OLEH Mahareta Iqbal Jamal
Sudah jarang sekali kita melihat generasi muda yang concern terhadap kesenian tradisi. Kecintaan pada seni tradisi Minangkabau perlahan sudah mulai ditinggalkan seiring perkembangan zaman akibat begitu banyaknya jenis kebudayaan yang 'menghantam' secara bersamaan. Budaya K-Pop misalnya yang sudah seperti virus: berkembang dengan sangat cepat dan tak terhentikan. Kalaupun ada, itu tak lebih dari sekadar mengambil nilai mata kuliah kesenian atau hanya sebatas untuk dipublikasikan di sosial media bahwa ia adalah generasi muda yang peduli terhadap kesenian tradisi. Terlalu naif jika hal demikian benar adanya. Tetapi, generasi muda yang rela berdarah-darah demi melestarikan kesenian tradisi, bisa kita lihat dari seberapa banyak sanggar atau kelompok seni tradisi yang ada di tempat tersebut, meski hal semacam ini belum tentu juga bisa dijadikan sebagai patokan yang mutlak. Ini hanya sebatas pandangan saya saja sebagai penikmat.
Pada tanggal 28 September 2019, Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), sebagai salah satu kelompok kesenian tradisi yang sampai sekarang masih tetap eksis dan berproses, menghelat hari ulang tahunnya yang ke-20 di lapangan parkir Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan III FIB Unand dan dihadiri oleh tamu undangan BSTM, keluarga besar BSTM, pengisi acara yang datang dari berbagai kelompok seni, aliansi seni se-Kota Padang, serta mahasiswa FIB Unand yang turut serta memeriahkan acara pada malam yang sempat rinai tersebut. Rinai sepertinya tak akan membuat BSTM mengambil langkah surut dalam menyukseskan acara yang pastinya dipersiapkan jauh-jauh hari dengan matang.
Sebelum mencoba masuk ke acara yang disuguhkan BSTM, saya ingin memuji kesungguhan anggota BSTM dalam mengangkat acara ini. Lapangan parkir FIB Unand yang dulunya taman rumput itu--tempat biasanya anggota BSTM latihan pada sore dan malam hari--dan sekarang telah menjadi lapangan parkir, disulap menjadi lapangan penuh jerami dengan hiasan di sekeliling lapangan.
Di sisi luar lapangan, dihiasi dengan lampu yang tonggaknya terbuat dari batang bambu, bagian depan penonton dihiasi dengan bambu yang dibuat serupa pagar besar dengan logo BSTM di tengahnya. Serta, pada bagian tangga menuju fakultas juga terdapat semacam rangkiang dengan hiasan lampu-lampu. Saya serasa berada di sebuah tempat yang penuh ketenangan, damai, ingin rasanya duduk bersila sambil minum kopi dan merokok menikmati acara (saya tidak dapat duduk bersila selama acara karena banyak sekali yang datang pada malam itu), meski hiruk-pikuk selama acara cukup mengganggu keseriusan penonton yang sedang fokus menonton. Barangkali, hal ini yang masih sering kita anggap biasa dan lumrah dan tidak ada pengaruh apa-apa bagi si penampil di setiap kegiatan yang berbentuk pertunjukan. Barangkali, apresiasi yang luar biasa kita berikan terhadap tim dekorasi acara 2 dasawarsa BSTM tahun ini.
Lalu, selama acara berlangsung, penonton disuguhkan dengan beberapa pertunjukan kesenian tradisi yang sudah dipersiapkan. Acara non-formal dibuka dengan randai kreasi dari BSTM yang berkisah tentang sejarah BSTM. Penonton disuguhkan sejarah tentang BSTM yang dihadirkan lewat randai. Hal seperti ini jarang saya temukan. Biasanya kisah di dalam randai lebih sering menceritakan tentang si bujang yang hendak pergi merantau, kasih tak sampai sepasang sejoli, dan lain-lain. Tetapi, BSTM mencoba memanfaatkan momen ulang tahun dengan menghadirkan kisah perjalanan mereka selama 2 Dasawarsa ini selama berkecimpung di dunia kesenian tradisi. Sebuah upaya merekam ingatan dan mengarsipkan kenangan itu sendiri. Pertunjukan yang saya rasa lebih dari satu jam itu tidak terasa kaku dan membosankan, sebab penonton terhibur dengan lawakan-lawakan yang dihadirkan.
Penampilan selanjutnya yaitu tari piring yang dibawakan oleh aliansi seni se-kota Padang. Tak ada satu perempuan pun yang memegang piring. Hanya ada dua penari laki-laki. Sebuah tari piring yang jauh dari lenggok pinggul dan senyum manis khas penari. Alih-alih menghadirkan keceriaan dan unsur manja dari si penari, pertunjukan tari piring ini seakan membawa penonton pada sebuah momen sakral yang didukung oleh musik yang seakan mencerabut kecemasan dari dalam tubuh. Mula-mula, penari masuk dari sisi penonton dengan salah satu di antaranya seperti tergopoh-gopoh. Kemudian, penari menari sesuai koreo yang telah disepakati. Ada juga bagian yang mempertontonkan penari seperti sedang melakukan ritual dan ada juga bagian yang memperlihatkan penari menginjak-injak pecahan piring dan basilek dengan pasangan tarinya. Saya sempat berkelakar dengan teman saya tentang stigma yang masih hidup di tengah masyarakat sampai sekarang: kenapa laki-laki yang menari itu sering diidentikkan dengan bencong? Tapi, saya tidak temukan satupun gerakan pinggul yang aduhai atau lentik tangan manja pada tari piring ini. Benar-benar khas laki-laki: tagok dan garang, hingga meruntuhkan stigma yang saya paparkan di atas.
