Kenangan Sakit Gigi di Jogja Istimewa

Senin, 09/02/2026 16:37 WIB

 

OLEH Alfitri--Departemen Sosiologi FISIP Unand

MELANJUTKAN studi di rantau seperti Jogja banyak sukanya. Masyarakatnya bersahabat. Suasana kota dan atmosfir akademik di kampus, asyik dan menyenangkan. Kendati saya pergi kuliah dan ke sana ke mari cuma pakai sepeda. Tetap happy- lah pokoknya.

Tapi juga ada deritanya. Sekali waktu di tahun 1991 itu, tetiba saya sakit gigi. Gigi geraham bawah sebelah kiri berdenyut terus. Sakit sekali, sehingga semalaman tidak bisa tidur. Saya putuskan untuk besoknya segera ke dokter gigi.

Pagi sekali saya sudah di klinik gigi RS Panti Rapih. Ini rumah sakit terdekat dari tempat kost saya di Bulaksumur. Jadi walau sedang sakit gigi, masih bisa terjangkau dengan naik sepeda.

Dokter giginya minta saya untuk rontgen gigi. Ini pengalaman pertama saya rontgen gigi. Hasil rontgennya menunjukkan bahwa ada gigi geraham baru yang tumbuh menyamping. Sehingga menyodok geraham lama yang duluan eksis. Makanya, berdenyut-denyut dan membuat kepala juga terasa sakit.

Sambil menunjukkan hasil rontgen itu, dokter giginya dengan baik menjelaskan bahwa penanganannya adalah dengan dioperasi. Waduh. Ini pertama kali juga mendengar istilah operasi gigi. Selama ini yang saya tahu cuma istilah cabut gigi saja.

Perkiraan biayanya sekian Mas, kata dokter gigi itu menyebutkan rupiah yang membuat gigi saya terasa tambah sakit. Tapi saya maklum juga itu adalah harga operasi gigi di RS swasta. Pengerjaannya pun tentu tidak sesimpel cabut gigi. Lalu saya diberi resep obat untuk meredakan sakit gigi menjelang hari operasi. Ketika gowes pulang, biaya operasi yang lumayan mehong itu terus terpikir. Sementara, gigi pun terus berdenyut. Sakit.

Di rumah, saya berembuk dengan ibu kost. Dan beliau pun ngasih saran, nanti setelah minum obat sakit giginya reda, operasi giginya di klinik gigi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM saja. Klinik itu melayani keluarga besar UGM, kata beliau. Aha. Mulai kelihatan jalan keluarnya.

Beberapa hari setelah sakit gigi itu reda, pada suatu pagi saya pun meluncur ke klinik gigi FKG UGM di Sekip. Saya pun mendaftar dengan menunjukkan kartu mahasiswa UGM. Di kursi periksa saya dilayani oleh dua pemuda berkemeja putih. Saya pun menyerahkan hasil rontgen gigi saya dan mereka tempelkan dekat lampu di kursi periksa tersebut. Saya menduga mereka adalah dokter gigi yang sedang mengambil spesialis.

Sekira dua puluh menit setelah suntikan pertama, sekitar geraham yang akan dioperasi itu belum juga terasa mengebal. Lanjut suntikan kedua. Setelah sekian lama pun belum mengebal. Lanjut suntikan ketiga. Belum juga. Sampai kemudian datang lelaki separuh baya yang saya duga adalah dokter gigi senior yang sudah spesialis untuk urusan operasi gigi. Beliau pun sejenak berdiskusi kecil dengan dua pemuda berkemeja putih tadi.

"Dari Sumatera ya Mas?" tanya pak dokter gigi senior. "Iya dok...", jawab saya. "Maaf, Mas gak suka minum-minum kan...? tanya beliau lagi. "Tidak pernah dok..." jawab saya. Dan memang kenyataanya saya tidak pernah mengonsumsi minuman keras.

"Maaf agamanya apa Mas?" lanjut pak dokter gigi senior lagi. "Islam dok..," jawab saya, "Ok, ini suntikan terakhir ya Mas...tolong baca Alfatihah dalam hati. Kalau tidak kebal juga, operasinya ditunda seminggu lagi yaa.,." Saya pasrah. "Baik dok...", jawab saya. Beliau pun menyuntikkan anastesi itu dengan membaca bismillah. Saya pun mengiringi dengan membaca Alfatihah dalam hati.

Setelah sekian menit, reaksi kebal terjadi. Sekitar geraham ditekan-tekan oleh pak dokter gigi senior dengan perkakasnya. Ini guna memastikan bahwa pengebalannya sudah sempurna untuk dilakukan tindakan operasi. Lantas geraham saya pun dioperasi. Dalam hati saya terus mendaraskan Alfatihah. Saya pun berdoa agar tidak pingsan, karena hampir tiga jam sudah saya mangap dan terbujur di kursi periksa itu.

Alhamdulillah, operasi gigi saya sukses. Pak dokter gigi senior senyum sambil menunjukkan gigi yang dikeluarkan itu. Di meja petugas, saya diberi dua bungkus obat. Total tagihannya Rp 5000,- saja. Terasa betul manfaat klinik gigi di FKG kampus ini. Saya berterimakasih dan berdoa yang terbaik buat mereka.*



BACA JUGA