Menempuh Kembali Jalan Lintas Sumatera

MENUJU HARI RAYA IDULFITRI

Selasa, 28/05/2019 22:52 WIB
Jalan Lintas Sumatera di Kabupaten Sijunjung melewati kecamatan Kamang Baru, Tanjung Gadang, Lubuk Tarok, Sijunjung, IV Nagari, dan Kupitan.

Jalan Lintas Sumatera di Kabupaten Sijunjung melewati kecamatan Kamang Baru, Tanjung Gadang, Lubuk Tarok, Sijunjung, IV Nagari, dan Kupitan.

 

Sijunjuang, sumbarsatu.com--Jalan Lintas Sumatera akan dipadati kendaraan pemudik yang hendak ber-Hari Raya Idulfitri 1440 H di kampung halaman. Hal ini disebabkan oleh mahalnya harga tiket pesawat terbang sejak awal 2019.

Menempuh kembali Jalan Lintas Sumatera adalah pilihan bagi pemudik tersebut untuk menghemat biaya. Sebagaimana sebelum era promo tiket pesawat terbang murah sejak pertengahan tahun 2000-an.

Menurut Kepala Biro Kerjasama Pembangunan dan Rantau Sumbar Luhur Budianda, dilansir dari Antara, Jumat (17/5/2019), dipastikan ribuan perantau Minang pulang basamo menempuh jalan darat dengan bis dan kendaraan pribadi. Di antaranya adalah ikatan Sulik Air Sepakat (SAS), Ikatan Keluarga Kamang Barat, Nagari Koto Aur Malintang Padang Pariaman dan Ikatan Keluarga Kamang Saiyo.

"Khusus SAS saja, sudah melaporkan akan pulang bersama dengan 1.000 unit mobil. Belum lagi organisasi lain dan yang pulang secara pribadi," ucapnya.

Jalan Lintas Sumatera mulai dibangun pada 1965 di masa pemerintahan Presiden Soekarno, dari Banda Aceh sampai ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Dalam SKH. Kompas, Sabtu, 24 Juli 1965, Menteri Urusan Jalan Raya Lintas Sumatera Ir. Bratanata mengatakan, pembangunan Jalan Lintas Sumatera yang dianggap sebagai proyek nasional maharaksasa dilaksanakan sepanjang 2.400 Km dan dibagi delapan proyek serta rampung dalam waktu 10 tahun.

Pada tahun 1952 produsen mobil Ford, Amerika Serikat, pernah menawarkan untuk membangun jalan raya Lintas Sumatera. Mereka meminta kompensasi hanya mobil merek Ford yang boleh beredar di pulau Sumatera. Akan tetapi tawaran itu ditolak oleh Presiden Soekarno dan Wakilnya Mohammad Hatta.

Saat ini Jalan Lintas Sumatera terdapat empat jalan utama, yaitu Jalan Raya Lintas Barat (Jalinbar), Jalan Raya Lintas Tengah (Jalinteng), Jalan Raya Lintas Timur (Jalintim), dan Jalan Raya Lintas Pantai Timur. Jalan itu membentang sepanjang 2.508,5 Km di pulau Sumatera.

Menutup Gorden Jendela Bis

Saya pertama kali menempuh perjalanan jauh di Jalan Lintas Sumatera pada September 1998. Menumpang bus Giri Indah dari terminal Kiliranjao, Sijunjung, Sumatra Barat menuju Yogyakarta.

Memasuki lintas tengah Jalan Lintas Sumatera--tepatnya di Pagar Alam, Sumatera Selatan--hari sudah malam. Kondektur menyuruh penumpang dengan nada cemas untuk menutup gorden jendela bis. Lalu lampu dalam bis dimatikan.

"Kita memasuki daerah rawan!" seru bapak paruh baya, penumpang di sebelah saya.

Dari bapak, kawan sebangku itu, saya pertama kali mendengarkan kisah tentang Bajing Loncat, pungutan liar, dan perampokan di Jalan Lintas Sumatera, kawasan Sumatera Selatan dan Lampung.

Sejak itu menutup gorden jendela bis dan mematikan lampu bagian dalamnya, jadi pemandangan biasa setiap kali saya menumpang bis dan memasuki dua kawasan "angker" di Jalan Lintas Sumatera itu pada awal tahun 2000-an.

Nasib baik selalu berpihak kepada bis yang saya tumpangi, belum sekalipun kena ulah Bajing Loncat pun perampokan.

Pada Desember 2017 saya kembali menyusuri Jalan Lintas Sumatera dengan menumpang bis dari Kiliranjao menuju Jakarta. Ada sensasi berbeda saya alami dibandingkan dengan naik pesawat terbang. Sehari-semalam hidup dalam pusaran mesin. Sesama penumpang saling berbagi minuman, makanan, dan cerita.

Pada perjalanan kali itu, tak ada lagi saya jumpai nada cemas dari kondektur menyuruh penumpang menutup kaca jendela bis dengan gorden bila memasuki kawasan yang terkenal rawan di malam hari, meskipun aksi Bajing Loncat belum  habis benar, dan pungutan liar masih saya jumpai--sama halnya dengan lubang-lubang di Jalan Lintas Sumatera.

Jalan Lintas Sumatera di Sijunjung

Jalan Lintas Sumatera di Kabupaten Sijunjung melewati kecamatan Kamang Baru, Tanjung Gadang, Lubuk Tarok, Sijunjung, IV Nagari, dan Kupitan.

Saat ini kondisinya tidak mulus dan bergelombang. Jalan yang berlubang dan ditambal alakadarnya dengan tergesa-gesa. Sehingga rawan kecelakaan, apalagi kendaraan padat saat arus mudik.

Sementara kawasan yang rawan bencana alam, seperti longsor, adalah di Kecamatan Kamang Baru, Tanjung Gadang, dan Lubuk Tarok. Sebab Jalan Lintas Sumatera yang melewati daerah itu berada di perbukitan, antara tebing dan jurang.

Bagi pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi bisa memanfaatkan rest area di SPBU Kiliranjao, Tanjung Lolo, Timbulun, Tanah Badantuang, dan Muaro Bodi. Selain itu, masjid yang memiliki halaman luas di tepi Jalan Lintas Sumatera juga bisa dimanfaatkan, seperti Masjid Darussalam di Muaro Bodi dan Masjid Al Ikhlas Simancung, Padang Sibusuk.

Untuk Pos Ketupat Singgalang 2019 Polres Sijunjung di Jalan Lintas Sumatera terletak di Bukit Sebelah, Kecamatan Tanjung Gadang dan Kiliranjao, Kecamatan Kamang Baru yang beroperasi mulai Rabu, 29 Mei 2019. (SSC/Thendra)



BACA JUGA