
Padang, sumbarsatu.com—Malam Anugerah Sumbar Film Festival 2019 berlangsung pada Minggu malam (18/8/2019) di Hote Kyriad Bumi Minangl. Ada 5 anugerah yang siap diberikan, yaitu ide terbaik dan pilihan juri untuk kategori fiksi dan kategori dokumenter, dan satu anugerah untuk film terbaik.
Malam anugerah dihadiri oleh para pegiat film di Sumbar, komunitas-komunitas film, hingga mahasiswa yang memiliki minat terhadap dunia perfilman.
Sebelumnya, acara dibuka oleh kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat. Oni Yulfian dalam sambutannya mengatakan bahwa Sumatera Barat tidak bias dilupakan dari dunia perfilman di Indonesia.
“Sumbar punya nama besar dalam dunia film, Usmar Ismail, Asrul Sani dan lainnya. Bukan hanya itu, Banyak film yang juga berlatar di Sumbar, misalnya Di Bawah Lindungan Ka’bah, Surau dan Silek,” kata Kadispar Sumbar sebelum membuka acara.
Pembacaan penganugerahan dibawakan oleh para Uda-Uni Sumatera Barat. Pada kategori film dokumenter, anugerah ide terbaik diraih film “Surau Kito” karya sutradara Rizqy Vajra J dari Yogyakarta, dan film pilihan juri diraih “Bungo Lado” karya sutradara Andri Maijar.
Pada kategori fiksi film “Mandeh” memborong kategori ide terbaik dan pilihan juri. Bukan sampai disitu, dominasi film karya sutradara Robby Anggara ini berhasil meraih Anugerah Film Terbaik, sebagai anugerah tertinggi pada Sumbar Film Festival.
“Sangat sulit menggabungkan latar alam, budaya dengan cerita atau narasi yang akan dibawakan. Tetapi film “Mandeh”mampu menyatukan latar tersebut dengan cerita, sehingga latar tidak terkesan menonjol,”ujar Pritagita Arianegara sekalu dewan juri.
Selain Pritagita, dewan juri pada Sumbar Film Festival 2019 ada deretan nama lain, yaitu A. Fuadi yang terkenal dengan novel Negri 5 Menara, S. Metron Masdison seorang penulis skenario film, Donny Eros seorang produser dan juga dosen FIB Unand dan terakhir Findo Bramata Sandi, seorang sutradara muda dari Padang.
Dengan tema “Meminang Nusantara” Surfival 2019 berhasil menggaet sineas-sineas dari berbagai wilayah Nusantara untuk ikut berkompetisi.
“Kita senang ada peningkatan dari tahun sebelumnya. Film-film yang diterima panitia ada yang berasal dari Jakarya, Yogyakarta, Kalimantan, Banten, Bali hingga Makasar.” Ungkap Derliati selaku direktur festival saat membacakan pertangungjawaban panitia.
Findo Bramata Sandi juga melihat ada peningkatan pada film yang berkompetisi. Menurut Findo, film yang ikut berkompetisi khususnya dokumenter, muncul dengan ide-ide yang menarik dan tidak melulu berbicara hal-hal yang umum.
Derliati juga menyampiakan harapan Surfival ke depannya. Kabid Ekraf Dinas Pariwisata Sumbar itu berharap Surfival menjadi ruang apresiasi bagi sineas-sineas yang terus berkarya di bidang film yang akan mendorong kemajuan pariwisata di Sumatera Barat. SSC/Rel