Trabas Lintas Wisata Agam-Bukittinggi, Menjajal Kaki Marapi

SUKSES DIGELAR

Minggu, 15/12/2019 19:54 WIB
Sekitar 60-an penggemar trabas mengikuti dari berbagai pelosok Sumatera Barat memeriahkan Trabas Lintas Wisata Agam-Bukittinggi dengan jalur yang penuh tantangan dan ekstrem, Minggu, 15 Desember 2019.

Sekitar 60-an penggemar trabas mengikuti dari berbagai pelosok Sumatera Barat memeriahkan Trabas Lintas Wisata Agam-Bukittinggi dengan jalur yang penuh tantangan dan ekstrem, Minggu, 15 Desember 2019.

Nagari Sariak, sumbarsatu.com—Sekitar 60-an penggemar trabas mengikuti dari berbagai pelosok Sumatera Barat memeriahkan Trabas Lintas Wisata Agam-Bukittinggi dengan jalur yang penuh tantangan dan ekstrem, Minggu, 15 Desember 2019.

Gelaran ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan ulang tahun ke 235 Kota Wisata Bukitinggi. Hajatan wisata ini diiniasiasi pemuda-pemudi Jorong Sariak, bersama Karang Taruna Nagari Sariak, Sungai Pua, Agam ini, dan bersinergi dengan pemuda di Bukittinggi, para pengedara harus memacu motornya di jalur-jalur yang telah ditentukan panitia, yakni dilepas di depan Kantor Wali Kota Bukittinggi hingga menjajal tanjakan dan penurunan di kaki Gunung Marapi hingga berakhir di Nagari Sariak.      

“Ini kegiatan wisata bagi penggemar trabas. Jaluarnya memamg dipilih yang pemandangan cukup indah kendati ekstrem. Peserta menikmatinya dengan riang gembira. Ada 60-an peserta yang terdaftar di panitia, tapi di luar yang tak sempat mendaftarkan namanya, cukup banyak juga. Pesertanya ada juga dari Sumut,” kata Emilda, salah seorang panitia, Minggu (15/12/2019).

Menurut Emilda, kegiatan wisata ini dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Bukittinggi.

“Kendati kita di Agam, tapi tak ada masalah karena sebagian medan berat dan asyik itu ada di Agam, sekitar kaki Gunung Marapi, dan Sitinjau Lauik. Ini cara kita bersinergi,” terang Emilda, yang juga aktif memotivasi pelbagai kegiatan kreatif di Jorong Sariak ini.

Dikatakannya, jalur Sitinjau Lauik dipilih bertujuan memperkenalkan potensi hutan atau rimbonya. Hutan Sitinjau Lauik berbatasan langsung dengan lahan milik masyarakat untuk berladang.

“Ada batas antara hutan Sitinjau Lauik dengan lahan masyarakat yang noleh dikelola. Batasnya hitan pinus. Melewati pohon pinus sudah tak diperbolehkan lagi dijadikan lahan dan aktivitas warga hanya akan diperbolehkan sampai di sana. Aturan ini telah disepakati masyarakat di Nagari Sariak,” katanya.

Dengan adanya iven Trabas Lintas Wisata Agam-Bukittinggi paling tidak kita bisa mengenalkan potensi hutan dan alam yang indah ini, sekaligus menjagannya.

Hasbi, 23 tahun, salah seorang peserta Trabas Lintas Wisata Agam-Bukittinggi dari Asahan, Sumatera Utara bersama timnya mengaku sangat senang dengan iven ini. Menurutnya, jalurnya menantang sekalgus indah.

“Ini sangat bagus. Jalurnya memicu adrenalin kita. Saya harap ini tidak sekali saja diadakan. Harus jadi agenda rutin dengan terus memperbaiki tata kelolanya. Traerbas Lintas Wisata Agam-Bukittinggi bisa membuka destinasi baru wisata,” urai Hasbi dengan wajah riang dan puas. Hasbi berangkat bersama timnya sebanyak 6 orang.

Sementara itu, salah seorang dari dari tim PGTRAC (Padang Gantiang Trail Adventure Comunity) Batusangkar yang berjumlah 16 orang ini, jalurnya sangat berisiko jatuh saat  hujan. “Tapi cukup menyenangkan,” katanya.

Peserta menikmati indahnya pemandangan yang mengarah ke Kota Bukitinggi sembari makan siang di pondok pondok kecil milik petani ladang di lereng Gunung Marapi ini.

"Mudah-mudahan kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat terutama masyarakat Nagari Sariak , dan semua peserta merasa senang dan puas ," kata Junaidi Dt. Bandaro Gadang Wali Nagari Sariak.

“Kegiatan begini akan terus dilanjutkan dan dikembangkan lebih baik lagi,” tambahnya. SSC/Emilda

 

, Bapak Junaidi Dt. Bandaro Gadang dengan ikut pula berjalan kaki mengikuti jalan tanah yang lanyah sesudah hujan reda.

-------

Oleh: Emilda



BACA JUGA