jual7
Surakarta, sumbarsatu.com — Panggung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Senin malam, 9 Februari 2026, menjadi saksi pencapaian penting dalam dunia akademik seni pertunjukan Indonesia. Kurniasih Zaitun, mahasiswa Program Doktor (S3) Penciptaan Seni Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, resmi meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude setelah menjalani ujian promosi melalui pementasan karya teater berjudul Jual Bual.
Ujian pergelaran karya seni disertasi itu dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Penguji, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., yang juga Rektor ISI Surakarta. Dalam suasana khidmat yang dipenuhi seniman, akademisi, dan penonton umum, sidang promosi berlangsung sekaligus sebagai pertunjukan terbuka yang menampilkan karya penciptaan seni berbasis riset.
Disertasi yang diajukan berjudul Jual Bual: Dramaturgi Kurenah dalam Penciptaan Teater Kontemporer. Setelah melalui proses penilaian dan pendalaman oleh para penguji, Kurniasih Zaitun dinyatakan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan.
“Setelah dilakukan pendalaman dan penilaian oleh para penguji, maka dinyatakan lulus dengan perbaikan dengan total nilai 35,31, dengan hasil akhir 3,92. Dengan nilai tersebut, indeks prestasi kumulatif yang diraih promovenda adalah 3,97. Artinya, promovenda lulus dengan predikat cumlaude atau dengan pujian,” sebut Bondet Wrahatnala saat membacakan berita acara sidang.

Setelah dibacakan, ia menyerahkan Surat Keputusan Lulus kepada promovenda Kurniasih Zaitun sebagai penegasan bahwa ia resmi menyandang gelar doktor. Momen itu disambut tepuk tangan meriah dari hadirin yang memenuhi ruang teater.
Dengan capaian tersebut, Kurniasih Zaitun tercatat sebagai doktor ke-162 di Program Pascasarjana ISI Surakarta. Ia juga menjadi mahasiswa doktor pertama di program tersebut yang menjalani ujian terbuka melalui konversi pementasan karya seni, bukan presentasi akademik konvensional.
Sekretaris Dewan Penguji, Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn., menyampaikan apresiasi terhadap capaian tersebut.
“Selamat malam, Dr. Kurniasih Zaitun. Karya Jual Bual Anda sudah diapresiasi dengan senang oleh para penonton. Karya Mbak Tintun memukau,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa model ujian melalui pementasan karya tersebut dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa lain yang menempuh jalur penciptaan seni.
“Anda adalah mahasiswa program doktor yang pertama kali melaksanakan ujian terbuka yang dikonversi dengan gelar karya. Ini akan menjadi model bagi mahasiswa kami yang menempuh jalur penciptaan. Syaratnya adalah menulis jurnal internasional terindeks Scopus Q1 atau Q2, dan Mbak Tintun sudah melakukannya,” kata Aries.
Ucapan selamat juga datang dari para penguji lainnya. Prof. Dr. Stepanus Hanggar Budi Prasetya, S.Sn., M.Si., mengapresiasi kualitas tulisan disertasi maupun karya panggungnya.
“Saya kenal baik dengan Mbak Tintun. Tulisannya sangat bagus dan sangat rajin. Saya membaca disertasinya dengan sangat teliti, dan tidak menemukan kesalahan. Luar biasa,” ujarnya.
Sementara itu, maestro tari kontemporer Indonesia, Prof. Sardono W. Kusumo, menilai karya Jual Bual memiliki lapisan makna yang kuat.
“Awalnya saya kira ini hanya tema, lalu Anda akan tetap dengan teater realis. Ternyata tidak. Ini seperti kue lapis yang rapi, setiap lapisan kuat. Semua irisan peristiwanya Anda pikirkan dengan bagus. Ini mengungkapkan banyak lapis peristiwa kita saat ini ketika bernegara,” kata Sardono.
Komentar senada disampaikan Prof. Pande Made Sukerta, S.Kar. Ia menilai judul dan penyajian karya tersebut memiliki kekuatan ekspresif yang menarik.
“Dari judulnya saja sudah penuh makna. Jual bual bisa diartikan dari berbagai sudut pandang. Penyajiannya menarik, menghadirkan tokoh datuk yang ekspresinya kuat. Ekspresi itu sudah berbicara, tidak perlu kita tahu arti setiap kata,” ujarnya.
Meski demikian, ia memberikan pesan artistik kepada promovenda. “Setelah lulus ini, kenakalannya perlu ditingkatkan. Bualnya perlu ditingkatkan,” katanya disambut tawa hadirin.
Prof. Dr. Sri Rohana Widyastutiningrum,S.Kar., M.Hum, M.Si, juga memberikan apresiasi atas proses riset dan kedalaman gagasan yang ditawarkan.

