Gagas 'Indarung Biennale', Kemenbud Bersama Danantara Siap Sulap Indarung I Jadi Venice-nya Indonesia

Jum'at, 26/06/2026 20:47 WIB
-

-

Laporan Nasrul Azwar

Padang, sumbarsatu.com— Raksasa beton yang membisu selama bertahun-tahun di sudut Kota Padang kini bersiap membuka lembaran sejarah baru. Pabrik Indarung I PT Semen Padang, sebuah kompleks industri monumental seluas lima hektare yang didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda tahun 1910, tidak lagi dirancang sekadar sebagai museum mati penanda masa lalu.

Kompleks pabrik semen pertama di Asia Tenggara ini kini diproyeksikan bertransformasi secara radikal menjadi episentrum kebudayaan, sebuah ruang kreatif produktif berskala internasional yang siap menyamai kemegahan pusat seni dunia di Eropa.

Langkah strategis ini mencuat ke permukaan dalam Simposium Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Indarung I yang bertajuk “Masa Depan Cagar Budaya Pabrik Indarung I”. Perhelatan intelektual ini diinisiasi oleh lembaga swadaya Indarung Heritage Society (IHS) yang dilangsungkan di Wisma Indarung, Padang, pada Minggu (21/6/2026).

Simposium tersebut mempertemukan jajaran pembuat kebijakan puncak, direksi korporasi, arsitek, akademisi, hingga perwakilan masyarakat adat demi merumuskan cetak biru (masterplan) masa depan situs sejarah industri nasional tersebut.

Sentuhan Global dan "Indarung Biennale"

Hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker), Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan komitmen penuh pemerintah pusat untuk mendorong pemanfaatan cagar budaya nasional secara aktif.

 Pria asal Payakumbuh yang menyandang gelar adat Datuak Bijo Dirajo Nan Kuniang ini menekankan bahwa pelestarian fisik sebuah situs bersejarah tidak akan pernah cukup jika tidak dibarengi dengan asas kebermanfaatan yang berkelanjutan bagi publik luas. Hal ini sejalan dengan amanat hukum yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

"Alhamdulillah, saya kembali berkesempatan hadir di PT Semen Padang, khususnya di kawasan Cagar Budaya Indarung I. Kawasan ini merupakan salah satu situs industri bersejarah yang sangat penting bagi Indonesia," ujar Fadli Zon di hadapan para peserta simposium.

Menurutnya, saat ini, Indarung I memang sudah tidak lagi difungsikan sebagai pabrik. Ia mengaku telah dua kali mengunjungi kawasan ini dan melihat bahwa beberapa bagian sudah dimanfaatkan, namun potensinya masih jauh dari optimal.

“ Karena itulah kita menyelenggarakan dialog, diskusi, dan simposium ini, untuk mencari gagasan terbaik mengenai pemanfaatan Indarung I, terutama sebagai ruang kebudayaan," tegasnya.

Fadli Zon, yang memiliki ketertarikan mendalam pada dunia seni rupa dan sejarah, melihat struktur baja yang berkarat, menara pemandangan silindris, tangki raksasa, dan dinding-dinding beton tebal berselimut lumut di Indarung I bukan sebagai rongsokan tua, melainkan sebagai sebuah kanvas seni yang bernilai estetika tinggi.

Baginya, lanskap pasca-industri (post-industrial landscape) semacam ini menawarkan atmosfer dramatis yang sangat dicari oleh para perupa kontemporer global.

Gagasan paling revolusioner yang ditawarkan oleh Menteri Kebudayaan dalam forum tersebut adalah peluncuran Indarung Biennale—sebuah perhelatan akbar pameran seni rupa danfestival pertunjukan seni  kontemporer internasional berdurasi dua tahunan yang akan memosisikan Sumatera Barat di peta seni dunia.

"Salah satu gagasan yang saya tawarkan adalah penyelenggaraan Indarung Biennale. Tentu biennale tidak dapat dipersiapkan secara instan. Perlu perencanaan yang matang sehingga, paling tidak, dapat diselenggarakan pada tahun depan," tutur Fadli Zon menjelaskan lini masa proyek ambisius tersebut.

 "Saya telah berdiskusi dengan Kepala Galeri Nasional mengenai kemungkinan tersebut. Biennale dapat menjadi ajang internasional yang menghadirkan karya-karya seni rupa, seperti lukisan, patung, instalasi, maupun karya-karya kontemporer lainnya, sehingga mampu menarik perhatian seniman, kurator, kolektor, dan pencinta seni dari berbagai negara."

