Singapore, sumbarsatu.com– Perusahaan semakin menghadapi risiko lonjakan kerugian akibat gangguan bisnis. Konsentrasi produksi, rantai pasokan yang rapuh, ketegangan geopolitik, inflasi, serta ketergantungan yang semakin besar terhadap teknologi menjadi sejumlah faktor yang memperbesar risiko tersebut.
Analisis terbaru Allianz Commercial menunjukkan, nilai rata-rata klaim gangguan bisnis kini melampaui €850.000 atau sekitar Rp16,15 miliar. Nilai tersebut sekitar 70 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata klaim kerusakan properti yang mendekati €500.000 atau sekitar Rp9,5 miliar.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa dampak finansial ketika perusahaan tidak dapat beroperasi dapat jauh melampaui biaya untuk memperbaiki kerusakan fisik yang menjadi pemicu gangguan.
Laporan Allianz Commercial menganalisis 7.888 klaim gangguan bisnis sepanjang 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025. Total nilai klaim mencapai sekitar €6,74 miliar atau setara dengan Rp128,06 triliun berdasarkan kurs ilustratif Rp19.000 per €1.
Meski frekuensi klaim relatif stabil, nilai rata-rata klaim meningkat lebih dari 30 persen setiap tahun selama dua tahun terakhir.
“Gangguan bisnis dan risiko rantai pasokan tetap tinggi dan bergejolak. Lingkungan operasional penuh tantangan dengan ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, insiden terkait siber, dan meningkatnya ketergantungan pada teknologi seperti kecerdasan buatan (AI),” kata Thomas Lillelund, CEO Allianz Commercial.
Menurut dia, skala kerusakan fisik tidak lagi menjadi satu-satunya faktor yang menentukan besarnya biaya akhir gangguan bisnis. Insiden yang secara fisik relatif terkendali tetap dapat merambat ke jaringan produksi, pelanggan, dan pasar.
Karena itu, perusahaan perlu memahami tidak hanya aset kritis milik sendiri, tetapi juga aset pemasok, teknologi, dan infrastruktur yang menopang kegiatan operasional.
Kebakaran Menjadi Penyebab Kerugian Terbesar
Kebakaran dan ledakan menjadi penyebab klaim gangguan bisnis dengan nilai paling besar dalam analisis Allianz Commercial. Kedua jenis insiden tersebut menyumbang lebih dari 40 persen total nilai klaim, dengan nilai sekitar €2,9 miliar atau Rp55,1 triliun.
Kebakaran juga menjadi penyebab sembilan dari 10 peristiwa gangguan bisnis akibat aktivitas manusia yang memiliki nilai kerugian terbesar dalam kumpulan data tersebut.
Di sejumlah pasar, termasuk Jerman, Singapura, Hong Kong, Inggris, dan Amerika Serikat, kebakaran tercatat sebagai penyebab kerugian paling mahal.
Dalam salah satu kasus yang dianalisis, kebakaran terjadi di sebuah unit manufaktur kecil. Kerusakan fisik yang ditimbulkan relatif terbatas, tetapi dampaknya terhadap operasi hilir sangat besar. Gangguan tersebut akhirnya menyebabkan kerugian gangguan bisnis di seluruh grup mencapai nilai sembilan digit.
Bencana alam menjadi penyebab termahal kedua. Peristiwa tersebut menyumbang 34 persen dari total nilai klaim dan menjadi penyebab yang paling sering terjadi dengan porsi 26 persen dari jumlah klaim.
Secara keseluruhan, kebakaran, ledakan, dan bencana alam menyumbang lebih dari 75 persen total nilai klaim yang dianalisis.
Namun, peristiwa yang tidak berkaitan dengan bencana alam tetap menjadi sumber utama klaim gangguan bisnis. Aktivitas tersebut menyumbang 74 persen dari jumlah klaim dan 66 persen dari total nilai klaim.
Pemulihan Semakin Lama, Biaya Semakin Besar
Allianz mencatat sejumlah klaim yang berkaitan dengan bencana alam berkembang dalam periode yang semakin panjang. Dua tahun setelah Badai Helene pada September 2024, sejumlah klaim gangguan bisnis masih belum terselesaikan.
Kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan persoalan cakupan asuransi. Perusahaan yang terdampak juga belum sepenuhnya memulihkan kegiatan operasionalnya.
Penundaan rantai pasokan, kekurangan tenaga kerja, serta perubahan biaya material dapat memperpanjang proses pemulihan sekaligus meningkatkan nilai kerugian.
Konsentrasi produksi turut memperbesar risiko. Sejumlah industri bergantung pada sedikit lokasi, pemasok, atau kawasan tertentu untuk memperoleh material dan komponen penting. Akibatnya, kebakaran, insiden siber, maupun cuaca ekstrem di satu lokasi dapat merambat dan mengganggu rantai pasokan global.
Dua peristiwa gangguan bisnis nonbencana alam dengan nilai kerugian terbesar dalam analisis Allianz melibatkan kebakaran di fasilitas produksi semikonduktor.
Risiko juga meningkat ketika nilai pertanggungan tidak lagi memadai. Inflasi dan perubahan kondisi operasional dapat menyebabkan nilai yang dinyatakan dalam polis tidak mencerminkan kondisi aktual perusahaan.
Karena itu, Allianz menilai perusahaan perlu melakukan peninjauan secara berkala untuk memastikan nilai pertanggungan tetap sesuai dengan kondisi operasional terkini.
“Yang semakin sering kita lihat di Asia adalah bahwa besarnya kerugian akibat gangguan bisnis sering kali ditentukan bukan oleh peristiwa awal, melainkan oleh seberapa cepat organisasi dapat melakukan pemulihan,” kata Charlotte Field, Kepala Regional Klaim Jangka Pendek Allianz Commercial Asia.
Menurut Field, perusahaan yang beroperasi dalam rantai pasokan yang sangat saling terhubung dapat menghadapi konsekuensi operasional dan finansial berkepanjangan, baik gangguan dipicu kebakaran, banjir, kerusakan peralatan, maupun gangguan pada pemasok utama.
Ia juga menekankan pentingnya perusahaan meninjau nilai pertanggungan dan eksposur gangguan bisnis secara berkala agar mencerminkan pendapatan, biaya, dan kondisi operasional terkini.
“Inflasi, gangguan rantai pasokan, dan periode pemulihan yang lebih lama telah meningkatkan risiko bahwa nilai yang dinyatakan mungkin tidak lagi memadai ketika terjadi kerugian besar,” ujarnya.
Gangguan Siber Memperluas Lanskap Risiko
Risiko gangguan bisnis juga semakin meluas ke ranah digital. Ransomware masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan siber, tetapi kerugian juga semakin banyak dipicu gangguan layanan cloud, kegagalan perangkat lunak, serta insiden pada penyedia teknologi pihak ketiga.
Lebih dari 48.000 gangguan tercatat pada layanan cloud dan perangkat lunak sepanjang 2025. Kondisi tersebut menunjukkan semakin besarnya ketergantungan perusahaan terhadap infrastruktur digital.
Sejumlah insiden yang melibatkan penyedia perangkat lunak dan platform logistik memperlihatkan bagaimana satu serangan atau kegagalan sistem dapat mengganggu ribuan organisasi secara bersamaan.
Ketergantungan terhadap layanan cloud, kecerdasan buatan, dan penyedia teknologi pihak ketiga membuat gangguan bisnis akibat insiden siber menjadi semakin kompleks.
“Dalam ekonomi yang saling terhubung saat ini, mencegah gangguan bisnis bukan lagi hanya tentang melindungi lokasi individual,” kata Alberto Barani, Pemimpin Grup Gangguan Bisnis, Konsultasi Risiko di Allianz Commercial.
Menurut Barani, meskipun perusahaan telah meningkatkan pemahaman terhadap paparan rantai pasokan, pencegahan tetap menjadi bagian penting dalam manajemen risiko.
Investasi dalam perlindungan kebakaran, ketahanan terhadap bencana alam, kesiapan siber, serta perencanaan keberlangsungan bisnis dapat memengaruhi durasi dan tingkat keparahan kerugian ketika gangguan terjadi.
“Bahkan investasi yang relatif sederhana pun dapat secara signifikan mengurangi dampak gangguan ketika terjadi,” ujarnya. ssc/rel