4
Amsterdam, sumbarsatu.com—Di tengah dunia yang makin berisik oleh praktik ilegal, ada suara-suara yang justru berdiri tegak melawan arus. Mereka tidak selalu tampil di panggung besar, tetapi keberanian mereka mengguncang sistem yang korup dan kekuasaan yang menindas.
Pada 19 Februari 2026, Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) untuk pertama kalinya menganugerahkan Penghargaan Pahlawan Anti-Kejahatan & Korupsi. Lebih dari 130 nominasi dari publik masuk, sebelum editor memilih dua sosok yang dianggap mewakili keberanian moral di garis depan perjuangan integritas.
Mereka adalah perempuan. Mereka bekerja di ruang berbeda. Namun keduanya dipersatukan oleh satu hal: menolak diam.
Ruth López: Ketika Membela Hukum Berujung Penjara
Di El Salvador, nama Ruth López Alfaro telah lama identik dengan perlawanan terhadap korupsi sistemik dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebagai Kepala Bagian Hukum Unit Anti-Korupsi di Cristosal, ia memimpin berbagai gugatan berisiko tinggi, termasuk penyelidikan penggunaan dana publik saat pandemi dan praktik pengawasan negara melalui spyware Pegasus.

Langkahnya kerap berseberangan dengan pemerintahan Presiden Nayib Bukele. Sejak periode kedua Bukele, tekanan terhadap jurnalis, aktivis, dan organisasi sipil meningkat — sebuah lanskap yang membuat pembela HAM seperti López berada dalam sorotan sekaligus ancaman.
Puncaknya terjadi pada 18 Mei 2025. Polisi masuk ke rumah López tanpa surat perintah, menahannya selama 32 jam tanpa komunikasi. Pengamat internasional menyebut peristiwa itu sebagai “penghilangan paksa jangka pendek.”
Negara menuduhnya melakukan penggelapan dan pengayaan ilegal — tuduhan yang banyak pihak nilai bermotif politik. Selama prosesnya, ia dipindah-pindahkan fasilitas penahanan, ditolak akses ke pengacara, hingga akhirnya ditempatkan di penjara berkeamanan tinggi Izalco tanpa komunikasi selama berbulan-bulan.
Meski terkurung, suaranya tidak padam. Amnesty International menetapkannya sebagai tahanan hati nurani pada 2025, sementara American Bar Association memberinya International Human Rights Award.
Hingga akhir 2025, penahanan pra-sidang López diperpanjang tanpa sidang terbuka — praktik yang dikritik pelapor khusus PBB sebagai bentuk hukuman terhadap pembela HAM. Namun bagi banyak orang, keteguhan López justru menjadikannya simbol perlawanan terhadap kriminalisasi perbedaan pendapat.
Carmen Aristegui: Jurnalisme sebagai Benteng Publik
Di benua lain, keberanian serupa muncul dari ruang redaksi. Jurnalis investigasi Carmen Aristegui telah puluhan tahun membongkar korupsi dan konflik kepentingan di Meksiko.
Melalui media independen Aristegui Noticias, ia baru-baru ini mempublikasikan “Televisa Leaks” — kebocoran data internal raksasa media Televisa. Dokumen itu mengungkap operasi “Palomar”, kampanye fitnah terstruktur yang diduga memanfaatkan bot, manipulasi opini publik, hingga upaya merusak reputasi hakim dan jurnalis.

Namun reputasi Aristegui sebagai pengawas kekuasaan sebenarnya telah terbentuk jauh sebelumnya. Investigasinya tentang skandal “Casa Blanca” mengungkap pembelian rumah mewah oleh istri Presiden Enrique Peña Nieto dari kontraktor pemerintah — salah satu skandal korupsi terbesar dalam sejarah modern Meksiko.
Laporan itu berujung pada pemecatannya dari radio MVS dan gelombang tekanan baru, termasuk pengawasan melalui spyware Pegasus. Di negara yang dikenal berbahaya bagi jurnalis, Aristegui memilih jalan independen — mendirikan medianya sendiri dan terus menantang kekuasaan serta monopoli media.Keberaniannya menegaskan satu prinsip sederhana: publik berhak mengetahui.
Keberanian sebagai Harapan
Penghargaan OCCRP ini bukan sekadar pengakuan personal. Ia menjadi pengingat bahwa perlawanan terhadap kejahatan terorganisir dan korupsi sering dimulai dari individu yang menolak kompromi — meski harus membayar mahal.
Ruth López menunjukkan bahwa supremasi hukum bisa dipertahankan bahkan dari balik jeruji. Carmen Aristegui membuktikan jurnalisme tetap menjadi benteng terakhir ketika institusi goyah.
Di tengah dunia yang kerap memberi ruang bagi kekuasaan untuk menekan, kisah mereka menyalakan satu pesan yang tak mudah dipadamkan: keberanian masih ada — dan selalu menemukan jalannya.ssc/mn
Sumber:> https://www.occrp.org/