Mahasiswa KKN Unand Edukasi Petani Akabiluru Cegah Wereng Batang Cokelat Lewat Pestisida Nabati

Rabu, 04/02/2026 13:33 WIB

Akabiluru, sumbarsatu.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas melaksanakan program pembuatan sekaligus sosialisasi pestisida nabati bagi petani padi di Kecamatan Akabiluru, tepatnya di Nagari Sariak Laweh, Selasa (27/01/2026).

Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman petani dalam mengendalikan hama wereng batang cokelat (WBC) yang masih menjadi ancaman serius bagi produksi padi.

Kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan petani setempat, tetapi juga didampingi Dinas Pertanian melalui Penyuluh Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Akabiluru. Kehadiran POPT sekaligus menjadi bentuk pendampingan teknis dan pemantauan langsung terhadap kondisi pertumbuhan tanaman padi di wilayah tersebut.

POPT Kecamatan Akabiluru, Kuntum Khairuummah, menjelaskan bahwa terdapat empat nagari di wilayah Akabiluru yang tergolong endemis WBC. Ia menyebutkan, WBC merupakan hama berukuran kecil yang mampu berpindah dengan cepat antar tanaman maupun antar wilayah, bahkan telah menjadi persoalan nasional hingga global.

“Daun padi yang diserang WBC akan berubah menjadi kuning dan kering sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Jika serangan sudah berat, tanaman terlihat seperti terbakar atau disebut hopperburn, yang berpotensi menyebabkan gagal panen,” ujarnya.

Ia menambahkan, WBC menyerang tanaman menggunakan alat mulut berbentuk stilet untuk menusuk dan menyerap cairan daun sehingga nutrisi tanaman berkurang. Hama ini juga memiliki siklus hidup yang cepat, yakni telur dapat menetas dalam waktu tujuh hingga sembilan hari. Kondisi tersebut menuntut petani untuk melakukan pengamatan rutin terhadap lahan pertanian.

Menurutnya, beberapa faktor yang memicu peningkatan serangan WBC antara lain jarak tanam yang terlalu rapat, penggunaan pupuk nitrogen berlebihan, serta pola tanam yang tidak serempak. Kandungan air tinggi pada tanaman akibat pupuk nitrogen berlebih justru menjadi daya tarik bagi hama.

Dalam kegiatan tersebut, POPT menganjurkan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui budidaya tanaman sehat, penggunaan varietas unggul dan tahan hama, pelestarian musuh alami seperti capung jarum, laba-laba, dan kumbang helm, serta pengamatan rutin sebelum matahari terik. Petani juga didorong untuk menjadi pengamat sekaligus pelaksana PHT di lahan masing-masing.

Penggunaan pestisida kimia disarankan hanya sebagai langkah terakhir karena berpotensi mematikan musuh alami dan memicu resistensi hama. Jika serangan sudah dalam kondisi darurat, penyemprotan harus dilakukan secara serempak oleh kelompok tani dengan jenis insektisida yang sama. Apabila insektisida tertentu tidak lagi efektif, penyemprotan selanjutnya harus menggunakan bahan aktif berbeda.

Selain memberikan edukasi, mahasiswa KKN Unand juga memperkenalkan alternatif pengendalian hama ramah lingkungan melalui pestisida nabati dan pupuk organik sederhana. Bahan yang digunakan mudah diperoleh, seperti air cucian beras pertama dan air kelapa yang tidak terpakai, dengan proses fermentasi maksimal selama satu minggu.

Melalui program ini, mahasiswa berharap petani di Nagari Sariak Laweh dan sekitarnya dapat lebih memahami pola serangan WBC serta menerapkan pengendalian hama yang efektif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan guna menjaga ketahanan pangan daerah.ssc/rel



BACA JUGA