ISI Padang Panjang Gelar Pelatihan Randai di Nagari Sungai Pua, Perkuat Regenerasi Seni Tradisi di Era 5.0

Selasa, 28/10/2025 16:23 WIB
Pembukaan Workshop kegitan program pelatihan Randai di Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam yang dilaksanakan ISI Padang Panjang melalui  LPPMPP ( foto Budi 2025 )

Pembukaan Workshop kegitan program pelatihan Randai di Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam yang dilaksanakan ISI Padang Panjang melalui LPPMPP ( foto Budi 2025 )

Padang Panjang, sumbarsatu.com — Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang melalui Lembaga Penelitian, Pengabdian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPMPP) menggelar program pelatihan Randai di Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam.

Kegiatan yang berlangsung sepanjang 2025 ini menjadi upaya strategis perguruan tinggi seni tersebut untuk memperkuat regenerasi dan keberlanjutan seni tradisi Minangkabau di tengah perubahan sosial-budaya pada era Revolusi Industri 5.0.

Program yang dipimpin Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Emri, S.Sn., M.Sn., dengan anggota anggota Susas Rita Loravianti, Wen Hendri Alsafitro, dam Afizatul Rahmi juga melibatkan puluhan peserta dari berbagai unsur masyarakat: kelompok remaja, sanggar seni, tokoh adat, hingga ibu rumah tangga.

“Pelatihan dilakukan dua kali seminggu, setiap Kamis dan Sabtu, dan disertai pendekatan teknologi agar Randai tetap relevan bagi generasi muda,” kata Emri.

Randai Terdesak Budaya Populer

Nagari Sungai Pua yang dikenal kaya dengan seni tradisional menghadapi persoalan klasik: minimnya minat generasi muda untuk mempelajari Randai. Di lapangan, tim menemukan bahwa sebagian besar anak muda lebih akrab dengan budaya digital seperti gim, media sosial, dan konten hiburan instan. Randai yang sarat nilai dan memerlukan proses panjang dianggap kurang menarik.

“Regenerasi pemain Randai melemah, sementara tuntutan zaman bergerak cepat. Jika tidak diintervensi dengan pendekatan baru, Randai akan semakin ditinggalkan,” ujar Emri dalam pemaparannya.

Selain masalah regenerasi, dokumentasi dan promosi Randai juga dinilai tertinggal. Banyak kelompok seni di nagari belum memanfaatkan media digital, sehingga karya mereka jarang muncul di ruang publik yang lebih luas.

Konsep Pelatihan: Tradisi Bertemu Teknologi

Menjawab tantangan tersebut, tim ISI Padangpanjang merancang model pelatihan yang memadukan pendekatan tradisional dan teknologi digital. Pelatihan dibagi dalam tiga kelompok besar: kelompok Randai, kelompok tari, dan kelompok musik. Kelompok Randai menjadi peserta terbanyak karena antusiasme masyarakat cukup tinggi.

Materi pelatihan meliputi teknik dasar Randai, gerak silat, pola lantai, dendang, ritme musik, hingga pemahaman narasi kaba. Namun, seluruhnya dikemas dengan metode learning by doing, serta didukung rekaman video untuk evaluasi.

Inovasi lain yang diperkenalkan meliputi:

  • Pembuatan video tutorial Randai dalam format singkat.
  • Live streaming pertunjukan, sebagai upaya menjangkau penonton lebih luas.
  • Kolaborasi dengan kreator konten untuk menarik perhatian generasi muda.
  • Pengarsipan digital berupa foto, video, dan notasi musik Randai.
  • Penggunaan tata cahaya dan visual proyeksi dalam pementasan.

Tim menilai bahwa memadukan unsur digital tidak mengurangi nilai tradisi, melainkan membuka ruang kreativitas dan memperluas akses masyarakat terhadap kesenian lokal. Program ini dirancang berlangsung selama satu tahun dan terdiri atas beberapa tahapan utama:

  1. Sosialisasi dan Rekrutmen

Tim berkoordinasi dengan pemerintah nagari, sekolah, sanggar, dan tokoh adat. Sosialisasi dilakukan melalui poster, video pendek, dan pertemuan langsung. Pendaftaran peserta dibuka secara daring dan luring untuk memastikan partisipasi lebih luas.

  1. Penyusunan Modul Pelatihan

Modul disusun berdasarkan tiga pilar: teknik pertunjukan, nilai budaya, dan pemanfaatan teknologi. Bahan ajaran mencakup sejarah Randai, teknik silat, dendang, musik pengiring, hingga tata busana dan properti. Materi disertai arsip digital dan video dokumentasi yang mudah diakses.

