Rapat KAN Gauang di Kantor Kerapatan Nagari Gauang
Arosuka, sumbarsatu.com--Setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya di Minangkabau dikenal dengan kepemimpinan tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan mereka adalah ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai.
Karena itu, kepemimpinan Minang tergambar dalam filosofi Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah "ABS SBK" Syarak mangato adat mamakai.
Demikian kata Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gauang, B. Dt. Majo Basa, dalam rapat KAN dengan Pemerintah Nagari di Kantor KAN Gauang, (30/7/2017).
"Kepemimpinan tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan tersirat makna kekompakan, kekokohan, keterpaduan dalam satu kekuatan. Tali yang kuat jika terjalin tiga dan tungku yang kokoh jika berdiri diatas tiga batu,' kata Dt. Majo Basa.
Menurutnya, kepemimpinan dengan pola kerja sama yang indah, bersinergi kuat tanpa dikotomi, tanpa pemisahan dan anti sekulerisme.
Kepemimpinan di Minangkabau sejalan dengan bimbingan syarak dalam Al-Qur'an Surat Al-maidah Ayat 3.
"Berkerjasamalah kamu dalam urusan kebaikan takwa dan jangan bekerja sama dalam urusan dosa dan permusuhan", jelasnya.
Makna ayat ini, setiap pemimpin dan orang beriman harus bekerjasama dalam setiap urusannya baik urusan yang kecil apalagi urusan besar seperti membangun masyarakat sebuah nagari atau sebuah negara.
Kalau kita telusuri Alqran dan sunnah, tujuan sebuah negara atau nagari didirikan, maka kita akan memahami bahwa tugas pemimpin memenuhi kebutuhan utama setiap masyarakat, kebutuhan akan keimanan atau spritual, kebutuhan untuk hidup aman dan kebutuhan untuk hidup sejahtera. (DW)