Sebagai langkah persiapan konkret sebelum melangkah ke panggung dunia, Kementerian Kebudayaan berencana mengawali aktivasi ruang dengan menggelar serangkaian festival dan  pameran seni berskala nasional terlebih dahulu. Strategi ini diambil agar publik dan komunitas seni tanah air mulai akrab dengan karakter ruang Indarung I.

Fadli Zon menarik analogi sukses dari benua Eropa, khususnya Arsenale di Venesia, Italia. Kompleks yang dulunya merupakan pusat galangan kapal dan gudang persenjataan kuno sejak abad ke-12 tersebut kini telah berhasil dialihfungsikan menjadi lokasi utama penyelenggaraan Venice Biennale, kiblat seni rupa paling bergengsi di dunia.

Baru-baru ini, Kementerian Kebudayaan RI bahkan ikut berpartisipasi di Venice Biennale dengan mengirimkan tujuh seniman grafis tanah air untuk program residensi di Scuola Grafica, Venesia, dan dua pementasan teater: Under The Volcano dan Hikayat Perahu yang mendapatkan respons internasional yang sangat positif.

"Konsep serupa dapat diterapkan di Indarung Biennale dengan menonjolkan karakter industri yang menjadi kekuatan dan pembeda dari kegiatan tersebut. Di berbagai negara, pemanfaatan kawasan industri lama sebagai ruang kebudayaan telah berhasil dilakukan. Saya melihat Indarung I memiliki potensi yang tidak kalah besar. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini dapat menjadi salah satu pusat ekspresi seni dan kebudayaan Indonesia yang memiliki karakter sangat kuat," kata Fadli Zon optimistis.

Sinergi Multi-Pihak dan Sokongan Pendanaan Danantara

Untuk mewujudkan transformasi berskala megah ini, tata kelola fisik dan finansial menjadi krusial. Kawasan Indarung I yang memiliki luas tanah sekitar lima hektare ini direncanakan dibagi ke dalam zonasi fungsional yang teratur, meliputi galeri pameran seni rupa dalam ruangan (indoor), taman instalasi patung luar ruangan (outdoor), ruang pertunjukan teater dan sastra, hingga pembangunan sebuah amphitheater terbuka di bagian tengah kompleks yang akan difungsikan sebagai panggung pertunjukan tari dan musik tradisional maupun modern.

Proses pembenahan awal akan dimulai dari pembersihan kawasan secara menyeluruh dari material berbahaya, penguatan struktur bangunan (konservasi fisik), penataan lanskap hijau, hingga penyusunan masterplan terpadu.

Dalam aspek pendanaan dan kemitraan strategis, Kementerian Kebudayaan menegaskan tidak akan berjalan sendirian. Pemerintah telah menjalin komunikasi intensif dengan Danantara Trust Fund untuk menerapkan skema Kemitraan Pemerintah dan Swasta (Public-Private Partnership).

"Saya juga telah berdiskusi dengan Danantara serta berbagai pihak lainnya yang menyatakan dukungan terhadap gagasan ini. Ke depan, Kementerian Kebudayaan siap bekerja sama dengan PT Semen Padang, Danantara Trust Fund, pemerintah daerah, dan berbagai pihak lainnya. Kami juga telah memiliki nota kesepahaman dengan Danantara Trust untuk mendukung program-program di bidang pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan melalui skema kemitraan," urai Fadli Zon.

Saat ini, Indonesia tercatat memiliki sekitar 743 situs cagar budaya berstatus tingkat nasional. Melalui proyek revitalisasi Indarung I ini, pemerintah ingin menetapkan sebuah standar baru (benchmark) tentang bagaimana sebuah warisan industri berat masa lalu dapat dihidupkan kembali sebagai motor penggerak ekonomi kreatif, pariwisata budaya, dan industri seni baru yang memberikan nilai tambah ekonomi langsung kepada masyarakat lokal di sekitarnya.

Komitmen PT Semen Padang, Menjaga Memori Kolektif Bangsa

Sebagai pemilik aset, manajemen PT Semen Padang menyambut baik rencana besar ini dengan antusiasme tinggi. Direktur Utama PT Semen Padang, Pri Gustari Akbar, yang hadir langsung mendampingi jajaran Komisaris Utama Werr y Darta Taifur menyatakan bahwa perusahaan memandang pabrik tua ini jauh lebih berharga daripada sekadar deretan dinding bata dan mesin penggiling yang telah usang. Indarung I adalah simbol modernitas, identitas sosial, dan heroisme ketenagakerjaan masyarakat Sumatera Barat.

