Serangan Siber Terkoordinasi Hantam OCCRP, Jurnalisme Investigatif Terancam

Rabu, 14/01/2026 09:10 WIB

 

Amsterdam, sumarsatu.com--Situs web Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) menjadi sasaran serangan siber distributed denial-of-service (DDoS) berskala besar yang secara signifikan memperlambat akses pembaca terhadap laporan-laporan investigatifnya. Serangan tersebut mulai terdeteksi sejak Senin dan hingga kini masih berlangsung.

Tim keamanan OCCRP menyatakan serangan ini melibatkan botnet internasional berskala besar dengan tingkat koordinasi tinggi, mengindikasikan pengerahan sumber daya yang signifikan.

Para penyerang juga terpantau menyesuaikan taktik secara aktif sebagai respons terhadap langkah-langkah pertahanan digital yang diterapkan, menunjukkan adanya “unsur manusia” di balik operasi tersebut, bukan sekadar serangan otomatis.

Hingga saat ini, sumber serangan belum dapat diidentifikasi. Namun, OCCRP menegaskan bahwa peningkatan infrastruktur digital yang dilakukan sebelumnya berhasil mencegah pemadaman total situs. Tanpa peningkatan tersebut, situs OCCRP diperkirakan bisa tidak dapat diakses selama berjam-jam.

Meski tetap daring, pengguna kini kemungkinan akan menghadapi langkah verifikasi tambahan, yang diterapkan untuk menyaring lalu lintas otomatis dan melindungi sistem dari lonjakan permintaan palsu.

Serangan DDoS bekerja dengan cara membanjiri situs web menggunakan volume lalu lintas sangat besar dari jaringan komputer yang telah disusupi di berbagai negara.

Metode ini tidak menyensor konten secara langsung, tetapi membuatnya sulit atau mustahil diakses, terutama pada momen-momen krusial dalam siklus pemberitaan.

Organisasi media, lembaga pemerintah, institusi keuangan, kelompok hak asasi manusia, dan organisasi nonpemerintah kerap menjadi target serangan semacam ini. Pada 2016, misalnya, serangan DDoS masif berbasis botnet Mirai sempat melumpuhkan akses ke situs-situs media besar seperti The New York Times dan BBC.

Serangan tersebut membanjiri infrastruktur milik perusahaan penyedia DNS Dyn, menyebabkan sebagian besar internet global tidak dapat diakses sementara waktu.

Para pakar keamanan menilai serangan terhadap OCCRP mempertegas bagaimana serangan siber dapat membungkam jurnalisme secara tidak langsung—bukan dengan menghapus atau melarang konten, melainkan dengan menghalangi publik untuk mengaksesnya, terutama pada periode sensitif ketika laporan-laporan investigatif memiliki dampak paling besar.ssc/mn



BACA JUGA