“Ujian telah usai dan capaiannya luar biasa. Gelar doktor malam ini sudah bisa diraih oleh Mbak Kurniasih Zaitun. Risetnya dilakukan secara mendalam, berangkat dari tradisi, lalu melahirkan karya baru,” ujarnya.
Menurutnya, pertunjukan Jual Bual bukan sekadar karya teater, tetapi juga ruang pengetahuan budaya.
“Melalui karya ini, penonton belajar tentang Minangkabau, tentang kurenah, tentang perempuan, dan banyak hal lain. Semoga pola pertunjukan seperti ini bisa disebarluaskan,” katanya.
Penguji lainnya, Dr. Wahyu Novianto, S.Sn., M.Sn, menyoroti pentingnya kehadiran sutradara perempuan dalam dunia teater Indonesia.
“Perempuan sutradara teater di Indonesia itu masih sedikit, dan hari ini Uni Tintun termasuk yang meraih gelar doktor. Semoga gelar ini membuat Uni makin produktif dan menambah kualitas di program studi tempat Uni bekerja,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya dramaturgi, tidak hanya di panggung, tetapi juga dalam penulisan akademik.
“Yang butuh dramaturgi itu tidak hanya panggung, tetapi tulisan juga butuh dramaturgi. Dunia hari ini jangan-jangan tidak butuh jawaban, tetapi hanya butuh tontonan. Ruang jeda dramatik justru memberi ruang refleksi dan kritik,” katanya.
Sidang promosi tersebut dipromotori oleh Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn, MFA (promotor) dan Dr. Yusril, SS., M.Sn (kopromotor). Sedangkan tim penguji terdiri dari Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn (Ketua), Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn (Sekretaris), Prof. Dr. Sri Rohana Widyastutiningrum,S.Kar., M.Hum, Prof. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si, Dr. Wahyu Novianto, S.Sn., M.Sn, Prof. Sardono W Kusomo, dan Prof. Dr. Stepanus Hanggar Budi Prasetya, S.Sn., M.Si.
Berangkat dari Pedagang Obat Kaki Lima
Kurniasih Zaitun, yang sehari-hari mengajar di ISI Padang Panjang, mengungkapkan bahwa proses penciptaan Jual Bual berlangsung hampir satu tahun, sementara riset artistik dan konseptualnya memakan waktu sekitar empat tahun.

“Untuk karya teaternya berjudul Jual Bual. Proses penciptaannya hampir satu tahun, sedangkan risetnya sekitar empat tahunan,” ujarnya usai sidang.
Ia menjelaskan bahwa ide penciptaan karya tersebut berakar dari pengalaman artistiknya sejak menyelesaikan Program Magister Penciptaan Seni di ISI Surakarta pada 2008 melalui karya Komplikasi. Karya itu menyoroti berbagai penyakit sosial dengan menjadikan praktik komunikasi pedagang obat kaki lima sebagai cermin relasi sosial masyarakat.
Dalam disertasinya, praktik jual obat tidak dipahami semata sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai peristiwa performatif. Di ruang itu, bahasa, tubuh, waktu, dan kepercayaan dipertaruhkan secara langsung di hadapan publik.
Eksplorasi tersebut berlanjut melalui karya ICU dan ICU+ yang dipentaskan pada 2010 dan 2023, hingga mencapai bentuk sintesisnya dalam Jual Bual.
Konsep kunci dalam disertasi ini adalah kurenah, istilah lokal Minangkabau yang merujuk pada perilaku dan kecerdikan sosial yang memadukan siasat, kelenturan bahasa, permainan tubuh, serta pengelolaan waktu dalam situasi komunikasi.
Kurenah diposisikan bukan sekadar objek representasi budaya, melainkan paradigma dramaturgis—cara berpikir dan cara kerja dalam penciptaan teater.