  1. Pelatihan Intensif

Pelatihan berlangsung dua kali seminggu. Tahap dasar berlangsung tiga bulan dan berfokus pada teknik inti. Tahap lanjutan menekankan koordinasi kelompok, intensitas vokal, pendalaman kaba, improvisasi, serta latihan membentuk satu adegan Randai secara utuh.

  1. Evaluasi Berkala

Setiap sesi dievaluasi melalui rekaman video dan diskusi kelompok. Peserta diperlihatkan perkembangan gerak dan koordinasinya untuk meningkatkan kualitas diri.

  1. Puncak Pementasan

Sebagai luaran akhir, peserta akan menampilkan Randai hasil pelatihan di hadapan masyarakat. Pementasan menjadi indikator keberhasilan program sekaligus bentuk pertanggungjawaban publik.

Keterlibatan Masyarakat Nagari

Pemerintah Nagari Sungai Pua terlibat aktif dalam menyediakan fasilitas, dukungan administratif, dan mengoordinasikan partisipasi masyarakat. Tokoh adat memberikan masukan terkait filosofi Randai dan memastikan nilai-nilai budaya tetap terjaga. Sanggar seni setempat menjadi mitra pelatih dan penyedia pengetahuan turun-temurun.

“Partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan pelatihan ini. Randai bukan sekadar seni, tetapi identitas kolektif. Jika nagari tidak terlibat, maka tradisi akan mudah rapuh,” ujar salah seorang ninik mamak yang hadir dalam pertemuan awal program.

Keterkaitan dengan MBKM dan IKU Kampus

Program pengabdian masyarakat ini sekaligus menjadi arena implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa ISI Padangpanjang yang terlibat memperoleh pengalaman langsung dalam riset lapangan, pelatihan seni, manajemen kegiatan, hingga dokumentasi digital.

Kontribusi mahasiswa dapat diakui dalam bentuk Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) atau konversi SKS mulai 4 hingga 12 SKS, tergantung produk dan capaian masing-masing. Hal ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) kampus.

Masalah dan Solusi dalam Pelestarian Randai

Dari hasil observasi, tim menemukan enam persoalan utama yang dihadapi oleh Randai di Nagari Sungai Pua:

  1. Regenerasi yang melemah karena rendahnya minat generasi muda.
  2. Kurangnya pelatih yang metodologis dalam mengajarkan teknik Randai.
  3. Minimnya wawasan budaya khususnya pada pendatang dan anak muda.
  4. Tidak adanya inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
  5. Kurangnya dukungan fasilitas untuk latihan dan pertunjukan.
  6. Keterbatasan promosi yang menyebabkan Randai kurang dikenal publik.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim mengembangkan solusi komprehensif, antara lain: peningkatan pelatihan berkala, penggunaan multimedia, kolaborasi lintas komunitas, penyediaan modul digital, penguatan kapasitas sanggar, dan penyelenggaraan pertunjukan rutin.

Selain itu, tim menyarankan pembentukan Kelompok Randai Muda Nagari Sungai Pua, yang akan menjadi wadah regenerasi berkelanjutan. Kelompok ini diharapkan mampu mengelola latihan mandiri setelah program selesai.

Harapan Jangka Panjang

Emri menegaskan bahwa program ini bukan semata pelatihan teknis, tetapi sebuah usaha membangun sistem pewarisan seni tradisional. “Kami ingin agar Randai tetap hidup dalam masyarakat. Jika tradisi kuat, identitas budaya juga kuat. Ini bukan pekerjaan satu hari, tapi kerja jangka panjang yang harus dijaga bersama,” katanya.

Ia berharap modul pelatihan, arsip digital, dan kelompok seni yang terbentuk dapat menjadi fondasi bagi perkembangan Randai di nagari tersebut. Pemerintah daerah juga diharapkan menjadikan pelatihan ini sebagai bagian dari kalender budaya nagari.

Randai sebagai Identitas dan Pendidikan Sosial

Randai tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan. Ia memuat nilai-nilai adat Minangkabau, seperti kebersamaan, kepemimpinan, musyawarah, dan keberanian. Melalui pelatihan ini, generasi muda diperkenalkan kembali pada nilai-nilai itu dalam bentuk gerak, dendang, dan narasi kaba.

Dengan pendekatan yang lebih adaptif, ISI Padangpanjang berharap Randai tetap menjadi ruang ekspresi budaya yang hidup, dinamis, dan relevan di tengah perubahan zaman. ssc/rel

 



BACA JUGA