Stasiun Kereta Api di Air Tawar Padang
Padang, sumbarsatu.com—Peristiwa kecelakaan tragis yang dialami mahasiswi FIP UNP Eka Sofiadita, tewas menggenaskan setelah digilas ‘Mak Itam’ (kereta api), Minggu (15/6/2015) sore di Simpang Jalan Polinia, Air Tawar, Padang, direspons Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah.
Ia berharap pihak terkait memikirkan keselamatan masyarakat dari bahaya kereta api. Apalagi hampir selalu terdengar kecelakaan dengan kereta api.
“Jalur-jalur kereta api berisiko kecekaan dan harus diberi pagar. Bagaimana supaya kecelakaan dapat diminimalisir,” kata Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah di Kantor Balaikota, di Aia Pacah, Rabu (17/6/2015).
Seperti diketahui, hampir semua jalur kereta api di Kota Padang melintasi jalan umum dan berdekatan dengan pemukiman warga. Mulai dari arah utara, jalur kereta api berada di pinggir jalan Lubuk Buaya terus ke arah Tabing dan Air Tawar. Jalur kereta api ini terus masuk ke pusat kota, melewati jalan Joni Anwar, terus ke Alai, Simpang Haru, dan berakhir di Teluk Bayur.
Keadaan ini cukup berisiko terhadap keselamatan warga Kota Padang. Apalagi, jalur kereta api yang melewati jalan umum ini tidak seluruhnya yang diberi ‘ampang-ampang’ (pagar pembatas). Hal ini dapat mengakibatkan kecelakaan jika masyarakat tidak waspada apabila melewati jalur kereta api.
Untuk memberi pagar di jalur beresiko ini tentunya diperlukan koordinasi antar Dinas Perhubungan dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).
“Instansi terkait tentu harus bincangkan ini, kalau tidak akan terus jatuh korban selanjutnya,” tambah Wako.
Wako berpendapat, cara lain untuk meminimalisir itu yakni dengan merancang fly over (jalan layang) atau jalan under pass. Sehingga nantinya dapat mengimbangi kereta api.
“Cara ini perlu didiskusikan antara Dinas PU dengan Dinas Perhubungan. Sehingga tak ada lagi terdengar calon penerus bangsa yang dibanggakan terlindas kereta api, kasihan kita,” kata Wako. (SSC)