Melalui pendekatan teater postdramatik, Jual Bual tidak dibangun lewat alur cerita linear, melainkan melalui kolase peristiwa performatif. Teks bersifat cair dan improvisatif, bahasa berfungsi menunda makna, sementara format pertunjukan menyerupai talkshow atau podcast interaktif yang mencairkan batas antara performer dan penonton.
“Salah satu kebaruan yang ditawarkan adalah perumusan jeda dramatik sebagai strategi dramaturgis yang berakar pada tubuh matrilineal. Jeda tidak dipahami sebagai kekosongan, melainkan tindakan performatif—cara tubuh mengelola waktu, kuasa, dan relasi sosial,” ujar Kurniasih.
Secara artistik, ia menilai Jual Bual menawarkan model penciptaan teater yang cair, improvisatif, dan berakar pada praktik sosial rakyat. Secara akademik, disertasi tersebut memperluas wacana teater Indonesia dengan menghadirkan dramaturgi kurenah sebagai paradigma lokal yang mampu berdialog dengan teori global.
Dengan menjadikan praktik pedagang obat kaki lima sebagai basis penciptaan, teater Jual Bual menegaskan teater sebagai ruang perjumpaan antara seni, publik, dan realitas sosial—sebuah praktik artistik yang bekerja melalui risiko, kehadiran tubuh, dan penundaan makna.
Gelar doktor dengan predikat cumlaude yang diraih malam itu bukan sekadar capaian akademik, melainkan juga penegasan bahwa praktik artistik berbasis tradisi lokal dapat berdiri sejajar dengan wacana teater global di ruang akademik internasional.
Format Promosi Doktor Penciptaan
ISI Surakarta menginisiasi penyajian promosi program S3 Penciptaan berbeda dari yang selama ini dilaksanakan. Kurniasih Zaitun merupakan mahasiswa doktor pertama di program tersebut yang menjalani ujian terbuka melalui konversi pementasan karya seni, bukan presentasi akademik konvensional.

Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala mengatakan bahwa model ujian melalui pementasan karya dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa lain yang menempuh jalur penciptaan seni.
“Promovenda Kurniasih Zaitun adalah mahasiswa doktoral yang ujian terbuka pertama yang dikonversi dengan gelar karya. Model ini akan menjadi rujukan bagi mahasiswa jalur penciptaan, dengan syarat penulisan jurnal internasional terindeks Scopus Q1 atau Q2,” jelas Bondet Wrahatnala.
Saat penyajian karya cipta seni teater Jual Bual,sutradara Kurniasih Zaitun menyusun rangkaian pertunjukannya dalam tiga bagian yang memadukan pemaparan konseptual dan peristiwa artistik.
Pada bagian pertama, Kurniasih Zaitun menyampaikan pengantar mengenai gagasan Jual Bual serta dramaturgi kurenah sebagai landasan penciptaan. Ia hadir bersama Eko Supriyanto dan Yusril mendadarkan konsep-konsep mendasar hasil riset berbasis praktik. Ketiganya membangun dialog yang hidup berdasarkan disertasi dan proses penciptaan teater Jual Bual.
Bagian kedua berlangsung di lobi Panggung Arena dengan menghadirkan tiga figur yang melakukan praktik jual bual melalui siaran langsung di media sosial. Adegan ini menyoroti transformasi retorika jual bual dalam konteks komunikasi digital kontemporer.
Bagian ketiga sebagai puncak dari rangkain ini penampilan Jual Bualidi Panggung Arena. Seorang host memandu dialog dengan Datuk atau Mamak, mantan pedagang obat kaki lima, juga figur seolah sebagai tetua adat Minangkabau. Di ruang podcast itu ia membual dan mengulas persoalan tanah, batas wilayah, perempuan, dan anak melalui tuturan lisan serta berdendang Minangkabau dan juga basilek sebagai medium dramaturgis.
Bualan dari Atas Kursi Roda
Teater Jual Bua menghadirkan pertunjukan teater intermedial dan pascadramatik yang menelisik hubungan antara retorika pedagang obat kaki lima dan praktik kurenah sebagai komunikasi dengan penonton. Pertunjukan ini tidak disusun sebagai narasi linear, melainkan sebagai rangkaian fragmen, monolog, dialog terputus, dan peristiwa performatif yang saling berkelindan.

