
OLEH Mahareta Iqbal Jamal
Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand
Mencoba merujuk pada tema panel 1 PIXEL 4.0, saya menjadi semakin yakin betapa pemasaran dan distribusi film mahasiswa menjadi satu hal penting yang pembahasannya perlu diketengahkan.
Pasalnya, problematika klise yang sering dihadapi pelaku film setelah selesai diproduksi adalah sedikitnya film tersebut bertemu dengan penontonnya. Kenapa hal demikian dapat terjadi? Di luar dari konteks apakah film tersebut memang—katakanlah—tidak bagus. Hal yang paling krusial yang tanpa sadar sering terjadi juga adalah mengenai promosi dari film tersebut.
Banyak juga film-film mahasiswa di luar sana yang tidak bagus-bagus amat, tapi banyak diputarkan di berbagai ruang-ruang alternatif dan masuk juga di festival film.
Kenapa? Karena jualan dari film-film tersebut dipikirkan secara matang dan terstruktur dari segi promosi dan jejaring, mau di kemanakan film ini setelahnya. Dek pandai urang manggaleh, kain buruak tajua maha (Karena pintar orang berjualan, kain buruk terjual mahal). Begitulah kira-kira.
Kita tidak bisa menyangkal setiap pegiat film, terutama di kalangan komunitas film mahasiswa, butuh karyanya mendapat apresiasi agar terus memperpanjang semangat produktivitas. Setidaknya film tersebut diputarkan ke khalayak ramai. Apalagi jika film maker tersebut baru berkecimpung di "lumpur" dunia perfilman.
Kata apresiasi menjadi semacam berhala yang harus terus disembah dan dibesar-besarkan nilai keagungannya. Tetapi, jika terus berproduksi tanpa pernah di apresiasi, siapa yang akan sanggup bertahan?
Lambat-laun pasti akan menimbulkan semacam keputusasaan dan kejenuhan dalam berkarya bagi si pegiat film, khususnya pegiat film mahasiswa untuk terus berproduksi kedepannya pasca menyelesaikan studi di kampus, sebelum pada akhirnya bank-bank swasta atau kantor-kantor yang mempekerjakan karyawan dari pagi hingga petang menjadi alternatif pelarian dalam melanjutkan kehidupan yang, suka tak suka, tidak membutuhkan kerja kreatif di dalamnya. Inilah yang sering terjadi.
Jika kita kembali pada permasalahan pemasaran dan distribusi film mahasiswa, hal pertama yang perlu sekali ditekankan adalah jauhkan sejenak fikiran-fikiran yang berbau komersil dan bioskop arus utama.
Pikiran-pikiran yang berseliweran seperti film saya harus diputarkan di bioskop adalah fikiran yang terlalu jauh jangkauannya sementara jejak-jejak sama sekali belum ditinggalkan di kancah dunia perfilman akar rumput, seperti ruang alternatif dan festival film.
Apakah salah berpikiran demikian? Tentu saja tidak, bukan hal yang mustahil juga. Tapi, setidaknya ukurlah bayang-bayang terlebih dahulu, apakah pikiran tersebut sudah saatnya untuk dipikirkan dan dilakukan, sementara kritikus film belum pernah mengkritik film yang dibuat atau bahkan tidak pernah mendengar nama si filmmaker tersebut di berbagai ruang pemutaran dan festival film. Atau, bisa jadi pernah dibicarakan, tetapi mendapat cukup banyak respon yang negatif dari berbagai kalangan.
Pernyataan demikian bukanlah sentimen belaka, tetapi merujuk kepada permasalahan-permasalahan yang sering terjadi tanpa sadar, baik di kalangan filmmaker mahasiswa maupun komunitas.
Kedua adalah euforia pasca produksi. Euforia yang terlalu berlebihan kemudian membuat sebuah jebakan yang kembali tidak disadari oleh filmmaker mahasiswa. Film adalah seni yang memiliki gengsi tinggi dan "keren" di mata banyak orang. Itulah faktanya.
Keterjebakan inilah yang kemudian menjadi perangkap bagi filmmaker untuk tidak terlalu memikirkan kemana film ini akan "singgah". Yang penting saya sekarang anak film, begitulah kira-kira. Asal ada festival film yang sedang Open Submittion langsung saja filmnya didaftarkan tanpa pandang bulu, tanpa melihat orientasi festival itu seperti apa.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena euforia tadi, rasa bahagia berlebihan bahwa film tersebut akan lolos di festival tersebut. Hal ini sesungguhnya bukan hal yang cukup vital sebenarnya, tetapi hal inilah yang sering membuat film begitu cepat menemui " ajalnya".
Ironi
Sesungguhnya jika kita sedikit mau membuka mata dan melihat bagaimana perkembangan dunia perfilman, pemasaran dan distribusi sesungguhnya sedang giat-giatnya di lakukan di pulau Jawa sana, tanpa bermaksud berkiblat atau apapun itu.
Katakanlah, Goodworks, yang mulai memperlihatkan kiprahnya di dunia pemasaran dan promosi film dan juga ada Kolektif dan Button Ijo yang bermain di ranah distribusi film-film pendek yang sering masuk festival. Ada juga Viddsee selaku platform menonton digital yang aplikasinya dapat diunduh di Play Store.
Tetapi, tanpa memungkiri yang ada, filmmaker Sumbar rata-rata terlalu sibuk berproduksi tanpa ada yang mengambil lahan pemasaran dan distribusi. Apalagi produksi yang gaungnya bakal diputarkan di bioskop atau membayar salah satu bioskop "gaek" di Padang agar filmnya diputarkan di bioskop.
Apakah itu artinya film tersebut sudah diputarkan di bioskop? Bisa saja iya, bisa jadi tidak. Silakan pembaca simpulkan sendiri untuk hal yang satu ini. Jika kita hitung, berapa banyak film mahasiswa Sumbar yang diputarkan di festival-festival film di luar wilayah Sumbar sendiri pada tahun ini?
Tidaklah banyak. Apa permasalahannya? Apakah kualitas atau ketidakpahaman dalam berfestival dan berjejaring? Saya rasa tidak. Sumbar juga punya institusi film yang setiap tahunnya memproduksi film. Tetapi, dimana kita dapat menonton film tersebut? Apakah ada aksesnya? Siapa yang mendistribusikannya ke ruang-ruang alternatif yang ada di Sumbar?
Jika ada, kenapa masih banyak ruang-ruang pemutaran di Sumbar yang masih memutarkan film-film mahasiswa atau komunitas di luar Sumbar, sementara film mahasiswa Sumbar bejibun banyaknya?
Bukankah ruang-ruang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media promosi? Atau, hal demikian bukan dianggap promosi melainkan pemutaran biasa saja? Mungkin, ekspektasi untuk menuju ranah komersil jauh lebih penting daripada proses kekaryaan dalam melahirkan dan membesarkan film itu sendiri. Pertanyaannya, apakah dunia perfilman Sumbar memang tidak butuh hal yang demikian?