Mahyeldi Gubernur Sumatera Barat diwakili Enifita Djinis, Staf Ahli Gubernur, membuka pameran empat pelukis kaligrafi di Galeri UPTD Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Rabu (15/9/2021) petang.
Padang, sumbarsatu.com—Pemerintah Provinsi Sumatra Barat saat ini sedang merancang skema, tata kelola dan ekosistem kesenirupaan Sumatra Barat. Rancangan ini disusun dengan melibatkan seniman, budayawan, akedemisi, kurator, pemilik galeri, jurnalis, dan kalangan aktivis kesenian dan kebudayaan di Sumatra Barat, serta tentu saja didukung penuh organisasi perangkat daerah, pemerintah kabupaten-kota, BUMN, BUMD, dan semua pihak.
“Pemerintah Provinsi Sumatra Barat sedang bekerja membangun ekosistem kesenirupaan dan seni lainnya dengan melibatkan semua pihak. Tujuan utamanya ialah agar hasil karya seniman Sumatra Barat bisa hidup berkelanjutan secara ekonomis dan keberlangsungan berkarya seniman tidak tersendat. Skema dan bentuk konkretnya sedang kita rancang bersama-sama,” kata Mahyeldi Gubernur Sumatera Barat pada pembukaan pameran empat pelukis kaligrafi di Galeri UPTD Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Rabu (15/9/2021) petang.
Pameran ini berlangsung sejak tanggal 15-20 September 2021 di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Ada 68 buah lukisan kaligrafi yang di pajang.
Sambutan tertulis Gubernur Sumatra Barat dibacakan Enifita Djinis, Staf Ahli Gubernur Bidang Hukum dan Pemerintahan Setda Provinsi Sumatra Barat. Sebab, dalam waktu bersamaan, Gubernur berkegiatan di tempat lain.
Gubernur mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat berkomitmen dan berupaya mewujudkan ekosistem kesenian yang kondusif, yang tentu saja ini butuh dukungan semua pihak dan kalangan untuk memberikan masukan dan kontribusi pemikirannya kepada Pemprov Sumatera Barat agar seni rupa dan seni kriya benar-benar dapat hidup dalam perspektif kebudayaan pada sisi lain juga bernilai ekonomi tinggi.
“Mari kita kerjakan bersama. Promosi karya-karya seni yang dihasilkan seniman sangat dibutuhkan agar masyarakat luas mengenalnya. Tentu ini membutuhkan kerja keras yang hasilnya bisa diukur. Potensi besar seni Sumatra Barat ini terus kita kembangkan dan gali,” jelasnya.
Dalam teks pidatonya, ia juga menyebutkan salah satu contoh dukungan terhadap karya seni itu adalah penempatan karya-karya terbaik hasil penjelajahan kreativitas seniman sebagai aset daerah pada gedung-gedung dan perkantoran pemerintah, kantor OPD, kantor bupati/wali kota dan banyak lagi yang bisa titik pemajangan karya seni rupa, foto, dan termasuk kaligrafi ini.
Pemerintah Provinsi Sumatra Barat memberikan apresiasi seluas-luasnya kepada empat pelukis kaligrafi yang berpameran mengangkat tema besar “Ekspresi Religius”.
Gubernur menilai, kegiatan pameran ini dijadikan momentum penting dalam melihat potensi seni rupa bahkan seni kriya di Sumatra Barat secara sungguh-sungguh, terlebih seni lukis kaligrafi sebagai napas perwujudan seni budaya dalam Islam.
“Konsep kesenian mengikuti perspektif Islam dimaksudkan membimbing manusia ke arah konsep tauhid dan pengabdian diri kepada Allah. Karena seni dibentuk untuk melahirkan manusia yang benar-benar baik dan beradab. Motif seni bertuju kepada kebaikan dan berakhlak. Selain itu, seni juga seharusnya lahir dari satu proses pendidikan bersifat positif dan tidak lari dari batas-batas syariat. Seni lukis kaligrafi Islam yang tampil saat ini di hadapan kita merupakan seni yang bertitik tolak dari akidah Islam dan berpegang kepada doktrin tauhid yaitu pengesaan Allah dan seterusnya direalisasikan dalam karya-karya senim,” urai Gubernur yang akrab disapa Buya ini.
Sementara itu, Gemala Ranti, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat merespons apa yang disampaikan Gubernur Mahyeldi, mengatakan tak salah kiranya, selepas pameran, lukisan-lukisan kaligrafi nan indah-indah ini, di pajang di ruang-ruang kerja dan bahkan jika perlu di rumah-rumah para direksi dan jajaran komisaris BUMD, BUMN, kepala-kepala dan pimpinan bank syariah, ruang kerja bupati-wali kota, dan kepala-kepala OPD.