"Pabrik Indarung I bukan sekadar bangunan tua, tetapi saksi lahirnya industri semen modern di Indonesia, sekaligus bagian penting dari perjalanan pembangunan bangsa," tegas Pri Gustari Akbar dalam pidatonya. "Nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya berupa struktur fisik, tetapi juga memori kolektif, warisan teknologi, sejarah sosial, serta identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang."

Ia menegaskan bahwa pihak korporasi berkomitmen penuh untuk membuka pintu kolaborasi selebar-lebarnya demi mengubah kawasan ini menjadi pusat pariwisata edukasi dan sejarah industri yang modern tanpa menghilangkan nilai autentisitas aslinya.

"Harapan kami, Pabrik Indarung I dapat menjadi contoh sukses bagaimana warisan industri dikelola secara modern tanpa kehilangan nilai sejarah, karakter, dan autentisitasnya. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Semoga simposium ini menghasilkan gagasan dan rekomendasi terbaik bagi masa depan Pabrik Indarung I," tambah Pri Gustari.

Menghindari Stagnasi Lewat Partisipasi Publik

Di sisi lain, tantangan nyata di lapangan dikupas secara tajam oleh para praktisi dan penggiat komunitas kebudayaan lokal yang telah bertahun-tahun mengawal keberadaan situs ini.

Ketua sekaligus pendiri Indarung Heritage Society (IHS), M. Aidil Usman, mengingatkan forum bahwa penetapan sebuah kawasan menjadi cagar budaya nasional membawa konsekuensi hukum dan moral yang besar. Status kepemilikan kawasan kini telah bergeser dari sekadar aset korporasi murni menjadi aset publik yang pengelolaannya wajib berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

"Pengelolaan kawasan ini harus benar-benar memberikan manfaat agar tidak mengalami stagnasi di masa mendatang. Kita semua memahami bahwa kawasan ini merupakan aset negara. Sejak ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, statusnya tidak lagi semata-mata sebagai aset perusahaan, tetapi telah menjadi aset publik yang harus dikelola untuk kepentingan masyarakat," papar M. Aidil Usman secara lugas.

Aidil merefleksikan perjuangan panjang IHS selama delapan tahun terakhir dalam menjaga dan menghidupkan kawasan tersebut di tengah dinamika birokrasi dan keterbatasan fasilitas. Baginya, simposium hari itu adalah momentum krusial untuk meletakkan fondasi peradaban bagi generasi masa depan.

Ia mencontohkan keberhasilan Kota Milan di Italia yang mampu melakukan transformasi total dari sebuah kota industri manufaktur tradisional yang kaku menjadi kota mode dan desain dunia berbasis kebudayaan (culture-based industry).

IHS sendiri sebetulnya telah memulai langkah-langkah kecil namun berdampak besar untuk mengaktifkan ruang publik di Indarung I. Salah satu kegiatan monumental yang pernah digelar adalah pada tahun 2023, di mana komunitas ini mengumpulkan ribuan masyarakat untuk menggelar acara memasak rendang bersama di tengah-tengah kompleks pabrik tua.

"Bagi kami, memasak bukan sekadar aktivitas kuliner, tetapi bagian dari peradaban. Memasak adalah simbol kemampuan manusia mengolah alam menjadi kehidupan. Di dalam tradisi Minangkabau, makan bersama merupakan ruang untuk membangun musyawarah, memperkuat persaudaraan, dan mencapai mufakat. Karena itu, berbagai kegiatan budaya seperti ini harus terus dikembangkan agar kawasan Indarung menjadi ruang hidup yang mempertemukan masyarakat, seni, tradisi, dan kebudayaan," kenang Aidil Usman.

Senada dengan Aidil, Abdul Hakim dari Marandang Institute menyoroti pentingnya merumuskan tata kelola regulasi yang adaptif. Ia menyarankan agar tim perumus masterplan mengadopsi berbagai contoh praktik terbaik (best practices) dari luar negeri, namun tetap menyelaraskannya dengan hukum adat, norma sosial, dan struktur pemangku kepentingan di Indonesia.

Sementara itu, Hari Setyawan, perwakilan Badan Pengelola Borobudur, menitikberatkan faktor keberhasilan revitalisasi pada pelibatan aktif masyarakat lokal, khususnya warga Nagari Lubuak Kilangan.

