Padang, sumbarsatu.com—Indonesia berpotensi menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Startup digital diharapkan mampu membuka gerbang ekosistem industri digital.
Kini di Indonesia terdapat 416 juta mobile connection, 133 juta pengguna internet, dan 130 juta pengguna media sosial aktif, dan memiliki 4 unicorn. Hasil studi Google dan Temasek tentang e-Conomy SEA menunjukkan ekonomi digital Indonesia siap untuk menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ketika nilai pasarnya naik menjadi USD 100 niliar pada tahun 2025 dari USD 27 miliar pada tahun 2018.
Potensi ekonomi digital dinilai membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan kelahiran generasi yang cerdas teknologi.
Indonesia Pavilion menyoroti startup yang baru muncul di Indonesia, menyediakan akses ke ekosistem startup Indonesia dan pemerintah Indonesia. Indonesia Pavilion juga berfokus untuk menarik lebih banyak investor untuk startup Indonesia dan membangun kemitraan strategis antara Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Untuk Sumatera Barat, kondisi industri kreatif berbasis digital juga memiliki potensi untuk berkembang dengan baik dan maksimal.
Menurut Satria Haris, salah seorang Digitalpreneur dan Sekretaris Sumbar Kreatif, perkembangan industri kreatif berbasis digital itu dapat dilihat dengan banyaknya bermunculan pelaku start-up coworking space sebagai ruang pembinaan mereka. Padang sebagai ibu kota Sumatera Barat, memiliki ruang kolaborasi pelaku digital, seperti DILo Padang dengan member yang sudah ribuan.
“Kolaborasi” adalah kunci dalam mendorong potensi industri kreatif berbasis digital. Sebagai contoh untuk track bisnis, track kreatif & track system diperlukan dalam membuat sebuah aplikasi,” kata Satria Haris, yang juga sebagai Brand Activator dan pengajar.
“Dorongan yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat ruang kolaborasi pelaku digital (Co-Working Space) di kabupaten kota agar ekosistem digital tumbuh dengan maksimal,” tambahnya.
Saat ini, Presiden Joko Widodo sudah berada di Osaka, Jepang untuk mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara yang tergabung dalam Group 20 (G-20). KTT itu berlangsung 28-29 Juni 2019.
Ada dua agenda yang dibawa Indonesia dalam KTT. Pertama berkaitan dengan inovasi di bidang digital ekonomi, dan kedua berkaitan upaya dalam mengatasi kesenjangan.
“Salah satunya dengan memfasilitasi startup digital ke ajang internasional serta membuka peluang investasi untuk menumbuhkan ekosistem digital di Indonesia,” kata Presiden Jokowi, Jumat (28/6/2019).
Selain itu, Presiden Jokowi juga menyampaikan usulan Indonesia mengenai Inclusive Digital Economy Accelerator Hub (IDEA Hub) yaitu tempat mengkurasi, mengelola dan berbagi pengalaman model bisnis digital para Unicorn anggota G-20, dengan tiga area model bisnis yaitu, sharing economy; workfoce digitalization; dan financial inclusion.
Di waktu berbeda, Menteri Keuagan Sri Mulyani yang ikut dalam KTT G-20 mengatakan, dalam agenda hari pertama para pemimpin dunia membahas : (1) Global Economy, Trade and Investment, dan (2) Digital technology, innovation and Artificial Intelligent.
Dua poin itu penting bagi pertumbuhan dan pengembangan ekonomi masa depan Indonesia, terutama dalam hal teknologi digital.
“Dalam KTT G-20 itu dibahas mengenai perubahan teknologi yang menciptakan disrupsi dan peluang. Jepang mengusulkan Osaka Track mengenai pentingnya tata kelola dunia untuk pengaturan arus data yang bebas antarnegara namun yang harus bisa dipercaya oleh semua pihak (Data Free Flow with Trust),” kata Sri Mulyani.
Selain itu, dalam KTT itu juga dibincangkan pentingnya menghindari digital divide sehingga semua pihak dan kelompok dapat mendapat manfaat yang sama dari teknologi digital, terutama kelompok perempuan dan negara miskin,” urainya.
Dalam kaitan itu pula, Sri menyampaikan, Presiden Jokowi di depan pemimpin KTT G-20 mengusulkan mengenai Inclusive Digital Economy Accelerator Hub (IDEA Hub), yaitu tempat mengkurasi, mengelola dan berbagi pengalaman model bisnis digital para Unicorn anggota G-20, dengan tiga area model bisnis yaitu, sharing economy; workfoce digitalization; dan financial inclusion.
