Jurnalis Andri Mardiansyah Raih Gelar Magister Seni Lewat Mitos Inyiak Balang dalam Fotografi Dokumenter

ISI PADANG PANJANG

Senin, 28/07/2025 22:42 WIB

 

Padang Panjang, sumbarsatu.com — Andri Mardiansyah, mahasiswa Pascasarjana Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, resmi menyandang gelar Magister Seni. Gelar tersebut diraih setelah ia berhasil mempertahankan tesis berjudul Mitos Inyiak Balang dalam Karya Fotografi Dokumenter di hadapan dewan penguji.

Keberhasilan ini sekaligus menandai pencapaian akademik Andri Mardiansyah dalam bidang studi minat Fotografi. Ia melalui proses sidang yang ketat dan menyeluruh, sebelum akhirnya dinyatakan lulus.

Ia mengungkapkan bahwa gagasan untuk mengangkat mitos Inyiak Balang dalam karya fotografi dokumenter bukanlah keputusan spontan. Tema tersebut telah ia tekuni sejak awal perkuliahan pada 2023.

“Judul ini tidak datang tiba-tiba, tapi melalui proses perenungan yang panjang. Setelah banyak masukan, akhirnya saya menetapkan judul Mitos Inyiak Balang dalam Karya Fotografi Dokumenter sebagai tema tesis,” ujar Andri, Senin (28/7/2025).

Menurutnya, bagi masyarakat Minangkabau, Inyiak Balang adalah sebutan untuk Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)—satwa pemuncak yang karismatik, dihormati, dan bahkan menjelma menjadi simbol budaya.

“Dalam beberapa penelitian terdahulu, Harimau Sumatera juga dianggap sebagai bagian penting dari sejarah dan rekam jejak kehidupan manusia masa lampau. Narasinya lekat dengan legenda dan mitos yang hidup dalam masyarakat dan mengandung dimensi spiritual. Cerita tentang Inyiak Balang telah menjadi tradisi lisan turun-temurun,” jelasnya.

Andri Mardiansyah menjelaskan, pendekatan fotografi dokumenter dipilih karena dianggap paling relevan dalam mempresentasikan mitos ini.

“Fotografi dokumenter menyajikan gambar secara apa adanya. Ia menyampaikan cerita langsung dari subjek yang diangkat, sehingga publik bisa merasakan langsung fenomena yang ada,” tuturnya.

Lebih lanjut, Andri menyebutkan bahwa fotografi dokumenter bukan sekadar mengambil gambar. Ia merupakan bentuk seni yang mampu membekukan momen nyata, menyampaikan kisah, dan memberi pemahaman tentang realitas di sekitar.

Untuk memperdalam makna karya, ia juga menggunakan pendekatan fenomenologi yang berakar pada pemikiran Edmund Husserl. Selain itu, ia mengadopsi kerangka realisme magis untuk memberi ruang pada dimensi mistis dalam visualisasinya.

“Istilah magical realism atau realisme magis awalnya diperkenalkan dalam dunia seni lukis oleh kritikus Jerman, Franz Roh, pada 1925. Ia menekankan bahwa aspek terpenting dari realisme magis adalah misteri dari objek konkret yang dimunculkan dalam wujud realis,” terang Andri.

Dalam ujian tesisnya, Andri Mardiansyah mengajukan 18 karya foto. Dari jumlah tersebut, 10 karya utama berkaitan langsung dengan mitos Inyiak Balang, sementara 8 lainnya merupakan karya pendukung.

“Seluruh karya ini telah dipamerkan di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam, ISI Padang Panjang. Pameran juga dilengkapi dengan buku tematik visual, poster, dan infografis sebagai bagian dari proses penciptaan tugas akhir,” tambahnya.

Pameran yang digelar pada Jumat, 18 Juli 2025 itu turut didukung oleh Tropical Forest Conservation Action-Sumatera (TFCA-Sumatera), sebuah program konservasi hutan dan spesies yang didanai melalui skema debt-for-nature swap antara Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia di 13 bentang alam prioritas Sumatera.

Andri berharap, karya dan laporannya tak hanya memperkaya khazanah seni fotografi, tapi juga menjadi jembatan pemahaman antara masyarakat, budaya, dan upaya konservasi Harimau Sumatera.

“Narasi tentang Inyiak Balang akan terus hidup. Meski dianggap entitas sakral yang layak dihormati, jangan lupakan bahwa ia juga satwa yang kini terancam punah. Lindungi dan jaga keberadaannya, jangan biarkan ia bernasib sama seperti saudara-saudara sesamanya di Bali dan Jawa yang kini hanya tinggal kenangan,” pungkas Andri Mardiansyah. ssc/rel



BACA JUGA