Pusat pertunjukan adalah seorang mantan penjual obat kaki lima yang kini duduk di atas kursi roda dan menyebut dirinya Datuk. Tubuhnya yang rapuh namun lisannya tetap fasih menjadi metafora bagi retorika yang terus bergerak meski legitimasi tubuh dan moralnya telah runtuh.
Datuk Bual saat podcast berlangsung ada performer lainnya, seorang suster yang merawat tubuh Datuk Bual sekaligus menjadi pengawas, pengatur, dan sensor atas ucapannya; serta seorang host podcast yang mengemas kisah, testimoni, dan retorika Datuk ke dalam format media digital yang tampak netral namun manipulatif.
Melalui teknik jual bual—pengulangan, hiperbola, janji kesembuhan, kesaksian palsu, dan permainan emosi—pertunjukan ini menunjukkan bagaimana bahasa bekerja bukan untuk menyampaikan kebenaran, melainkan untuk membentuk kepercayaan. Retorika penjual obat dihadirkan sebagai arsip lisan yang berpindah wujud ke dalam pidato politik, kampanye, talk show, dan konten media sosial.
Kursi roda berfungsi bukan hanya sebagai properti, tetapi sebagai medan retorik: tempat tubuh dipajang, dikasihani, sekaligus dijadikan alat legitimasi. Suster dan host podcast terus-menerus menginterupsi, memotong, dan mengarahkan ujaran Datuk, menciptakan ketegangan antara suara, kuasa, dan representasi.
Pendukung Jual Bual
Pertunjukan Jual Bual didukung oleh tim produksi dan artistik yang solid. Pimpinan produksi dipercayakan kepada Yogi Swara Manitis Aji, didampingi staf produksi Maharani Saputri, Dwi Ha, Sukesi Rahayu, Paino, Indah, Kalis, dan Dody Eska, serta staf produksi penguji Sekar, Beni, dan Muhajir. Peran runner dijalankan Deri Sukai, mediator oleh Caroko Tri Hananto, sementara publikasi dan media ditangani Nasrul Azwar dengan desain publikasi dan panggung oleh Arif Pastu.

Secara artistik, pertunjukan ini disutradarai oleh Kurniasih Zaitun dengan dukungan dramaturg Sahrul N dan Afrizal H. Musra Dahrizal tampil sebagai Datuk Bual, Dede Pramayoza sebagai Host, dan Puspita Sari sebagai Suster. Para performer influencer diperankan oleh Icha Nurhasanah (Uni Glow), Khalida Wahdini (Si Herbal), dan M. Andreanda Dwi Putra (Si Dapur Kopi). Peran enthul dimainkan oleh Gusrizal, Yudha, Arif, dan Paino.
Manajemen panggung dipimpin Stage Manager Yayan Dianu Dimas Safrudin bersama kru Mahendra, Akbar, dan Syaban. Tata suara ditangani Sound Engineer Kipli bersama Mahatma Hoci dan Bandi, dengan pencatat adegan untuk kebutuhan suara oleh Ucil. Tata cahaya dirancang Sanji bersama Duwe dan Gendon, sementara sistem sound dan LED didukung Hendro Bara dan tim. Penata musik dipercayakan kepada Iwan Karak.
Elemen visual dan dokumentasi turut memperkuat pertunjukan ini melalui tim video art yang terdiri atas Yandra Habibilah, Fadhan Nur Hidayatullah, Alif Maulana, Imam Akbar, Tri Syawal, dan Ronggur, dengan talent Sharief Alkindi dan Maharani Saputri. Dokumentasi dan live streaming dikelola Yudi Leo bersama Ridho Wahyu Aldis, Muhammad Jauhar Faizuddin, Muhammad Irfan Maulana, dan Krisna Nawawi Muchlis. Dokumentasi foto dilakukan oleh Denny Cidaik, Alya, Yudi Pe, dan Resso. Videografer sekaligus operator talkshow adalah Rifqy Fahrizi Rachman, dengan operator influencer oleh Yudi Pe.
Pertunjukan berlangsung meriah penuh makna yang disaksikanb ratusan pengunjung dari berbagai kalangan seniman, budayawan, pegiat seni, mahasiswa, dan Rektor ISI Padang Panjang bersama jajarannya.
Selamat, untuk Kurniasih Zaitun. ssc/mn
Foto-foto Denny Cidaik