Sebelumnya, Pemerintah memfasilitasi startup digital ke ajang internasional serta membuka peluang investasi untuk menumbuhkan ekosistem digital di Indonesia.
Membuka Gerbang Dunia
Bekerja sama dengan Ziliun.com portal media daring yang bervisi mengubah pola pikir wirausaha di kalangan anak muda Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika membuka Indonesia Pavilion dalam Techsauce Global Summit 2019 di Centara Grand, Central World, Bangkok pada 19-20 Juni 2019. Iven kelas dunia ini menghadirkan 400 pembicara, 1.000 startup, lebih dari 500 jurnalis, dan 500 investor dari 40 negara.
"Techsauce Global Summit 2019 adalah suatu pertemuan transformasi digital yang sangat besar dan sayang untuk dilewatkan," kata Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, di Jakarta.
Menurutnya, pertemuan itu menjadi wahana untuk mengenalkan startup digital Indonesia ke kancah global.
"Kami memiliki tim untuk berpartisipasi dalam acara ini, ini adalah ajang di mana kita bisa mengenalkan startup kita ke ajang internasional," tuturnya.
Indonesia Pavilion adalah langkah strategis untuk mengibarkan nama Indonesia sebagai negara dengan digital economy terbesar di ASEAN. Bahkan, ke depan, Dirjen Aptika mengharapkan agar acara seperti itu akan dapat digelar di Indonesia. "Harapannya acara seperti ini juga bisa dilakukan di Indonesia," jelasnya.
Potensi Besar
Dalam Indonesia Pavilion, Kementerian Kominfo dan Ziliun.com menghadirkan booth exhibition, dan dua talks yang dirancang oleh ecosystem players Indonesia. Dua topik talks yang akan diselenggarakan adalah “Evolution Towards the New Era of Media dan “Advancing Women Leaders in Tech”.
CEO Rombak Media , Dennis Adishswara akan mengangkat isu soal evolusi menuju era baru media. Bersama CEO Thairath, Vachara Vacharaphol, Dennis juga akan memprediksi dan membagikan wawasannya tentang masa depan media di Asia Tenggara.
Diskusi kedua bersama Simona Ventures mengupas akses dan peluang untuk memberdayakan bisnis serta inisiatif yang bertujuan memecahkan tantangan kesenjangan gender. Managing Partner Simona Ventures, Putri Izzati bersama dengan Yoonmin Cho (APAC Senior Program Lead, Google for Startups), Yienyee Soh (Co-Founder & CMO AVANA), dan Monthinda McCoole (Board Member, Female Founders) akan membahas perihal memajukan pemimpin perempuan dalam teknologi.
Adapun pameran diisi DIGITARAYA sebagai akselerator kelas dunia dengan kiprah membina generasi penerus Indonesia berikutnya akan menghadirkan startup-startup pilihan yang paling berpengaruh di Indonesia, antara lain Wahyoo, Halosis dan Alamat.com. Wahyoo merupakan startup yang memberikan nilai tambah dan manfaat untuk warung makanan tradisional di Indonesia.
Adapun, Halosis adalah platform perdagangan sosial dengan AI terintegrasi yang didukung oleh chatbot dan solusi khusus untuk membantu pengonversi media sosial mengobrol dalam penjualan. Sementara, Alamat.com adalah platform yang menghubungkan pedagang layanan offline dengan konsumen daring tentang kekuatan teknologi AI dari data konsumen O2O yang masif.
Selain itu ada juta jutaan, platform pendidikan untuk membantu perkembangan ekosistem digital melalui coworking space di seluruh Indonesia, KUMPUL.
Ada juga, Kreavi sebagai ekosistem kreatif di Indonesia dengan 52.000 lebih total pengguna (user) yang merupakan para kreator visual dari seluruh Indonesia, juga akan menampilkan kisah visual pasar Indonesia dalam tampilan infografis.
Terakhir, Kok Bisa, sebuah kanal edukasi dengan pelanggan lebih dari 1,4 juta juga berpartisipasi di dalam Indonesia Pavilion.
Kok Bisa akan memamerkan video-video animasi andalan mereka, juga memperkenalkan Kok Bisa English, seri internasional Kok Bisa yang akan disajikan menggunakan bahasa Inggris. SSC/MN