudayaan Sumatera Barat 2025. Tiga nama ini diumumkan sebagai penerima penghargaan: Yusrizal KW, Jumaldi Alfi, dan Zeynita Gibbons. Mereka adalah para pelopor yang kiprahnya melintasi batas, dari ruang baca, literasi, kanvas seni, hingga diplomasi budaya.
Menurut kurator Anugerah Kebudayaan 2025, Edy Utama, ketiganya dipilih karena sama-sama mewakili spirit literasi—dalam arti luas.
“Meski bidangnya berbeda, mereka semua bermuara pada literasi. Yusrizal KW dengan gerakan literasinya, Jumaldi dengan bahasa rupa, dan Zeynita dengan diplomasi budaya. Literasi adalah jalan pemajuan kebudayaan,” ujar kepada sumbarsatu, Rabu (1/10/2025).
Tahun ini, tim kurator sepakat meniadakan kategori lain dan hanya memakai satu kategori, Pelopor, sebagai simbol penegasan bahwa kebudayaan adalah soal keberanian menyalakan jalan baru keliterasian.
Anugerah Kebudayaan 2025 tidak hanya sekadar seremoni, tetapi juga penanda bahwa kebudayaan Sumatera Barat terus bertumbuh dengan wajah yang beragam. Dari pena yang menyalakan literasi, kanvas yang menembus batas, hingga diplomasi yang merangkul dunia—semua berpulang pada satu kata: pelopor.
Yusrizal KW: Pena yang Menyalakan Literasi
Bagi Yusrizal KW, menulis bukan sekadar menorehkan kata di atas kertas, melainkan menyalakan cahaya di tengah masyarakat. Puluhan tahun ia konsisten melahirkan karya sastra, mengelola media, hingga membina komunitas literasi.
“Literasi itu pintu kebudayaan. Tanpa membaca dan menulis, kita tak bisa merawat ingatan kolektif,” ujar Yusrizal KW.
Ia dikenal sebagai penggerak literasi di Sumatera Barat yang melibatkan anak-anak, remaja, hingga komunitas literaasi perkotaaan hingga nagari-nagari di Sumatra Barat.
Yusrizal KW salah seorang perintis lahirnya Komunitas Baca Tanah Ombak Padang, dan Komunitas Bukit Ase. Kini ia membuka kembali ruang belajar Sanggar Pelangi yang sudah dimulai sejak awal tahun 2000-an.
“Kini Ruang Belajat Sanggar Pelangi melibatkan para alumni Sanggar Pelangi. Mereka memberikan praktik baik ini setiap hari Minggu kepada puluhan siswa-siswi,” terang KW, begitu ia disapa.
Jumaldi Alfi: Dari Lintau ke Panggung Dunia
Nama Jumaldi Alfi sudah lama menembus pameran internasional. Lahir di Lintau, Tanah Datar, ia menjadikan kanvas sebagai ruang dialog antara identitas lokal dan modernitas global.
Melalui karya-karyanya, Jumaldi menunjukkan bahwa Minangkabau bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber gagasan baru dalam seni rupa kontemporer. Ia ingin karyanya bicara ke dunia, tapi tetap menyapa kampung halaman. Dan literasi seni rupa mesti dibangun hingga ke kampung halaman.
Zeynita Gibbons: Jembatan Budaya Nusantara–Inggris
Berbeda dengan dua nama sebelumnya, Zeynita Gibbons banyak berkarya di luar negeri. Tinggal di Inggris, ia tak pernah putus memperkenalkan Sumatera Barat dan Indonesia lewat program seni, kuliner, dan pertukaran budaya.
Baginya, diplomasi budaya adalah jalan lembut untuk mempertemukan bangsa-bangsa. Orang bisa berbeda bahasa, tapi bisa saling mengerti lewat seni dan budaya.
Anugerah Kebudayaan Sumatera Barat merupakan bentuk apresiasi pemerintah kepada individu, kelompok, maupun komunitas yang telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga, mengembangkan, dan memperbarui kebudayaan.
Gubernur Mahyeldi mengaskan bahwa penghargaan ini tidak hanya sekadar simbol, tetapi juga dorongan moral agar para pelaku kebudayaan semakin giat berkarya.
“Anugerah Kebudayaan adalah pengakuan pemerintah atas dedikasi panjang para tokoh dan komunitas yang menjaga marwah budaya Minangkabau serta memperkaya khazanah Indonesia,” ujarnya. sscmn