Majunya Kedai Kopi Aceh

Minggu, 07/06/2026 19:14 WIB

OLEH Elfindri--FEB Unand

SAYA baru tiga kali mengunjungi Kota Banda Aceh: sekali sebelum tsunami 2004, dan dua kali setelah itu, yaitu pada tahun 2021 dan 2026.

Terakhir, saya merasa kaget saat mengunjungi Kota Banda Aceh pada awal Juni 2026. Kotanya bersih. Begitu malam mulai merayap, di sepanjang jalan utama kota, sangat terasa kemajuan bisnis restoran, khususnya kedai kopi.

Saya mendalami perbandingan antara Padang dan Banda Aceh. Kota Padang berpenduduk empat kali lebih besar daripada Banda Aceh. Namun, berdasarkan data statistik kedai kopi melalui pesanan GoFood, jumlah tempat mengopi di Padang berkisar 600 lokasi, sedangkan di Kota Banda Aceh tersebar sekitar 400 lokasi. Artinya, secara proporsional, Banda Aceh memiliki lebih banyak kedai kopi per 10.000 penduduk dibandingkan dengan Padang. Apa yang membuat kedai kopi di kota ini begitu maju?

Profesionalitas Kedai Kopi

Dalam konteks perkembangan ilmu kuliner (culinary), komponen di dalamnya tidak sekadar mengenai ketersediaan jenis makanan dan minuman, tetapi juga penataan restoran, manajemen layanan, serta arsitektur kedai.

Khusus untuk kopi, Banda Aceh memang jauh lebih maju, baik dari segi rasa maupun variasi minuman (beverage) berbasis kopi yang tersedia.

Perkembangan ini terlihat dari luasnya area serta banyaknya kursi yang tersedia di masing-masing kedai kopi. Jumlah kursi bervariasi, mulai dari 40 hingga 200 kursi. Namun, kedai kopi yang memiliki kapasitas 100 kursi ke atas jumlahnya sangat banyak. Keberadaan kedai kopi ini terkesan cukup merata di berbagai sudut kota dan selalu ramai oleh pengunjung.

Kesan positif lainnya terletak pada arsitektur kedai kopi, kecanggihan mesin kopi, kualitas meja dan kursi, serta tata pencahayaan (lighting) yang memang lebih modern.

Saya sempat melakukan observasi acak terhadap enam toilet di kedai kopi yang berbeda. Hasilnya, semua bersih, airnya lancar, dan menyediakan tempat cuci tangan yang layak.

Saat memasuki area kedai, pengunjung langsung disambut oleh petugas parkir yang mengatur kendaraan secara teratur dan sopan.

Secara kualitas, kedai-kedai kopi ini rasanya sudah mampu menjadi pesaing tangguh bagi kedai kopi waralaba internasional, seperti Nero Coffee yang terkenal di Eropa.

Faktor Pendorong Kemajuan

Faktor utama perkembangan ini berasal dari dorongan internal (internal driven) dan eksternal (external driven), khususnya selama masa pascatsunami.

Faktor internal dipicu oleh kehadiran lembaga donor internasional yang menciptakan banyak aktivitas turunan. Hal ini membuat kopi diadopsi sebagai minuman utama dalam berbagai acara pemerintahan, terlebih lagi pada kegiatan lembaga donor.

Usai tsunami, banyak konsultan ekspatriat yang datang untuk membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Mereka menjadikan kedai kopi sebagai tempat bekerja dan berdiskusi untuk menyelesaikan berbagai rencana program.

Aktivitas ini tidak hanya mendongkrak konsumsi kopi, tetapi juga mendatangkan para ahli dari berbagai negara sebagai mentor untuk memajukan industri kopi lokal.

Penataan dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit, teknik budidaya, peningkatan mutu, hingga strategi pencitraan merek (branding). Mengingat luas lahan perkebunan kopi juga meningkat akibat tingginya permintaan domestik dan global, budaya mengopi pun akhirnya meluas ke seluruh lapisan masyarakat.

Sekarang, para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh—baik dari Malaysia, Jakarta, maupun Medan—sudah pasti menyempatkan diri untuk menikmati kemajuan warung kopi di sana.

Dari segi kantong, harga per porsi kopi yang ditawarkan masih di bawah harga Starbucks, yaitu berkisar Rp30.000,00. Bahkan untuk segelas kopi tradisional, harganya hanya berkisar Rp10.000,00.

Kota Padang mesti belajar banyak dari pengelolaan industri kopi di Aceh. Kedai kopi di Aceh tidak tumbuh sekadar asal buka gerai, melainkan mampu memenuhi kebutuhan dan kenyamanan pelanggan. Padang sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar, mengingat jumlah kunjungan wisatawan ke Sumatra Barat secara umum jauh lebih tinggi daripada ke Banda Aceh.*



BACA JUGA