Teater Kemanusiaan di Medan, Jurnalis Perempuan Suarakan Derita Pengungsi Bencana Sumatera

Kamis, 19/02/2026 17:46 WIB
Proses latihan teater Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan yang disutrdarai Hafiz Taadi. foto dok FJPI

Proses latihan teater Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan yang disutrdarai Hafiz Taadi. foto dok FJPI


Medan, sumbarsatu.com—Sabtu, 7 Maret 2026, Auditorium Bung Karno di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal, Medan, akan berubah menjadi ruang empati. Cahaya panggung dan suara tubuh para pemain akan menghadirkan kisah para penyintas banjir Sumatera melalui pementasan teatrikal bertajuk Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan.

Pertunjukan ini mempertemukan jurnalis perempuan dan seniman teater dalam satu panggung kemanusiaan. Jika selama ini jurnalis hadir lewat teks dan data, kali ini mereka menyampaikan laporan melalui tubuh, suara, dan emosi. Konsep performance journalism itu disutradarai Hafiz Taadi, pendiri Medan Teater Tronic yang pernah belajar pada maestro teater Indonesia, W. S. Rendra.

Pementasan merupakan kolaborasi Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, Rumah Literasi Ranggi, dan Medan Teater Tronic. Ketiganya berupaya menjaga ingatan publik agar tidak pudar terhadap bencana yang melanda sejumlah wilayah Sumatera dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Umum FJPI, Khariah Lubis, menegaskan fase pemulihan kerap luput dari sorotan media setelah banjir surut. Padahal, menurutnya, perjuangan korban justru dimulai saat perhatian publik meredup. Ia mengutip data yang disampaikan Ketua Satgas Pemulihan Bencana Sumatera, Tito Karnavian, bahwa sekitar 13 ribu warga masih bertahan di tenda pengungsian pada awal Ramadan.

Situasi itu menjadi ironi: banjir telah berlangsung sekitar tiga bulan, sementara sebagian warga masih tinggal di hunian sementara, membangun tenda di atas puing rumah, menyewa tempat tinggal, atau kembali ke rumah rusak dengan risiko keselamatan.

“Pementasan ini bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga upaya penggalangan donasi bagi korban,” ujar Khariah Lubis, Kamis (19/2/2026).

Bagi FJPI, panggung kemanusiaan bukan pengalaman pertama. Pada 2024, organisasi tersebut pernah mementaskan kisah jurnalis perempuan lewat pertunjukan Tulang Panggang. Kini, tema jurnalisme bencana diangkat sebagai suara bagi mereka yang masih hidup di pengungsian.

Penggagas ide sekaligus penulis naskah, Ranggini, melihat kolaborasi ini sebagai perluasan gerakan literasi melalui seni. Ia menilai teater memiliki daya tembus emosional yang kuat untuk menghadirkan refleksi sosial dan solidaritas kemanusiaan.

Selain pertunjukan dan diskusi, kegiatan akan diakhiri dengan silaturahmi serta berbuka puasa bersama. Penonton juga diajak menjadi bagian dari gerakan solidaritas melalui donasi bagi penyintas banjir Sumatera. Dana yang terkumpul akan disalurkan langsung ke wilayah terdampak melalui rekening Yayasan Rumah Literasi Ranggi.

Di tengah Ramadan, panggung ini menjadi pengingat: setelah air surut, derita belum tentu berakhir. Teater pun hadir sebagai jembatan empati—menghubungkan cerita pengungsi dengan kesadaran publik bahwa pemulihan bencana adalah tanggung jawab bersama.ssc/rel



BACA JUGA