Menurutnya, proyek sebesar apa pun akan menemui kegagalan jika masyarakat sekitar hanya ditempatkan sebagai penonton pasif. Warga harus diberikan hak dan akses ruang untuk ikut merancang, berdagang produk ekonomi kreatif, dan mengelola jalannya pariwisata.

Dari sudut pandang akademis dan struktural, Jonny Wongso, seorang arsitek sekaligus akademisi dari Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, menggarisbawahi faktor urgensi waktu terkait kondisi fisik bangunan. Kerusakan struktural akibat cuaca ekstrem dan usia bangunan yang telah melewati satu abad menuntut adanya tindakan penyelamatan fisik yang cepat, paralel dengan penyusunan masterplan kebudayaan.

"Masih banyak hal yang perlu dirancang bersama mengenai model pengelolaan kawasan ini. Yang harus segera dilakukan adalah menyusun desain besar (masterplan) yang menjadi pedoman pengembangan kawasan," urai Jonny Wongso mengingatkan.

Kawasan ini, menurutnya, memiliki banyak bangunan dan infrastruktur yang apabila tidak segera ditangani akan mengalami kerusakan yang lebih parah. Karena itu, konservasi fisik harus berjalan bersamaan dengan penyusunan model pemanfaatannya.

“Dengan demikian, kawasan Cagar Budaya Indarung I tidak hanya terpelihara, tetapi juga mampu berkembang menjadi ruang publik yang produktif, edukatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," imbuhnya.

Rencana besar Kementerian Kebudayaan ini bukan sekadar wacana politis di atas panggung simposium. Kehadiran Feri Arlius sebagai Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan di bawah Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, menjadi jaminan bahwa proyek ini memiliki motor eksekusi yang nyata.

Sebagai direktur yang bertanggung jawab langsung atas pembangunan, pengembangan, dan modernisasi fasilitas seni budaya di seluruh Indonesia, Feri Arlius memegang peranan kunci dalam menerjemahkan visi Menteri Kebudayaan ke dalam penganggaran dan cetak biru fisik.

Rekam jejak direktoratnya dalam menyalurkan bantuan renovasi gedung pertunjukan, ruang latihan, serta pembenahan cagar budaya agar lebih representatif bagi masyarakat, akan menjadi fondasi utama penataan Indarung I.

Dukungan Penuh Pemerintah Kota Padang

Rencana strategis ini mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Padang. Mewakili jajaran pemerintahan daerah, Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, menyatakan siap mengawal seluruh proses perizinan, integrasi tata ruang kota, hingga penyediaan infrastruktur aksesibilitas pendukung menuju kawasan Indarung I.

 

“Keberadaan Indarung Biennale dan pusat seni baru yang disampaikan Pak Fadli Zin tadi  diyakini akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata serta membuka lapangan kerja baru bagi warga kota,” kata Buya Maigus.

Pada sesi penutup simposium yang membincangkan terkait dengan konten, keberlanjutan  program, memperkuat kapasitas komunitas dan partisipasi publik agar Indarung I milik bersama menghadirkan  narasumber Alfa Noranda (Dosen Arkeologi Universitas Andalas), S Metron Masdison (seniman/aktivis budaya), dan kurator Galanggang Arang Donny Eros.

Simposium menghasilkan kesepahaman bersama bahwa seluruh  pemangku kepentingan sepakat untuk bergerak cepat membentuk tim perumus lintas sektoral guna mengeksekusi rekomendasi simposium.

Dengan dukungan politik yang kuat dari Kementerian Kebudayaan, kesiapan korporasi PT Semen Padang, pendanaan strategis Danantara, keahlian para akademisi, serta militansi komunitas cagar budaya, transformasi Pabrik Indarung I bukan lagi sekadar impian di atas kertas.

Raksasa beton penyokong pembangunan fisik Indonesia di abad lampau itu kini bersiap bangkit kembali, menjelma menjadi mercusuar pembangunan peradaban dan kebudayaan Indonesia di mata dunia.

Terlihat hadir dalam simposium Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Sekretaris Direktorat Jenderal  Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Undri, Kepala BP Kebudayaan Sumatera Barat, Nurmatias, akademisi, komunitas pegiat cinta cagar budaya, seniman dan budayawan, tokoh masyatakat dan  jajaran pengurus KAN Lubuak Kilangan, dan masyarakat.*                                                                                                                                     



BACA JUGA