Tari "Betangas": Tubuh Perempuan di Antara Ritual dan Panggung

Selasa, 16/12/2025 11:35 WIB
Foto 1: Penari berdiri membawa kain batik sebagai simbol transisi tubuh dalam ritual betangas. Foto Dokumentasi: Harmoni UNSRI, 2023)

Foto 1: Penari berdiri membawa kain batik sebagai simbol transisi tubuh dalam ritual betangas. Foto Dokumentasi: Harmoni UNSRI, 2023)

OLEH Riska Amanda (Program Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia Padangpanjang)

KRITIK seni tari berfungsi sebagai ruang refleksi untuk membaca karya secara lebih mendalam, tidak hanya dari sisi bentuk gerak, tetapi juga dari konteks budaya, ide penciptaan, serta pengalaman estetik yang dihadirkan.

Sal Murgiyanto menegaskan bahwa kritik tari tidak berhenti pada penilaian teknis, melainkan membuka dialog antara karya, pencipta, dan penonton. Melalui kritik, tari dapat dipahami sebagai medium yang menyimpan gagasan, nilai, dan sikap budaya.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Tari Betangas dipilih sebagai objek kajian karena karya ini menghadirkan transformasi ritual mandi uap masyarakat Melayu ke dalam bahasa tari kontemporer. Dalam tradisi, betangas dipahami sebagai praktik penyucian diri yang berlangsung di ruang domestik perempuan dan sarat dengan nilai spiritual.

Ketika ritual ini dihadirkan ke dalam ruang pertunjukan, muncul persoalan menarik mengenai bagaimana makna tradisi dialihkan, disederhanakan, atau bahkan dinegosiasikan ulang melalui tubuh dan estetika panggung.

Kajian ini berpijak pada dokumentasi video berdurasi sekitar 5 menit 38 detik yang diunggah oleh UKM Harmoni UNSRI melalui platform YouTube pada 1 Juli 2023. Karya ini ditata oleh Indri Loi Lestari sebagai penata tari, dengan dukungan musik oleh Ramadhan Prayogi dan tata cahaya oleh Iqbal Akbar Kurniawan.

Melalui analisis visual, gerak, dan simbolisme yang tampak dalam video serta foto dokumentasi, tulisan ini berupaya menelusuri kekuatan artistik karya sekaligus mengidentifikasi ruang pengembangannya.

Kajian ini menggunakan beberapa kerangka teori utama sebagai alat baca terhadap karya Tari Betangas. Pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai tubuh sebagai pusat pengalaman artistik menjadi landasan awal untuk memahami bagaimana tubuh penari berfungsi sebagai medium penyimpan memori dan pengalaman spiritual. Tubuh dalam tari tidak hanya bergerak, tetapi membawa makna, emosi, dan kesadaran budaya.

Pandangan John Dewey tentang seni sebagai pengalaman digunakan untuk melihat bahwa nilai estetika karya tidak semata-mata terletak pada struktur koreografi, melainkan pada relasi antara tubuh, musik, cahaya, ruang, dan penonton. Pengalaman estetik muncul dari kesatuan unsur-unsur tersebut dan dirasakan secara emosional oleh penonton.

Konsep liminalitas dari Victor Turner membantu membaca Betangas sebagai ruang peralihan antara ritual dan pertunjukan. Karya ini tidak sepenuhnya berada di ranah sakral seperti ritual aslinya, tetapi juga tidak sepenuhnya profan. Ia bergerak di wilayah antara, menghadirkan pengalaman transisi yang bersifat reflektif.

Pendekatan kritik transformatif digunakan untuk melihat bagaimana tradisi betangas tidak disalin secara literal, melainkan ditafsirkan ulang agar relevan dengan konteks seni pertunjukan masa kini. Melalui pendekatan ini, karya dibaca sebagai upaya kreatif yang bernegosiasi antara pelestarian tradisi dan kebutuhan estetika kontemporer.

Tari Betangas dibawakan oleh lima penari perempuan yang tampil dengan kebaya kuning, celana merah, ikat pinggang merah, serta hiasan bunga di sisi kiri kepala dan sanggul. Kostum ini menegaskan identitas perempuan Melayu sekaligus menghadirkan visual panggung yang kuat. Kain batik digunakan sebagai properti utama yang menghubungkan tubuh penari dengan simbol tradisi.

Ruang pertunjukan ditandai oleh tikar yang disusun membentuk lingkaran serta kursi kecil di bagian depan panggung. Tikar merujuk pada ruang domestik perempuan Melayu, sementara kursi kecil memperkaya komposisi visual panggung. Elemen-elemen ini menandai bahwa karya tidak berupaya mereplikasi ritual secara utuh, tetapi mentransformasikannya ke dalam format pertunjukan.

