Malam Ini, Talago Buni Tampil di Festival Musik Gedung Kesenian Jakarta

Rabu, 10/12/2014 11:04 WIB
Malam Ini, Talago Buni Tampil di Festival Musik Gedung Kesenian Jakarta

Malam Ini, Talago Buni Tampil di Festival Musik Gedung Kesenian Jakarta

Padang, sumbarsatu.com—Malam ini, Rabu (10/12/2014) pukul 20.00 WIB, kelompok musik berbasis etnis Minang Talago Buni, Padang, Sumatera Barat, tampil dalam iven “Festival Musik Gedung Kesenian Jakarta” yang digelar Gedung Kesenian Jakarta, di Jakarta.

Edy Utama, Direktur Artistik Talago Buni, mengatakan,  kelompok ini akan menampilkan reportoar musik dengan judul Bakutiko, Galuik Sijobang, Galauik Sampelong, Pupuik Lambok, Galuik Rang Pauh, Galuik Sirompak, dan Kudarang.   

“Tujuh reportoar itu merupakan hasil karya komposer Muhammad Halim dan Susandra Jaya yang sangat kental dengan nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau, dan dikemas dalam nuansa kontemporer yang sangat dinamis,” kata Edy Utama, Rabu (10/12/2014).

Dia jelaskan, Talago Buni  tetap konsisten dengan gagasannya memformulasikan “musik baru” berbasiskan budaya musik Minangkabau baik dari pedalaman (highland) yang cenderung melankolik dan mistik, berdialektika dengan kekhasan musik pesisir yang dinamis, dan musik-musik lainnya.

Dia menyebutkan, dengan pengalaman melakukan tur dan ikut dalam berbagai musik festival baik di dalam dan di luar negeri, Festival Musik Gedung Kesenian Jakarta, memiliki kesan tersendiri.

“Pagelaran ini bisa dinikmati urang awak yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Ini punya kesan tersendiri,” katanya.

Alat musik yang akan dimainkan pemusik Emri, Febrianti, Syafni Erianto, Leva Khudri Balti, dan Shofwan dalam pertunjukan ini antara lain saluang, bansi, pupuik sarunai, dan sampelong, gendang besar pohon kelapa, gong, ganto, jembe, talempong (small gong), kecapi, rebana, piring kaca, dan gitar bass & melody.

Reportoar Bakutiko, kata Edy Utama, sebuah komposisi musik yang dikembangkan dari tradisi musik perkusi tiup Minangkabau talempong dan saluang, yang dipadukan dengan musik vokal.

Untuk Galuik Sijobang merupakan komposisi musik yang dikembangkan dari tradisi musik sijobang, dengan instrumen utamanya kecapi.

“Tradisi musik ini tumbuh dan berkembang di daerah Limopuluah Koto, salah satu luhak di Sumatera Barat, dan biasanya digunakan untuk mengiringi tradisi bakaba yang disebut dengan basijobang,” jelas Edy Utama.

Sementara itu, Galauik Sampelong yang juga berasal dari Luhak Limapuluh Koto, merupakan komposisi musik yang diangkat dari tradisi musik tiup sampelong. Tradisi musik sampelong juga tumbuh dan berkembang di daerah ini  sebagai musik vokal yang diiringi dengan alat tiup. Pupuik Lambok adalah komposisi musik yang dikembangkan dari tradisi musik sarunai.

Untuk Galuik Rang Pauh, ia sebutkan, merupakan komposisi yang dikembangkan dari tradisi musik saluang pauh, yang tumbuh dan berkembang di daerah Kota Padang, daerah pesisir barat Minangkabau.

Galuik Sirompak, nomor ini juga bersentuhan dengan tradisi musik Minang di Luhak Limopuluah Koto, menawarkan komposisi musik yang bernuansa mistik, yang disebut dengan saluang sirompak.

“Luhak Limopuluh Koto diakui sangat kaya dengan musik-musik tradisi dan capaian sangat memesona,” katanya.

Untuk reportoar Kudarang, jelasnya, merupakan sebuah komposisi musik yang dikembangkan dari tradisi musik vokal dari daerah pesisir dan tari piring yang tumbuh di berbagai wilayah Minangkabau. (SSC/NA)



BACA JUGA