PKD Sumatera Barat-Saraso Fest 2026 Hadirkan Seni Tradisi Pasaman dan Tanah Datar

Rabu, 30/09/2026 16:18 WIB
Tari mulo pado dari Tanah Datar
Penari memampilkan Tari Mulo Pado pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat di Padang, Selasa (29/9/2026) malam.  FOTO ANTARA

Tari mulo pado dari Tanah Datar Penari memampilkan Tari Mulo Pado pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat di Padang, Selasa (29/9/2026) malam. FOTO ANTARA

Padang, sumbarsatu.com — Penampilan seni tradisi dari Pasaman dan Tanah Datar menghiasi malam kedua Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat bertajuk Saraso Fest 2026 di pelataran parkir kawasan Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Selasa (29/9/2026) malam.

Pertunjukan diawali Gondang Baroguang dari grup Mandeh Saiyo, Mapattunggul, Kabupaten Pasaman. Musik tradisi tersebut dimainkan para perempuan lanjut usia dengan sejumlah instrumen, antara lain oguang, ropano, dan gondang talempong.

Kesenian ini merupakan tradisi masyarakat Nagari Lubuak Gadang yang diwariskan secara turun-temurun dan berkaitan dengan kegiatan adat serta peristiwa tertentu dalam kehidupan masyarakat.

Setelah penampilan Gondang Baroguang, panggung Saraso Fest menampilkan Tari Mulo Pado dari Sanggar Mulo Pado, Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar.

Tari tradisional Minangkabau tersebut tergolong tari kaba karena menyampaikan cerita rakyat melalui perpaduan gerak tubuh, dendang, dan musik tradisional.

Ketua Sanggar Mulo Pado, Syamsir Sutan Sumano, mengatakan Tari Mulo Pado bersumber dari cerita yang diwariskan masyarakat terdahulu. Cerita tersebut kemudian dituangkan ke dalam gerakan tari untuk menghidupkan kembali kisah yang telah lama dikenal masyarakat.

“Ini cerita nenek moyang kita. Dari cerita itu kemudian dibuat semacam kesenian atau tari, yang disebut Tari Mulo Pado,” ujar Syamsir seusai tampil di Saraso Fest 2026, Selasa malam, 29 September 2026.

Menurut Syamsir, salah satu bagian cerita yang menjadi dasar gerakan berkaitan dengan ungkapan “air bersentak turun, bumi sentak naik”. Rangkaian gerakan tersebut menggambarkan perjalanan dalam cerita hingga menuju Batu Senengan Jamba.

“Lauik basintak turun, bumi basintak naiak, jadilah Mulo Pado. Dalam gerakan tari ada hentakan kaki sebanyak lima kali, gerakan itu menggambarkan perjalanan masyarakat,” ujarnya.

Pertunjukan Tari Mulo Pado juga diiringi lagu-lagu klasik yang telah dikenal masyarakat terdahulu. Syamsir mengatakan sanggar tetap menggunakan lagu lama sebagai bagian dari upaya mempertahankan bentuk kesenian yang diwariskan.

“Lagu yang kami gunakan adalah lagu-lagu lama, lagu orang-orang dahulu. Jadi bukan lagu yang canggih atau lagu modern,” katanya.

Tari Mulo Pado ditampilkan oleh empat penari perempuan dengan mengenakan busana khas Padang Magek, Tanah Datar. Pertunjukan tersebut didukung permainan saluang, talempong pacik, dan gandang. Tari ini mengangkat kisah tiga tokoh adat dalam legenda Minangkabau yang disampaikan melalui gerak dan dendang.

Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan seni tradisi pada dasarnya tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, keberadaan Saraso Fest tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga bagian dari upaya memperkenalkan kembali seni tradisi kepada generasi muda.

“Kita semua yang hadir pada kegiatan ini adalah wujud sebagai upaya untuk menghidupkan rasa. Terlebih bagi anak muda kita ini yang tentunya menjadi harapan terbesar kita,” katanya.

Menurut Devid, Saraso Fest sengaja menghadirkan ruang bagi anak muda karena mereka diharapkan menjadi perawat dan pelestari bentuk serta nilai seni tradisi pada masa mendatang.

“Bahkan pada gelaran ini pun kita turut memberikan ruang bagi peserta muda untuk tampil melalui pelatihan yang telah kita berikan sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang hadir menyaksikan rangkaian pertunjukan Saraso Fest 2026. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan generasi muda menjadi bagian penting dalam keberlanjutan seni tradisi.

“Kami sampaikan terima kasih kepada masyarakat yang hadir. Begitu juga anak-anak muda kita yang kelak menjadi penerus akan kekayaan seni tradisi kita ini nantinya,” harap Devid.

Saraso Fest 2026 merupakan agenda tahunan UPTD Taman Budaya Sumatera Barat yang berlangsung selama enam hari, 28 September hingga 3 Oktober 2026. Festival ini menghadirkan seni pertunjukan dari berbagai kabupaten dan kota serta komunitas seni.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Ahmad Zakri, sebelumnya mengatakan Saraso Fest 2026 merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat pada 1 Oktober 2026 sekaligus menyambut Hari Kebudayaan pada 17 Oktober 2026.

Festival yang mengusung tema “Menghidupkan Rasa, Menajamkan Makna, Mengasah Talenta Muda” tersebut dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal, merawat, dan mengembangkan kebudayaan daerah. Selain seni tradisional, Saraso Fest juga memberikan ruang bagi karya seni masa kini dan kreativitas pelajar.

Rangkaian pertunjukan Saraso Fest 2026 menghadirkan berbagai kesenian tradisional dari sejumlah daerah di Sumatera Barat dan Kepulauan Mentawai. Setelah penampilan pada malam kedua, pertunjukan berlanjut hingga 3 Oktober dengan menampilkan sejumlah kesenian tradisi lainnya dari kabupaten dan kota di Sumatera Barat. ssc/mn



BACA JUGA