Foto pertama memperlihatkan penari berdiri dengan kain batik sebagai properti utama. Kain dapat dibaca sebagai simbol uap dan proses pemurnian diri, meskipun ukurannya yang besar terkadang membatasi keluwesan gerak.

Foto 2: Formasi diagonal menuju lingkaran yang memperlihatkan jarak antartubuh penari dalam komposisi panggung. Foto Dokumentasi: Harmoni UNSRI, 2023)

Foto kedua menampilkan formasi diagonal yang bergerak menuju lingkaran, memberi kesan harmonis, namun menciptakan jarak antartubuh yang cukup renggang.

Mengacu pada konsep estetika tubuh Hadi, gerak dalam Betangas cenderung perlahan, repetitif, dan dekat dengan lantai. Kualitas ini menciptakan suasana kontemplatif dan mencerminkan proses penyucian diri. Namun, pada beberapa bagian, energi tubuh tampak masih tertahan sehingga kesan penyerahan diri belum sepenuhnya terasa.

Interaksi penari dengan kain batik membuka ruang simbolik yang kuat, tetapi secara dramatik kain lebih berfungsi sebagai elemen visual dibandingkan sebagai medium ekspresif. Pola lantai yang rapi dan terstruktur memberi kejelasan komposisi, meskipun jarak antartubuh penari mengurangi kesan kebersamaan yang seharusnya menjadi inti ritual betangas.

Foto 3: Posisi duduk rendah penari di atas tikar sebagai simbol ruang domestik dan proses kontemplatif.  Foto Dokumentasi: Harmoni UNSRI, 2023)

Foto ketiga menunjukkan penari duduk rendah di atas tikar, menghadirkan momen simbolik yang kuat tentang kerendahan hati dan refleksi batin.

 

Musik yang lembut dan ritmis mendukung suasana reflektif, sementara tata cahaya bernuansa keemasan menghadirkan kehangatan spiritual. Namun, dinamika musik dan cahaya masih dapat diperdalam untuk memperkuat transisi emosi dan intensitas pengalaman estetik.

Simbolisme, Perempuan, dan Spiritualitas

Dalam Betangas, tubuh perempuan ditampilkan sebagai subjek yang mengalami proses penyucian, bukan sebagai objek tontonan. Gestur yang lembut dan ekspresi wajah yang cenderung netral menegaskan sikap tubuh yang menahan diri dan reflektif.

Tubuh perempuan berfungsi sebagai medium penyimpan memori tradisi sekaligus agen yang mentransformasikan ritual ke dalam bahasa tari.

Properti kain, tikar, dan sanggul memperkuat simbol ruang domestik dan identitas perempuan Melayu. Lingkaran tikar menjadi penanda ruang transisi yang memisahkan dunia profan dan ruang batin. Meskipun demikian, ekspresi batin penari masih dapat diperdalam agar makna spiritual lebih terasa, terutama dalam konteks dokumentasi video.

Tari Betangas menunjukkan upaya yang serius dalam menjembatani tradisi dan estetika kontemporer melalui pengolahan tubuh perempuan, simbol domestik, dan suasana spiritual.

Karya ini tidak sekadar merepresentasikan ritual betangas, tetapi menafsirkannya ulang dalam bahasa pertunjukan yang reflektif.

Kekuatan utama karya terletak pada kejelasan konsep, kesatuan suasana, dan penempatan tubuh perempuan sebagai subjek penyembuhan. Namun, beberapa aspek seperti kedalaman energi tubuh, kedekatan antartubuh penari, serta dinamika interaksi dengan properti masih memiliki ruang pengembangan.

Secara keseluruhan, Betangas memperlihatkan bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang melalui pendekatan kreatif yang peka dan bertanggung jawab. Kritik ini diharapkan dapat menjadi kontribusi konstruktif bagi pengembangan karya tari berbasis tradisi di masa mendatang.*

Daftar Pustaka
Dewey, J. (1934). Art as experience. Minton, Balch & Company.
Hadi, Y. S. (2017). Seni pertunjukan dan transformasi budaya. Pustaka Budaya.
Mulvey, L. (1975). Visual pleasure and narrative cinema. Screen, 16(3), 6–18. https://doi.org/10.1093/screen/16.3.6
Murgiyanto, S. (2010). Kritik seni tari: Pendekatan, fungsi, dan perspektif. ISI Press.
Turner, V. (1969). The ritual process: Structure and anti-structure. Aldine Publishing.
 

 

 

 



BACA JUGA