“Barangkali selama ini setiap pameran seni kita belum memaksimalkan sosialisasi sekaligus melibatkan partisipasi aktif pihak yang berpotensi besar sebagai kolektor seni.
“Misal para direksi dan jajaran pimpinan BUMD, BUMN, dan bank-bank syariah, pihak kepala-kepala OPD baik di provinsi, maupun kabupaten-kota. Mereka ini sangat apresiatif dengan kegiatan pameran-pameran seni dan sekaligus sebagai “pasar” untuk karya-karya seni,” kata Gemala Ranti.
Makanya, tambahnya, pihak Dinas Kebudayaan Sumatra Barat, dalam pameran 4 pelukis kaligrafi Islam ini, mengajak dan mengundang jajaran dan pimpinan BUMD dan BUMN di Sumatra Barat, Bank Nagari, pimpinan cabang bank-bank nasional yanga di Sumatra Barat, PT Semen Padang, maskapai-maskapai, dan lainnya. Mereka ini harus kita rangkul.
“Apa yang kita lakukan sudah mecing dengan apa yang disampaikan Pak Gubernur dalam pidatonya tadi,” urai Gemala Ranti, salah seorang putri sastrawan besar Indonesia AA Navis ini.
Dalam pengantar pembukaan pameran ini, Gelama Ranti mengatakan, perupa yang berkarya di Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat semua ini merupakan aset berharga yang perlu kita beri ruang untuk senantiasa berekspresi melahirkan karya-karya terbaik bernilai estetis tinggi di setiap ruang dan waktu, tidak terkecuali dunia seni rupa dan seni kriya di daerah ini yang memang sejak lama tercatat sebagai salah satu etalase peta seni rupa Indonesia.
Pameran seni lukis kaligrafi Islam dengan tema “Ekspresi Religius” menampilkan karya empat pelukis kaligrafi dari Sumatra Barat yang telah berpuluh tahun menekuni lukisan kaligrafi ini, yaitu maestro Amir Syarif termasuk yang tertua yang ikut dalam pameran ini kini berusi 82 tahun, diikuti AM. Y. Datuak Garang (71 tahun), Irhas A Shamad (63 tahun) dan Ade Setiawan (40 tahun).
“Keempat pelukis ini merupakan seniman-seniman besar kaligrafi Islam Sumatera Barat saat ini, di samping sejumlah nama lain di luar Sumatera Barat,” kata Yasrul Sami, kurator pameran “Ekspresi Religius” ini.
Yasrul Sami mengatakan, karya-karya keempat pelukis yang berpameran saat ini merupakan seniman yang cukup dikenal karya dan perjalanan kesenimanannya di Tanah Air.
“Hasil seni lukis kaligrafi Islam yang dihasilkan pelukis-pelukis di Sumatera Barat dalam peta seni kaligrafi modern di Indonesia sangat diperhitungkan. Pelukis Sumatra Barat ikut mewarnai peta seni rupa kaligrafi Indonesia,” tambahnya.
Am. Y. Datuak Garang, mewakili empat pelukis mengatakan, selama ini seni lukis kaligrafi Islam berjarak jauh dengan seni lukis dan seni kriya karena jarang diberi ruang berpameran.
“Para kaligrafer (pelukis kaligrafi-red) jarang sekali mendapat ruang dan tempat berpameran khusus seperti begini ini. Biasanya para kaligrafer memamerkan karyanya saat ada iven MTQ, dan kegiatan keagamaan Islam lainnya. Makanya, saya yang mewakili kawan-kawan berterima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya Sumatra Barat yang telah memprogramkan kegiatan pameran kaligrafi Islam ini,” kata Am. Y. Datuak Garang dengan suara yang penuh semangat dan optimisme itu kendati sudah 71 tahun usianya.
Kepala UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan Sumatra Barat Hendry Fauzan menyebutkan, pameran seni lukis kaligrafi ini tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah perkembangan seni kaligrafi di Sumatra Barat.
“Pameran mengangkat tema “Ekspresi Religius” yang dilaksanakan di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat ini sepertinya melanjutkan “emosional” sejarah seni kaligrafi yang pernah mencapai puncaknya di Sumatra Barat saat MTQ nasional tahun 1983 di Padang. Ranah Minangkabau dipercaya sebagai tuan rumah. Demam kaligrafi melanda saat itu. Dan semoga dengan adanya pameran kaligrafi ini “sejarah demam” lukisan islami ini terulang lagi,” jelas Hendri Fauzan.
Terlihat hadir pada pembukaan pameran, selain keempat pelukis nan “diparalekkan”, para pelukis Sumatra Barat antara lain perempuan pelukis Evelyna Dianita, kritikus seni rupa Muharyadi, dan ratusan masyarakat serta mahasiswa pencinta seni di Kota Padang. SSC/MN
