Syaifullah, Kepala Dinas Kebudayaan Sumatra Barat membuka giat pameran ini seni kaligrafi Merayakan Identitas Islam, Selasa (19/4/2022) di Taman Budaya Sumatra Barat
Padang, sumbarsatu.com—Jika Anda pada saat bulan suci Ramadan ini memasuki ruang Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumatra Barat, dipastikan akan memberi kesan nuansa religius dan tentu saja ketenangan batin.
Di dinding ruang galeri itu, kini sedang dipajang seni lukis berhuruf Arab nan indah dengan kutipan-kutipan kalam Ilahi yang diuntai 19 perupa keligrafi dari Sumatra Barat. Ada 29 kaligrafi di sana. Memetang-metang hari jelang berbuka puasa bersama keluarga, tentu akan sangat sempurna ibadah puasa kita sembari menikmati maknawi seni kaligrafi ini. Pameran kaligrafi ini telah dimulai pada Selasa 19 April hingga 29 April 2022.
“Sumatra Barat (Minangkabau) dengan filosofi masyarakatnya adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Alquran), tentu saja tak bisa dilepaskan dengan keislaman, termasuk seni rupa kaligrafi ini. Dan ini terbukti, pada iven-iven yang bernapaskan Islam, MTQ misalnya, Sumatra Barat selalu berada di barisan terbaik untuk seni melukis kaligrafi Arab ini. Ini tentu sangat membanggakan kita. Perupa kaligrafi mengharumkan nama daerah ini. Makanya, pameran kalifgafi yang bertepatan dalam suasana puasa Ramadan ini, perlu kita sosialisasikan kepada masyarakat luas secara masif agar mereka ikut menikmati makna-makna kaligrafi ini,” kata Syaifullah, Kepala Dinas Kebudayaan Sumatra Barat kepada sumbarsatu usai membuka giat pameran ini, Selasa (19/4/2022).
Pameran kaligrafi yang merupakan program aktivasi Taman Budaya Sumatra Barat ini direkatkan dalam satu balutan “Merayakan Identitas Islam”. Tentu saja identitas masyarakat Minangkabau yang islami.
Ketua Pelaksana Ade Efdira mengatakan, untuk tahun 2022 ini Taman Budaya Sumatra Barat sudah melaksanakan tiga kali pemaren di galeri seni rupa ini.
“Ini pameran yang keempat kita gelar. Kita pilih momen bulan Ramadan karena karya rupa yang dipamerkan berupa kaligrafi Arab. Hal ini merupakan satu upaya agar seni, kesenian secara umum bisa tersambubungkan dengan masyarakat luas. Tentu kita berharap masyarakat bisa datang ke galeri ini menjelang berbuka puasa. Pameran ini jadi destinasi religius bagi keluarga. Jika ada yang berminat memiliki dan mengoleksi lukisan kalifgrafi itu, tentu saja kami dukung,” sebut Ade Efdira. Ia menjelaskan, selain dipamerkan, lukisan kaligrafi itu juga bisa dimiliki dan dikoleksi masyarakat yang berminat untuk mengisi ruang tamu, kamar, atau tempat kerja.
Pameran seni kaligrafi “Merayakan Identitas Islam” ini dikurasi Nasrul Palapa dan Iswandi. Menurut Nasrul Palapa, dalam dunia seni lukis kaligrafi di Indonesia, Sumatra Barat tak bisa diabaikan. Jejak sejarahnya dapat ditelusuri dan memegang peran penting, salah satunya Syaiful Adnan. Ia salah seorang tokoh pembaharu seni lukis kaligrafi di Tanah Air yang menemukan hal baru di luar kaidah-kaidah baku dalam seni lukis kaligrafi.
“Selain itu, Sumatra Barat juga memiliki pelukis kaligrafi Amir Syarif, AMY Datuak Garang, dan Ade Setiawan, yang pameran kali ini menyertakan karyanya. Sumatra Barat memiliki potensi besar seniman kaligrafi karena dilatarbelakangi budayanya, dan didukung ketersediaan lembaga pendidikan formal. Pameran kaligrafi ini harus dilakukan berkesinambungan. Potensi yang mudag-muda cukup banyak,” kata Nasrul Palapa.
Ia menambahkan, pameran kaligrafi ini diikuti 19 perupa, antara lain Ade Setiawan, Erlangga, Hendra Sardi, Yopi Andrivo , Yuli, Yosi, Syahrial (Yayan), Alberto, dan lain sebagainya.
Dari amatan sumbarsatu, lukisan Alberto berjudul “An Naml” dan “Alig Lam Mim” karya Hendra Sardi cukup menarik bagi pengnjung.

Pengunjung menikmati karya-karya seni kaligrafi Islam di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat
Sebelumya, Taman Budaya Sumatra Barat juga menggelar pameran seni lukis kaligrafi Islam dengan tema “Ekspresi Religius” menampilkan karya empat pelukis kaligrafi dari Sumatra Barat yang telah berpuluh tahun menekuni lukisan kaligrafi ini, yaitu maestro Amir Syarif (82 tahun), AM. Y. Datuak Garang (71 tahun), Irhas A Shamad (63 tahun) dan Ade Setiawan (40 tahun).
BACA: Buka Pameran Kaligrafi, Gubernur Mahyeldi: Pemprov Sumbar Rancang Ekosistem Seni
Dalam literatur sejarah seni kaligrafi dikatakan kaligrafi merupakan suatu seni artistik tulisan tangan atau kaligrafi yang berkembang di negera-negera yang umumnya memiliki warisan budaya Islam. Bentuk seni ini berdasarkan pada tulisan Arab, yang dalam waktu lama pernah digunakan oleh banyak umat Islam untuk menulis dalam bahasa masing-masing.
Kaligrafi adalah seni yang dihormati di antara berbagai seni rupa Islam, karena merupakan alat utama untuk melestarikan Alqurna. Penolakan penggambaran figuratif karena dapat mengarah pada penyembahan berhala, menyebabkan kaligrafi dan penggambaran abstrak menjadi bentuk utama ekspresi seni dalam berbagai budaya Islam, khususnya dalam konteks keagamaan. Sebagai contoh, kaligrafi nama Tuhan diperkenankan sementara penggambaran figuratif Tuhan tidak diizinkan. Karya kaligrafi banyak dijadikan koleksi dan adalah hasil seni yang dihargai.
Kaligrafi Arab, Persia dan Turki Utsmaniyah memiliki hubungan dengan motif arabesque abstrak yang terdapat di dinding-dinding dan langit-langit masjid maupun di halaman buku.
Para seniman kontemporer di dunia Islam menggali warisan kaligrafi mereka dan menggunakan tulisan kaligrafi atau abstraksi dalam berbagai karya seni mereka.
Selain para seniman seni kaligrafi, terlihat hadir pada saat pembukaan pameran Suhendri (seniman teater), Aprimas (perupa), Osmulyadi (perupa), Yasrul Sami Batubara (perupa), Nesya Fitriyona (pengamat seni rupa), Iggoy El Fitra (fotografer), dan mahasiswa seni. SSC/MN
