Sumber ilustrasi internet
Catatan Suryadi dari Belanda
Beberapa jam lagi dari titik Leiden tahun 2020 akan humban ke belakang dan tahun 2021 akan segera dijelang. Sementara di selatan dan ‘Terra Incognita’ sana tahun telah berganti sejak beberapa jam tadi. Kembang api di Wellington dan Sydney terasa hambar tanpa suara petasan, denting gelas anggur beradu, dan musik hura-hura. Perayaan tahun baru kali ini memang beda. Dan semua itu adalah karena ulah Corona.
Biasanya jam segini (sekitar 3-4 jam sebelum pergantian tahun) di luar apartemen saya, salak mercon sudah terdengar bersahutan dan sesekali cahaya kembang api telah menyibak udara senja yang selalu datang lebih cepat di musim dingin. Namun, kali ini suasana terasa agak senyap, jauh dari kesan ramai dan bunyi dentam-dentum seperti tahun-tahun sebelumnya. Walau masih tinggal beberapa jam lagi menjelang pukul 00:00 indikasi bahwa jumlah petasan dan kembang api yang akan dibakar malam ini jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya sudah tampak: mulut tong-tong sampah di lingkungan perumahan tidak ditutup oleh petugas keamanan/polisi.
Di Belanda seringkali di tahun baru petasan berkekuatan besar diledakkan dalam tong-tong sampah sehingga menimbulkan bunyi yang keras seperti ledakan granat yang seringkali juga menimbulkan korban dan tentu saja juga merusak fasilitas publik.
Pemerintah Belanda sudah me-lockdown lagi Belanda untuk kesekian kalinya, kali ini hingga 19 Januari 2021. Keputusan ini diambil oleh Pemerintahan Perdana Menteri Mark Rutte tanggal 15 Desember lalu. Ini jelas dimaksudkan untuk menahan warga Belanda supaya tetap tinggal di rumah untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas virus Covid-19 di Belanda. Dengan demikian, pandemi virus ini telah menyelamatkan lebih kurang 70 juta euro dari kebakaran sia-sia untuk membeli petasan dan kembang api.
Untuk pertama kalinya “people around the world welcome new year from home” demikian berita CNN sebentar tadi. Semua orang dinasehati oleh otoritas negara masing-masing untuk merayakan tahun baru di/dari rumah secara online. Lebih kurang setahun sudah virus aneh ini menyebar ke seluruh dunia dari Kota Wuhan di Cina. Tidak ada yang menyangka bahwa akibatnya menjadi seburuk ini secara global.
Pandemi Covid-19 telah berdampak secara signifikan terhadap manusia, makhluk terpintar di bumi, yang dengan kecerdasan dan rasionalitas modernnya yang pongah itu merasa mampu menggenggam tampuk bumi ini dan menaklukkannya. Kini mereka diuji dan dibuat resah oleh suatu kekuatan tak tampak yang gentayangan bersama angin.
Mereka yang masih percaya adanya Tuhan “menggigil dari ujung kaki ke kepala dan berduyun-duyun memanggil nama[Nya]”, demikian Wannofry Samry merefleksikan kebuncahan hati umat bergama dalam puisinya “Virus Tua” (dalam antologi Corona Pergi oleh Puisi, Cianjur: Mulya Bookstore, 2020: 224). Sejarawan yang penyair ini menangkap kegelisahan umat manusia kini menghadapi pandemi Covid-19 ini. Dalam penggalan ketiga puisi di atas ia menulis: “Ribuan orang terkulai ribuan orang terperangah, tiba-tiba memikir ulang langkah mereka menghitung kembali perjalanan yang jauh, mengukur kembali jarak yang ditempuh virus tua seakan di depan semua pintu menunggu seakan maut bergantung di setiap benda dan aku, di sudut kesunyian, ketakutan, dan hanya mendekap padaMu”.
Corona memang telah mengubah segalanya. ‘Hantu’ yang bergerak bersama udara itu telah mengubah cara pandang kita terhadap anggota keluarga, sanak famili yang lebih luas, tetangga, bahkan sesama bangsa. Kebiasaan-kebiasaan yang standar, seperti bersalaman, berciuman pipi (bagi orang Barat), berangkulan saat bertemu, berbicara berdekatan dan lain sebagainya kini dihindari. Orang-orang hanya melambaikan tangan, beradu siku, dan menyampaikan salam dari balik kaca jendela dan juga layar-layar gadget. Tetiba semua hal yang lumrah dan biasa itu terasa asing dan jarak yang paling dekat pun kini terasa jauh. Setiap individu memandang individu lainnya sebagai orang asing, liyan aneh yang membawa ancaman. Mereka saling menjaga jarak, memandang satu sama lain dengan rasa waswas dan kuduk bergidik.
