Kapal nelayan sandar di perairan leps Pantai Tiku
Tiku, sumbarsatu.com—Akibat tidak adanya pelabuhan, jumlah kapal tangkap, terutama jenis bagan, di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, terus menyusut. Kondisi itu sangat meresahkan penduduk sekitar yang menggantungkan ‘periuk nasinya’ di laut.
Demikian hasil penilaian LSM KOMA, Anizur, SH, Selasa (18/8/2015), dalam perbincangan dengan sumbarsatu.com di kantor PWI Perwakilan Agam.
Menurutnya, nelayan Tiku pernah jaya sekitar tahun 1990-an. Kala itu jumlah bagan mencapai 200 unit lebih. Namun secara bertahap, jumlah kapal bagan terus berkurang. Penyebabnya, tidak ada pelabuhan untuk sandar kapal kala badi menerjang perairan Tiku.
“Maka, satu per satu kapal bagan menghilang dari perairan Tiku. Ada yang dihancurkan badai dan ada pula yang sengaja dilego pemiliknya karena dinilai kurang menguntungkan, akibat biaya penyelamatan kapal di kala badai sangat tinggi,” ujarnya.
Pemilik kapal bagan terpaksa mengungsikan kapal ke Bungus, atau ke Muaro Padang. Makanya sejak lama para nelayan Tiku berharap pemerintah membangun sebuah pelabuhan ikan di Tiku.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Agam, Ermanto, S,PI, M.Si,ketika dihubungi via ponselnya, Selasa (18/8), mengakui kondisi demikian. Menurutnya, dulu kapal bagan di Tiku mencapai sekitar 2017 unit. Kini tinggal sekitar 25 unit.
Makanya, nelayan Tiku sejak lama mendambakan pelabuhan yang aman,untuk menyandarkan kapal ikan mereka. Perjuangan untuk mendapatkan bantuan Pusat juga sudah lama dilakukan. Bahkan sejak Kabupaten Agam dipimpin Kol. H. Ismu Nazif, perjuangan untuk mendapatkan batuan pembangunan pelabuhan perikanan sudah dilakukan. Sayangnya belum berhasil.
Kemudian,perjuangan yang tidak kenal menyerah juga dilakukan di era kepemimpinan H. Aristo Munandar. Namun kembali tidak berhasil.
Secercah harapan mulai terlihat dalam era kepemimpinan H.Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah. Pemerintah Pusat telah menyetujui untuk membiayai pembangunan 1 unit pelabuhan perikanan di Tiku.
“Insyaallah, bila tidak ada kendala, tahun anggaran 2016 akan dimulai pembangunan pelabuhan perikanan tahap pertama,” ujar Ermanto.
Pembangunan tahap awal akan menghabiskan biaya dari APBN sekitar Rp10 miliar. Bila pembangunan tahap awal lancar, akan dilanjutkan dengan pembangunan tahap II.
Diyakini, bila pelabuhan itu selesai dibangun nantinya, kehidupan para nelayan akan semakin sejahtera. Para pemilik kapal bagan, yang kini jera memiliki kapal bagan,akan kembali tertarik untuk menanamkan investasinya di sektor penangkapan ikan.
“Kini para pemodal enggan menanamkan investasinya pada usaha kapal bagan,karena trauma masa lalu. Tetapi bila sudah ada pelabuhan untuk menyelamatkan kapal bagan mereka pada musim badai, diyakini mereka akan kembali membeli kapal bagan. Itu berarti peluang kerja bagi penduduk Kecamatan Tanjung Mutiara. Di sisi lain produksi ikan laut Kabupaten Agam akan melonjak drastis,” ujar Ermanto pula.
Kondisi saat ini, dengan jumlah kapal bagan hanya 25 unit, produksi ikan laut Agam mencapai 7.000 ton lebih.
“Kami berharap semoga rencana pembangunan pelabuhan perikanan di Tiku tidak terkendali, sehingga kami bis lebih sejahtera,” ujar beberapa nelayan di Pasir Tiku. (SSC)
Laporan Miazuddin Sutan Marajo
