Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, IHSG Terpuruk ke Titik Terendah Sejak Pandemi

Minggu, 07/06/2026 07:29 WIB
PANIK

PANIK

Jakarta, sumbarsatu.com — Pasar keuangan Indonesia kembali berada dalam tekanan berat. Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat memicu gejolak di pasar saham dan menggerus triliunan rupiah nilai perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 4,19 persen ke level 5.594,76. Angka tersebut menjadi posisi terendah sejak November 2020, ketika pandemi Covid-19 mengguncang perekonomian global dan pasar keuangan nasional.

Tekanan terhadap pasar saham tidak terjadi dalam sehari. Dalam rentang 2–5 Juni 2026, IHSG telah terkoreksi 8,69 persen. Bahkan, selama empat hari perdagangan berturut-turut, indeks mengalami pelemahan dengan total penurunan mencapai 21,13 persen.

Koreksi tajam itu berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia. Dalam sepekan, nilai pasar emiten-emiten yang tercatat di bursa menyusut dari Rp10.729 triliun menjadi Rp9.807 triliun.

Jika dibandingkan dengan posisi awal tahun, kerugian yang dialami pasar modal jauh lebih besar. Kapitalisasi pasar telah terpangkas sekitar Rp6.206 triliun atau turun 38,8 persen dari posisi Rp16.014 triliun pada awal 2026. Saat itu, IHSG masih berada di level 8.748,13.

Tekanan juga datang dari derasnya arus keluar modal asing. Investor nonresiden kembali mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp3,73 triliun pada perdagangan Jumat. Sepanjang pekan, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp13,77 triliun.

Secara kumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia telah mencapai Rp61,36 triliun. Fenomena ini memperlihatkan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset-aset di pasar domestik.

DPR Panggil Menkeu dan Gubernur BI

Di tengah gejolak pasar tersebut, pimpinan DPR RI menggelar pertemuan khusus dengan Menteri Keuangan Purbaya dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Sabtu pagi.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan bahwa pertemuan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi nasional sekaligus memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

Langkah itu dinilai penting mengingat tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan membutuhkan respons yang terintegrasi antara pemerintah dan bank sentral.

Usai pertemuan, Perry Warjiyo mengungkapkan dua strategi utama yang akan ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen investasi domestik melalui penguatan imbal hasil sehingga dapat mendorong masuknya kembali aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.

Kedua, menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan industri perbankan. Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan kas negara yang ditempatkan di Bank Indonesia, termasuk peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan bank sentral kepada pemerintah.

"Koordinasi fiskal dan moneter harus semakin kuat agar stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar global," demikian pesan yang mengemuka dari pertemuan tersebut.

Pemerintah Bantah Narasi Krisis 1998

Di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar, Menteri Keuangan Purbaya berupaya meredam sentimen negatif yang berkembang di kalangan investor internasional.

Ia menanggapi pernyataan sejumlah hedge fund asing yang menyerukan aksi "sell Indonesia". Menurutnya, pandangan tersebut muncul karena ketidaktahuan terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Purbaya menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang menuju situasi seperti krisis ekonomi 1998.

Sebagai bentuk respons, Kementerian Keuangan mempercepat pelaksanaan konferensi pers APBN KiTa untuk memberikan gambaran terkini mengenai kondisi fiskal negara.

Melalui forum tersebut, pemerintah berupaya meyakinkan pelaku pasar bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, kondisi fiskal tetap terjaga, dan berbagai indikator makroekonomi masih berada dalam batas yang aman.

Meski demikian, tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah mengembalikan kepercayaan investor. Sebab, selama tekanan terhadap rupiah dan arus keluar modal asing masih berlangsung, volatilitas pasar keuangan diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Bagi pelaku pasar, pekan pertama Juni 2026 menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi bukan hanya ditentukan oleh kuatnya fundamental, tetapi juga oleh kepercayaan. Ketika kepercayaan mulai goyah, pasar bereaksi jauh lebih cepat daripada kebijakan yang disiapkan untuk menenangkannya.ssc



BACA JUGA