Andjar Asmara: Jejak Sang Pelopor Teater dan Film Pribumi Indonesia

Kamis, 10/09/2026 17:07 WIB
Andjar Asmara

Andjar Asmara

ANDJAR Asmara adalah nama pena yang populer sehingga orang nyaris tak menge­tahui atau melupakan nama sebenarnya: Abisin Abbas.

Ia adalah seorang wartawan, penulis naskah drama, skenario dan sutra­dara film yang sangat produktif di era 1930-an hingga awal kemerdekaan. Ia dilahir­kan lahir di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, pada 26 Februari 1902 dan meninggal di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 20 Oktober 1961 dalam usia 59 tahun. Andjar dikenang sebagai salah satu tokoh besar dunia teater Indonesia dan salah satu sutradara pribumi per­tama.

Menjalani pendidikan dasar di kampung halamannya, Abisin Abbas melanjutkan pendidikannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara dengan SMP sekarang) di Padang. Setelah itu ia pindah ke Batavia (kini Jakarta) dan bekerja sebagai wartawan freelance di surat kabar Bintang Timoer dan Bintang Hindia.

Ia mulai tertarik dengan dunia sandiwara saat masih muda setelah menonton sebuah pementasan dari kelompok stambul Wayang Kassim dan Juliana Opera di Padang. Bersama teman-temannya, Andjar belajar cara pementasan dengan pura-pura memainkan peran yang ditonton malam sebelumnya.

Pertengahan tahun 1920-an Abisin kembali ke Padang dan menjadi wartawan untuk harian Sinar Soematera sekaligus penulis drama untuk Padangsche Opera. Di sini dia mulai menggunakan nama pena Andjar Asmara. Ia mengembangkan sebuah gaya drama yang mengutamakan dialog.

Beberapa karya yang ia tulis untuk Padangsche Opera adalah adaptasi dari Melati van Agam, sebuah roman yang ditulis Swan Pen pada tahun 1923, serta Sitti Nurbaja, yang ditulis pada tahun 1923 oleh Marah Roesli.

Setelah di Padang, Andjar sempat merantau ke Medan selama dua tahun menjadi wartawan Sinar Soematra. Kembali ke Batavia pada tahun 1929, Andjar lalu mendirikan dan menjadi editor majalah Doenia Film yang isinya kebanyakan mengenai teater dan film domestik.

Majalah ini merupakan versi bahasa Melayu dari majalah berbahasa Belanda Filmland. Andjar sendiri banyak menulis tentang karya teater dan film lokal. Setahun kemudian ia meninggalkan Doenia Film dan posisinya sebagai redaktur digantikan oleh Bachtiar Effendi.

Pada tahun 1930, ia bergabung dengan kelompok drama Dardanella sebagai penulis, sampai akhirnya mereka pergi ke India untuk memilmkan karya drama Andjar berjudul Dr Samsi. Naskah itu gagal difilmkan di India, dan baru terwujud menjadi film setelah Indonesia merdeka, tahun 1952.

Andjar meninggalkan Kelompok Drama Dardanella pada tahun 1936, lalu mendirikan Kelompok Sandiwara “Bolero” bersama Bachtiar Effendi.

Pada tahun 1940, ia meninggalkan kelompok itu dan pindah bekerja di Penerbit Kolf di Surabaya. Di Kolf, Andjar menjadi Redaktur Majalah Poestaka Timoer. Karena tugasnya termasuk membuat sinopsis film, Andjar mulai lebih terlibat dengan dunia sinema.

Ia lalu diminta menyutradarai sebuah film untuk Java Industrial Film (JIF). Andjar tercatat sebagai salah satu dari beberapa tokoh teater generasi pertama yang masuk ke film setelah berhasilnya Terang Boelan garapan Albert Balink pada tahun 1937.

Selama pendudukan Jepang (1942-1945) kehidupan teater dan industri film nyaris punah. Selama waktu ini Andjar lebih banyak menulis cerita pendek (cerpen). Tiga di antara cerpennya diterbitkan oleh koran pro-Jepang Asia Raja pada 1942.

Pada masa ini ia juga sempat membentuk Kelompok Sandiwara Tjahaja Timoer. Ia juga sering mengunjungi Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidosho) di Jakarta, tempat D. Djajakusuma dan Usmar Ismail diajari soal perfilman. Kedua orang itu kemudian menjadi sutradara terkemuka pada dekade 1950-an

Andjar Asmara kembali ke dunia film pada tahun 1948. Dalam periode ini ia menyutradarai tiga film serta menulis empat skenario.  Andjar juga menulis sebuah novel, Noesa Penida, pada tahun 1950. Novel ini merupakan pengembangan dari naskah film yang ditulis Andjar tahun 1941 dengan judul yang sama.

Nusa Penida, novel semata wayang Andjar, berisi kritik atas sistem kasta Bali dengan mengikuti cerita cinta dua orang dari berbeda kasta. Kelak di tahun 1988, naskah Noesa Penida didaur ulang dan dibuatkan film dengan judul “Pelangi Kasih Pandansari”.

Sepanjang usia kreatifnya, Andjar memang lebih dikenali karena keterlibatannya dalam dunia film. Beberapa film yang melibatkan dirinya ialah Kartinah, Andjar bertindak sebagai sutradara dan penulis (1940),  Noesa Penida (sutradara dan penulis, 1941), Djaoeh Dimata (sutradara dan penulis, 1948), Anggrek Bulan (sutradara, 1948), Gadis Desa (sutradara dan penulis, 1949), Sedap Malam (penulis, 1950), Pelarian dari Pagar Besi (penulis, 1951), Musim Bunga di Selabintana (penulis, 1951) dan Dr Samsi (penulis, 1952).

Skenario untuk Dr Samsi awalnya adalah cerita sandiwara yang akhirnya dijadikan film pada tahun 1952 dengan sutradara Ratna Asmara (istri Andjar Asmara). Ratna sendiri tercatat sebagai sutradara wanita Indonesia pertama dengan film Sedap Malam yang naskahnya juga ditulis Andjar pada tahun 1950.

Pada tahun 1955 Andjar memimpin Festival Film Indonesia pertama. Keputusan dewan juri dalam FFI pertama itu sempat menjadi heboh karena dua film, Lewat Djam Malam garapan Usmar Ismail dan Tarmina garapan Lilik Sudjio, dijadikan film terbaik. Para kritikus beranggapan bahwa Lewat Djam Malam jauh lebih baik dan menyindir bahwa Djamaluddin Malik, yang menjadi produser Tarmina, telah memengaruhi keputusan juri.

Pada tahun 1958 Andjar kembali ke dunia jurnalistik dengan menjadi Ketua Redaksi Majalah film Varia, dibantu Raden Ariffien. Andjar menduduki jabatan itu hingga ia meninggal pada 20 Oktober 1961 di Cipanas, Jawa Barat, dalam perjalanan ke Bandung. Andjar dimakamkan di Jakarta. Hasril Chaniago

 

Sumber: 121 Wartawan Hebat dari Ranah Minang & Sejumlah Jubir Rumah Bagonjon (2018)

 



BACA JUGA