jamaah kembali berziarah ke makam Syekh Abdul Wahab di Surau Tinggi Calau, Nagari Muaro, Sijunjung. Mereka datang dari berbagai nagari di penjuru Sumatera Barat. Tradisi ini berlangsung dalam Syaban menjelang masuknya Ramadan.
Sijunjuang, sumbarsatu.com—Ratusan jamaah kembali berziarah ke makam Syekh Abdul Wahab di Surau Tinggi Calau, Nagari Muaro, Sijunjung. Mereka datang dari berbagai nagari di penjuru Sumatera Barat. Tradisi ini berlangsung dalam Syaban menjelang masuknya Ramadan.
Ziarah dilakukan salah satunya oleh jamaah dari Tanjung Baso, Nagari Sungai Buluh Barat, Pariaman, Rabu (24/4/2019).
Menurut Buya Alimunar Koto, ketua jamaah tersebut, Syekh Abdul Wahab adalah ulama penyebar Islam terkemuka di Kabupaten Sijunjung. Syekh Abdul Wahab membawa Tareqat Sattariyah dari Syekh Abdul Rauf Singkil, Aceh. Sama halnya dengan Syekh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman.
“Di hari baik menjelang Ramadan, kami kembali menyempatkan diri berziarah ke Calau, sekaligus memanjatkan doa dan memohon ridhaNya,” aku Buya Alimunar Koto.
Tambahnya, ulama jaman dahulu memberikan ilmu dengan tulus, semata-mata mengharapkan ridha Allah. Bahkan bisa dibilang sebagai penerus perjuangan Rasulullah.
Membawa 25 jamaah, Buya Alimunar Koto pun melakukan ritual keagamaan di kompleks Surau Tinggi Calau.
Lazimnya jamaah dari berbagai daerah di Sumatera Barat, mereka melakukan salat sunah dan fardu di Surau Tinggi Calau. Kemudian dilanjutkan berziarah ke makam Syekh Abdul Wahab yang terletak di atas ketinggian, sekira 60 meter dari surau. Mereka melakukan tahlilan dan berdoa.
Makam Syekh Abdul Wahap diapit oleh makam Syekh Ahmad dan Syekh Djalaluddin.
Syekh Ahmad merupakan anak Abdul Wahab dan Djalaluddin adalah kemenakannya. Ketiga makam ini satu atap, telah dipugar, dan tercatat sebagai peninggalan sejarah purbakala BPCB Batusangkar.
Juru kunci makam, Karimun (60) mengatakan, kompleks makam Syekh Abdul Wahab terbilang sakral, berada di bawah pertanggungjawaban Ninik Mamak Nagari Muaro. Syekh Abdul Wahab bersuku Kampai.
“Dulu banyak orang dari luar datang belajar ilmu agama di Surau Tinggi Calau. Sejak jembatan gantung putus tahun 2008, jamaah dari luar nyaris tak ada lagi,” ujarnya.
Pada 2008 jembatan gantung, yang di bawahnya mengalir Batang Sukam, putus akibat kelebihan muatan. Beberapa jamaah meninggal dunia, belasan lainnya kritis. Tiga tahun kemudian jembatan permanen dibangun.
Belanda menyebut surau sebagai Indische Scholen (sekolah orang Melayu) atau Godstientscholen (sekolah agama) pada masa kolonial dulu. Data-data dari Belanda menggambarkan betapa pesat pendidikan model surau di Minangkabau di masa lampau.
Surau Tinggi Calau berada di sebuah kompleks perkampungan yang disebut Kompleks Kampung Calau. Calau artinya parit atau tanah yang digali. Nama ini diberikan oleh Syekh Abdul Wahab untuk membatasi tanah ulayat kampung di utara dengan kompleks kampung Calau saat ini.
Memiliki arsitektur tradisional Minangkabau (bangunan ditinggikan dari tanah, memiliki kolong, dan atap gonjong), Suara Tinggi Calau terdiri dari 3 ruang dan 3 lanjar. Tak hanya sebagai tempat salat, surau ini juga berfungsi sebagai ruang belajar agama Islam dan tempat tinggal.
Surau Tinggi Calau dibangun secara bertahap. Pada lesplang sisi timur terdapat tulisan Arab Jawi 7 Muharram 1374 H sebagai penanda pembangunan atap. Pada dinding sisi selatan terdapat angka yang berarti 15 Rajab 1391 H penanda pemasangan dinding sisi selatan. (SSC/Thendra)