Senin, 10/11/2025 13:26 WIB

Masyarakat Mandingin Bersatu, Minta Koperasi MLKS Dibubarkan

 
Pasbar, sumbarsatu.com — Masyarakat Jorong Mandiangin, Nagari Katiagan, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, meminta Keperasi Mandiangin Langgam Kinali Sejahtera (MLKS)  di bubarkan. Bahkan Ketua Koperasi serta kantor MLKS dirusak massa Sabtu sore (11/11). 
 
Ratusan warga hingga Senin (10/11) masih menduduki kebun plasma seluas 1.000 hektar yang dikelola Koperasi Mandiangin Langgam Kinali Sejahtera (MLKS) hingga tuntutan mereka dipenuhi.
 
Pengurus koperasi  disebut-sebut, tak membagikan hasil plasma selama delapan tahun terakhir.
 
Aksi tersebut, diikuti sekitar 500 warga dari berbagai unsur masyarakat, termasuk ninik mamak, pemuda, dan tokoh adat. Mereka menuntut kejelasan hasil kebun plasma yang bapak  angkatnya  ke PT Laras Inter Nusa (LIN). 
 
Warga menilai koperasi tidak transparan dan telah menutup akses informasi terkait keuangan serta hasil panen.
 
Pucuk Adat Mandiangin, Nurul Hidayat Nakhodo Rajo, menyampaikan bahwa masyarakat sudah berulang kali menuntut rapat pertanggungjawaban pengurus, namun diabaikan.
 
 “Kami sudah tiga kali menyurati pengurus agar melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT), tapi tidak pernah direspons,” tegasnya kepada >sumbarsatu.com di lokasi aksi.
 
Menurut Pucuk Adat Mandiangin, kantor resmi koperasi yang berada di Jorong Mandiangin sudah lama tidak difungsikan. Kini, pengurus disebut hanya beraktivitas di area kebun plasma.
 
 “Ini jelas tidak sehat secara organisasi. Koperasi harus terbuka dan menghargai hak anggota. Jangan jadikan masyarakat korban,” ujarnya.
 
Dalam aksi yang berlangsung damai itu, warga membawa spanduk besar bertuliskan “Rakyat Mandiangin Bersatu Melawan Koperasi MLKS” sebagai bentuk kekecewaan.
 
Mereka juga menegaskan bahwa sebelum ada kejelasan pembayaran dan laporan hasil plasma, masyarakat  dan anggota koperasi yang berjumlah 1050 anggota akan tetap bertahan di lokasi kebun.
 
Kepala Jorong Mandiangin, bersama ninik mamak dan Ketua Pemuda, juga terlihat hadir di tengah massa. Mereka mendukung langkah warga sebagai bentuk perjuangan untuk mendapatkan hak yang sudah lama terabaikan. 
 
“Ini bukan tindakan anarkis, tapi bentuk tuntutan atas keadilan ekonomi rakyat,” ujar salah satu tokoh masyarakat di sela aksi.
 
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan memediasi persoalan ini agar tidak berlarut-larut. Mereka juga meminta agar Dinas Koperasi dan Dinas Perkebunan Pasaman Barat memeriksa kembali legalitas dan tata kelola keuangan Koperasi MLKS yang dinilai tidak berjalan sesuai aturan.
 
Di lokasi aksi, tampak sejumlah personel kepolisian dari Polsek Kinali berjaga untuk menjaga situasi tetap kondusif. Hingga sore, aksi berjalan tertib meski warga masih menduduki area kebun dan kantor koperasi. Tidak ada laporan kericuhan berarti.
 
Upaya konfirmasi kepada pengurus Koperasi MLKS belum membuahkan hasil. Beberapa nomor telepon pengurus tidak aktif, sementara kantor kebun yang diduduki warga tampak kosong. Pihak Kapolsek Kinali juga belum memberikan tanggapan resmi meski telah dihubungi melalui telepon dan pesan singkat.
 
Masyarakat berharap aksi damai ini menjadi momentum terbukanya komunikasi antara koperasi, perusahaan, dan anggota. “Kami tidak menolak kerja sama, kami hanya menuntut hak yang seharusnya kami terima,” tutup Nurul Hidayat Nakhodo Rajo, mewakili suara warga Mandiangin.
(Ssc/nir) 
 
 
 

BACA JUGA