Tidak hanya sampai di situ saja, kemeriahan acara ulang tahun BSTM berlanjut dengan penampilan komposisi musik dari Estetikoestik garapan Hendri Koto, lulusan S2 ISI Padangpanjang yang menampilkan perpaduan musik tradisi dengan kontemporer yang berbicara perihal perempuan Minangkabau. Lewat vokal yang menyayat dan mendayu serta komposisi musik yang membuat bulu kuduk merinding seolah menghantarkan telinga saya pada musik yang disuguhkan oleh sebuah band bernama Rubah di Selatan. Perempuan Minangkabau dihadirkan lewat simbol baju yang dipakai oleh si vokalis. Ia menghantarkan cerita lewat tarian yang ia mainkan setelah ia bernyanyi. Semula ia mengenakan baju kurung dengan kerudung khas perempuan Minang dahulunya. Kemudian, sambil menari, pada satu momen, ia melepas kerudungnya, lalu mengenakan jaket jins, meski baju kurung tak ia lepas. Semacam jeruji tak kasat mata yang mengikat perempuan Minang antara dia sebagai perempuan Minang yang sarat akan norma berpakaian dan perannya di tengah lingkungan masyarakat dengan relevansi kondisi yang terjadi sekarang. Berdasarkan sinopsis yang saya dapatkan, karya ini terinspirasi dari fenomena perempuan di Minangkabau, terutama sosok seorang perempuan yang hidup di rantau yang secara tidak lansung mengikis peran dan kedudukannya. Dimana sosok perempuan tersebut tidak memiliki keininginan untuk mempelajari peran dan tugas sebenarnya. Seperti batasan-batasan perilaku perempuan di Minangkabau ini tidak tergambar lagi oleh sosok jati dirinya, sehingga terjadilah faktor perubahan sikap dan tingkah laku yang tidak lagi mencerminkan sosok perempuan Minangkabau yang sebenarnya. Kok bajalan siganjua lalai. Pado maju suruik nan labiah. Alua tataruang patah tigo. Samuik tapijak indak mati.
Sebelum acara penutupan, BSTM secara khusus menghadirkan kilas balik 2 dasawarsa perjalanan mereka yang coba dijahit menjadi sebuah video yang diputarkan kepada penonton. Ini momen sakral menurut saya bagi anggota BSTM. Pasalnya, di sana juga dihadirkan secuplik kisah almarhum Aldi Brangin yang mencoba mendobrak batas demi kemajuan BSTM (beberapa di antara mereka ada yang terlihat menundukkan kepala, mengusap mata yang berair akibat terkena debu, dan alasan klise lainnya agar tidak ingin dibilang cengeng). Betapa salah seorang sesepuh BSTM yang terkenal pemarah dan garang namun sesungguhnya penyayang dan perhatian, Via Cania, menumpahkan air matanya di video tersebut ketika menceritakan arti BSTM bagi dirinya, serta bagaimana Fandi Pratama mencoba memberi semacam wejangan agar generasi BSTM kedepannya bisa berbuat lebih banyak lagi dan berproses serta mencoba keluar dari zona nyaman, seperti yang telah dilakukan oleh almarhum Aldi Brangin selama beliau berkegiatan di BSTM. Video kilas balik ini sedikit banyaknya menjadi stimulus bagi anggota BSTM untuk lebih membesarkan lagi nama BSTM di momen ulang tahun ini.
Hari berangsur kian malam, kabut masih terlihat membayang di langit, dan sampailah kita di penghujung acara. Acara penutup dimeriahkan oleh penampilan oyak galembong dari anggota BSTM dan tambua massal dari Saraso Badunsanak, Gauang Sapakaik, Manata Tambua, dan Sarueh Buni Bumi yang berasal dari Nagari Balai Gurah, Kab. Agam. Penampilan tambua dibuka oleh persekutuan tambua yang dimainkan oleh BSTM beserta kawan-kawan di Fakuktas Ilmu Budaya yang kemudian disusul oleh empat kelompok seni asal Balai Gurah tersebut yang pertunjukannya sudah dinanti-nanti oleh banyak penonton.
Sorakan mulai bergemuruh di udara. Penonton satu per satu mengeluarkan gawai pintar mereka masing-masing untuk mengabadikan momen tersebut. Tim dokumentasi sibuk mengambil gambar yang epik. Genderang tambua mengiringi masuknya dua buah tabuik ukuran kecil yang dihoyak ke tengah kerumunan pemain tambua. Sorakan penonton seperti bergantian berlarian di udara dengan suara tambua dan lengkingan tasa. Banyak yang merekam ingatan pada malam itu untuk dijadikan arsip kenangan berbentuk fisik yang akan dibaca lagi di kemudian hari. Seluruhnya, malam itu menjadi gegap gempita mengiringi usia BSTM yang sudah menginjak kepala dua dan semakin dewasa.
Selamat ulang tahun, BSTM. Tetaplah menjadi "bengkel" seperti yang dicita-citakan.
Padang, 2019
Mahareta Iqbal Jamal lahir di Padang, 11 Maret 1995. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Lab. Pauh 9, sebuah ruang kajian dan diskusi yang membahas tentang dunia sastra dan Humaniora.