sabai
Maroko, sumbarsatu.com—Cerita kaba klasik rakyat Sumatera Barat (Minangkabau), Indonesia, yang amat terkenal kaba Saba Nan Aluih yang ditulis Tulis Sutan Sati, dengan tafsir seni pertunjukan kontemporer akan dipentaskan di Gedung Teater Moulay Rachid dalam iven 36eme Edition Festival International du Theatre Universitaire de Casablanca, Maroko yang disutradarai (director) Kurniasih Zaitun.
Garapan teater ini diberi judul “Sabai in Kaba” yang dimainkan Komunitas Budaya Laksamana dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang akan ditampilkan dua kali, yaitu Rabu 3 Juli dan Jumat 5 Juli 2024. Pembukaan resminya dilakukan pada 1 Juli 2024
Festival seni berkelas internasional yang sudah digelar 36 kali ini, selain diikuti Indonesia, juga beberapa negara lainnya antara lain, Jerman, Spanyol, Kolombia, Korea Selatan, Bahrain, Armenia, Mesir, dan Maroko sebagai tuan rumah.
“Selain pementasan seni dari pelbagai negara dengan latar budaya berbeda, Festival International du Theatre Universitaire de Casablanca juga diperkuat dengan membangun kapasitas jejaring, lokakarya (workshop) seni lintasnegara, berbagi pengetahuan (diskusi) antardelegasi, serta dialog-dialog informal lainnya,” kata Kurniasih Zaitun kepada sumbarsatu, Senin, 1 Juli 2024.
Perempuan sutradara dari komunitas seni HITAM-PUTIH ini menjelaskan, proses penggarapan “Sabai in Kaba” sekitar tiga bulan. Cerita yang sudah amat akrab dengan masyarakat etnis Minangkabau ini, tidak begitu sulit dipahami para pendukung.
“Pertunjukan “Sabai in Kaba” berdurasi 30 menit dihadirkan dengan konsep garapan dalam bentuk laku tubuh dan gerak (dance theater). Cerita dialirkan dalam bentuk naratif yang disuarakan seorang narator. Sedangkan para aktor menyimbolkan cerita dengan tubuh dan gerak (koreiografi),” urai sosok perempuan yang akrab disapa Tintun.
Ia mengatakan, dalam proses garapan “Sabai in Kaba”, untuk komposisi koreografinya ditata Ali Sukti (koreografer) dan artistik (Yusril Katil).
Menurut Fany Utari, Pimpinan Produksi, keberangkatan Komunitas Budaya Laksamana Padang Panjang ke Maroko untuk mengikuti festival tersebut, didukung Dana Indonesiana Fasilitasi Bidang Kebudayaan-Interaksi Budaya (FBK-IB)-LPDP tahun 2024.
Keberangkatan tim ini dilakukan sebanyak 8 orang, yaitu Fany Utari (Pimpinan Produksi), Syamsuwirman (Stage Manager), Hendra Nasution (Excecutive Director), Kurniasih Zaitun (Sutradara sekaligus Pencerita-Narator), Afizatul Rahmi (Sabai), Achmad Ghozali Idham Muttakin (Rajo Nan Panjang), Muhamad Nasir (Rajo Babandiang) dan Yoga Ardiyanto (Pemusik).
Buku kaba “Sabai Nan Aluih” telah mengalami cetak ulang sebanyak 10 kali. Terbitan dan cetakan pertama pada tahun 1929, sedangkan cetakan 10 pada tahun 2003.
Menurut Tulis Sutan Sati, yang ditulisnya dalan kata pengantar buku ini, kaba Sabai Nan Aluih, pertama kali dimainkan oleh Perkampungan Kaum Ibu dalam bentuk sandiwara atau tonil cara Barat dalam perhelatan pada tahun 1928. Pada tahun 1929, Perkumpulan Pemuda Sumatera juga menampilkan sandiwara Sabai Nan Aluih di Betawi dalam bahasa Melayu Umum, bukan bahasa Melayu Minangkabau.
Dalan kaba Sabai Nan Aluih dikisahkan sosok gadis bernama Sabai Nan Aluih. Ia memiliki karakter yang kuat dan tenang. Ia menjadi sosok pahlawan di keluarganya. Sabai Nan Aluih merupakan cerita rakyat dari Padang Tarok, Baso, Agam, Provinsi Sumatera Barat. SSC/MN
