Prabowo Resmikan Museum Marsinah, Simbol Penghormatan terhadap Perjuangan Buruh Indonesia

Sabtu, 16/05/2026 19:29 WIB

Nganjuk, sumbarsatu.com — Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan pekerja Indonesia sekaligus pengingat pentingnya perlindungan hak-hak buruh.

Dalam sambutannya, Presiden menyatakan museum tersebut didedikasikan untuk mengenang perjuangan kaum buruh di Indonesia. Menurutnya, keberadaan museum buruh merupakan peristiwa langka yang memiliki makna penting dalam perjalanan sejarah bangsa.

“Museum ini didirikan sebagai lambang, simbol, dan tonggak peringatan untuk mengenang keberanian seorang pejuang muda, seorang pejuang perempuan yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden menegaskan, perjuangan Marsinah menjadi simbol perjuangan masyarakat kecil dan kelompok yang berada dalam posisi lemah, baik secara ekonomi maupun kekuasaan.

Ia menilai tragedi yang dialami Marsinah seharusnya tidak pernah terjadi karena Indonesia dibangun di atas falsafah Pancasila yang menjunjung nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyinggung nilai kekeluargaan dalam Pancasila yang mengajarkan bahwa pihak yang kuat harus membantu yang lemah.

“Buruh adalah anak-anak bangsa, petani adalah anak-anak bangsa, nelayan adalah anak-anak bangsa. Semuanya,” katanya.

Presiden berharap peristiwa serupa yang dialami Marsinah tidak kembali terulang pada masa mendatang.

Pada kesempatan itu, Prabowo juga mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan Museum Marsinah berawal dari aspirasi kalangan buruh yang mengusulkan agar Marsinah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Menurut Presiden, pimpinan serikat pekerja sepakat mengusulkan nama Marsinah sebagai tokoh perjuangan buruh yang layak memperoleh penghormatan negara.

Usai peresmian, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan Museum Marsinah akan berfungsi sebagai ruang edukasi yang mendokumentasikan arsip sejarah ketenagakerjaan, termasuk perjuangan penetapan upah minimum, hak cuti hamil, dan hak berserikat.

Museum tersebut juga diharapkan menjadi pusat studi hukum ketenagakerjaan bagi generasi pekerja baru.

Menurut Yassierli, keberadaan museum menjadi pengingat penting mengenai perlindungan hak asasi pekerja, baik bagi aparat penegak hukum maupun dunia usaha, agar tragedi kekerasan terhadap pekerja yang memperjuangkan hak-haknya tidak kembali terjadi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Agus Subiyanto, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, serta perwakilan organisasi buruh nasional dan internasional, termasuk International Labour Organization, ATUC, dan ITUC.ssc



BACA JUGA