Orang-orang saling mengawasi, saling mengintip dan saling curiga. Mereka yang terbiasa dengan kerumunan merasa kehilangan sesuatu dalam makna hidup. Disadari atau tidak trust antara sesama manusia makin meluncur ke titik nadir. Bahkan terhadap virus itu sendiri yang oleh sebagian orang hanya ‘hantu’ ciptaan konspirasi dari para maniak kapital yang ingin selalu menggengam tampuk dunia dengan memproduksi dan menjual vaksin.
Kehidupan berkeluarga, bertetangga, berkampung bernegeri, dan bernegara menjadi kacau. Tiba-tiba manusia modern seakan diuji lagi dengan jarak yang mereka rasa telah berhasil mereka taklukkan dengan penemuan aneka teknologi transportasi yang super cepat. Mobilitas manusia dibatasi dan orang-orang berjaga-jaga di berbagai perbatasan dengan rasa takut yang tak ditampakkan.
Angin, bau mulut dan parfum pasangan hidup, keluarga dan kenalan kini terasa sebagai ancaman. Orang-orang saling berpapasan di jalan dengan gerak menghindar. Kecantikan dan ketampanan wajah terasa tiada berguna lagi karena terpaksa harus disembunyikan di balik masker, membuat mereka yang karena takdir dikaruniaiNya wajah buruk merasa beruntung. Mereka biasa dengan hedonisme dan digila olehnya dunia tiba-tiba merasa aneh. Mereka tidak tahu kemana gaun-gaun dan tas mahal yang dibeli dengan harga selangit, dari puluhan hingga ratusan juta, akan dipamerkan, karena ruang-ruang publik ditutup untuk orang ramai. Maka bertanding-tandinglah mereka memperlihatkan foto dan video-video diri di laman-laman Facebook dan Instagram. Orang-orang dari layar HP masing-masing di seberang sana mengirimkan cap jempol dengan bermacam ragam perasaan.
Apakah sebenarnya Corona ini? Cara alamkah me-recovery dirinya? Kiriman Tuhan untuk memperingatkan manusiakah? Ataukah ia human made yang tak mampu lagi dikendalikan oleh ‘tuan’nya? Entahah! Yang jelas kehadirannya sudah memorakmorandakan hubungan kemanusiaan, bahkan juga hubungan manusia dengan Tuhan.
Pergantian tahun 2020 ke 2021 dalam suasana yang relatif sepi di seluruh dunia karena pademi Covid-19 mungkin membuat banyak orang, meminjam kata-kata Wannofry di atas, “terperangah”, “memikir ulang langkah mereka” dan “menghitung kembali perjalanan yang jauh.”
Sememangnyalah pandemi ini telah mendorong sebagian manusia merenungkan kembali hakikat dirinya. Akan tetapi tidak kurang banyaknya yang tetap atau malah makin mempelihatkan karakter cerdik buruk, sombong, khianat, dan loba-tamaknya. Bayangan kematian yang bisa saja tiba-tiba oleh virus yang sangat berbahaya itu tidak mampu menghilangkan sifat buruk manusia.
Kini aneka vaksin sudah mulai disuntikkan ke tubuh manusia yang bersifat aniaya itu dengan keyakinan bahwa cairan itu masih bisa menahan mereka dari kematian. Mereka berusaha menyelamatkan nyawa mereka yang hanya sepanjang tungkai belalang itu.
Masih mengganasnya pandemi Covid-19 ini di banyak negara di dunia sampai jam-jam terakhir tahun 2020 memberi indikasi bahwa tahun 2021 penduduk bumi masih akan mengalami ‘teror’ yang menakutkan. Mungkin Bumi masih memerlukan bantuan virus ini untuk memperlambat laju perusakan manusia terhadapnya. Jika laku manusia merusak Bumi ini sudah keterlaluan, maka ia memiliki caranya sendiri untuk memperlambat laju perusakan itu. Jika manusia tidak ramah lagi kepada bumi, maka bumi akan membuang mereka dengan caranya sendiri. Di balik semua ini ada hikmah yang tersembunyi: ini adalah ujian untuk kesabaran dan nafsu dalam diri manusia.
Pandemi Corona mungkin sebuah pesan keras kepada manusia untuk lebih bijak menjaga bumi, ‘rumah’ satu-satunya tempat mereka tinggal.
Leiden, jam-jam terakhir 2020