13 Pematung Mancanegara Hadir di Padang, Jejak Arby Samah Berlanjut

DIGELAR DI TAMAN BUDAYA SUMBAR, 8–14 OKTOBER 2026.

Selasa, 06/10/2026 13:03 WIB
-

-

Padang, sumbarsatu.com — Sebanyak 13 pematung mancanegara akan hadir di Padang bersama enam pematung Indonesia dalam Arby Samah International Sculpture Residency & Exhibition 2026, 8–14 Oktober 2026. Selama sepekan, 19 seniman tersebut akan menjalani residensi, menciptakan karya, bertukar gagasan, serta berinteraksi dengan lingkungan dan kebudayaan Sumatera Barat.

Kegiatan yang berlangsung di Taman Budaya Sumatera Barat ini mengusung tema “Melintas Batas: Abstraksi dan Harmoni Global”. Para pematung tidak hanya datang untuk memamerkan karya, tetapi juga menjalani proses penciptaan secara langsung melalui eksplorasi berbagai material, seperti kayu, batu, dan besi.

Program ini menjadi penyelenggaraan kedua rangkaian kegiatan internasional yang menempatkan Arby Samah, yang berasal dari Sumatera Barat sebagai jenama iven ini.

Sebelumnya, pada 2025, Taman Budaya Sumatera Barat menjadi tempat penyelenggaraan pameran internasional yang mengangkat sosok dan kiprah Arby Samah sebagai salah satu pelopor seni patung abstrak Indonesia.

Pameran “Abstraksi Tanpa Batas: 95 Tahun Arby Samah” berlangsung pada 19–23 Juni 2025 di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Pameran tersebut menghadirkan karya Arby Samah bersama sejumlah pematung Indonesia dan pematung mancanegara dari Belgia, Jepang, Malaysia, Nepal, dan Filipina.

Salah satu peristiwa yang menarik perhatian dalam pameran 2025 adalah pembuatan patung kepala Arby Samah secara langsung oleh pematung asal Nepal, Laxman Bhujel. Karya tersebut dibuat secara on the spot di ruang pamer dan menjadi bagian dari proses interaksi langsung antara seniman, karya, dan publik.

Pameran 2025 tidak hanya menjadi momentum mengenang 95 tahun Arby Samah, tetapi juga membuka kembali pembicaraan mengenai perjalanan seni patung abstrak di Indonesia dan posisi Sumatera Barat dalam perkembangan seni rupa nasional.

Jejak tersebut kemudian dilanjutkan melalui program 2026 dengan cakupan yang lebih diarahkan pada residensi. Sebanyak 19 pematung dari Indonesia dan mancanegara ditempatkan dalam satu ruang kreatif untuk mengalami proses berkarya secara langsung di Sumatera Barat.

Kurator Ali Umar mengatakan kekuatan program tersebut terletak pada pertemuan seniman dengan pengalaman, cara pandang, dan latar budaya yang berbeda.

“Yang kami pertemukan bukan hanya 19 pematung, tetapi 19 pengalaman, cara pandang, dan latar budaya. Di Taman Budaya Sumatera Barat, semuanya bertemu melalui bahasa yang sama: seni patung.” kata Ali Umar, Selasa (6/10/2026).

Menurut Ali Umar, residensi memberikan kesempatan kepada para seniman untuk menciptakan karya dalam suasana yang berbeda dari lingkungan asal mereka.

"Proses tersebut diharapkan menghasilkan pengalaman artistik yang tidak hanya terlihat melalui karya akhir, tetapi juga melalui proses eksplorasi dan dialog selama residensi," jelas Ali Umar.

Direktur Program Anita Dikarina, didampingi Wakil Koordinator Publikasi dan Media Jefnil, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai ruang pertemuan seniman dari berbagai negara.

“Kami ingin Sumatera Barat tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pameran, tetapi menjadi ruang tempat seniman dunia datang, berkarya, berdialog, mengenal budaya kita, dan membawa pulang pengalaman tentang Sumatera Barat,” terang sosok akrab disapa Rina ini yang juga putri almarhum Arby Samah.

Menurut Rina, kehadiran para pematung dalam program residensi tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lingkungan sosial dan kebudayaan Sumatera Barat secara lebih dekat kepada para peserta internasional.

Selain berkarya di Taman Budaya Sumatera Barat, para peserta akan mengikuti rangkaian pengenalan budaya melalui kunjungan ke Payakumbuh dan Perkampungan Adat, pengalaman Makan Bajamba dan Pencak Silat, serta kunjungan ke Bukittinggi.

Nama Arby Samah dipilih sebagai identitas program karena sosok tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan seni patung abstrak Indonesia.

Semangat eksplorasi dan keberanian Arby Samah dalam mengembangkan bentuk abstrak menjadi salah satu pijakan artistik program yang mempertemukan pematung Indonesia dan mancanegara tersebut.

Tema “Melintas Batas: Abstraksi dan Harmoni Global” merefleksikan pertemuan para seniman yang memiliki latar budaya, pengalaman, dan pendekatan artistik berbeda. Batas geografis dan budaya dipertemukan melalui bentuk, ruang, material, serta proses penciptaan karya.

Penyelenggara juga menempatkan proses residensi sebagai bagian penting dari program. Dengan demikian, publik tidak hanya melihat hasil akhir karya patung, tetapi dapat mengikuti bagaimana gagasan berkembang melalui interaksi seniman dengan material, ruang, lingkungan, serta seniman lain selama berada di Sumatera Barat.

Program ini mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan LPDP, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya Sumatera Barat. Dukungan juga diberikan Pemerintah Kota Payakumbuh.

Kehadiran 13 pematung mancanegara bersama enam pematung Indonesia di Padang diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan dan jejaring seni patung lintas negara.

Pada saat yang sama, residensi tersebut membuka ruang bagi Sumatera Barat untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan lingkungan kreatifnya melalui pengalaman langsung para seniman yang datang dari berbagai negara. ssc/rel

 



BACA JUGA