Kolaborasi ISI Padangpanjang–SMK Negeri 1 Menumbuhkan Kembali Tradisi Teater dari Panggung Sekolah

Minggu, 04/10/2026 21:06 WIB

OLEH Kurniasih Zaitun-Dosen Prodi Teater ISI Padangpanjang

KERJA SAMA Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang melalui Program Studi (Prodi) Teater dan Prodi Pariwisata dengan SMK Negeri 1 Padangpanjang kembali diwujudkan melalui kegiatan bertajuk “SKANSA Berdrama Jilid 2”.

Proses persiapan dilakukan selama dua hari, pada 3–4 Oktober 2026, di lingkungan kampus sekolah tersebut dan dilanjutkan pada 5–6 Oktober 2026, sejak pagi hingga sore hari, di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam dengan agenda pergelaran pertunjukan teater.

Kegiatan ini merupakan output dari pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia yang dipelajari para siswa dalam bentuk pertunjukan teater. Sebanyak 10 penampilan dipersiapkan oleh siswa kelas 12 dari berbagai jurusan yang terdapat di sekolah kejuruan tersebut.

Melalui kegiatan ini, materi pembelajaran Bahasa Indonesia tidak berhenti pada kemampuan memahami teks dan menyusun tulisan, tetapi dikembangkan menjadi pengalaman praktik berbahasa melalui dialog, ujaran, artikulasi, ekspresi, serta komunikasi di atas panggung.

SMK Negeri 1 Padangpanjang memiliki sejumlah program keahlian, antara lain Tata Boga, Manajemen, Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, Usaha Layanan Pariwisata, Pemasaran, serta Perhotelan. SKANSA, yang merupakan singkatan dari SMK Negeri 1, kemudian menjadi nama kegiatan yang dibranding dan dikembangkan oleh para siswa, guru, hingga jajaran pimpinan sekolah sebagai identitas kegiatan kreatif yang mempertemukan pembelajaran dengan praktik seni pertunjukan.

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan kedua hasil kerja sama Prodi Teater yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni, serta Prodi Pariwisata dalam pengelolaan kegiatan secara bersama-sama untuk mewujudkan “SKANSA Berdrama Jilid 2”.

Sebelumnya, kegiatan “SKANSA Berdrama Jilid 1” telah sukses dilaksanakan pada 2025. Pengalaman dari pelaksanaan pertama tersebut menjadi pijakan penting bagi penyelenggaraan jilid kedua, terutama dalam membangun pola pendampingan, pembagian kerja, pengelolaan latihan, serta kesiapan siswa dalam menghadapi proses produksi pertunjukan.

Para siswa SMK Negeri 1 Padangpanjang menjalani latihan untuk mempersiapkan pertunjukan “SKANSA Berdrama Jilid 2” di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, ISI Padangpanjang, 4–6 Oktober 2026. (Foto: Dok.)

Pada tahun ini, proses persiapan untuk mewujudkan 10 pertunjukan teater berlangsung kurang lebih selama dua setengah bulan. Proses tersebut meliputi tahapan pemilihan dan pengembangan gagasan, pembacaan serta pemahaman naskah, latihan pemeranan, penyutradaraan, eksplorasi artistik, hingga persiapan teknis pertunjukan. Seluruh proses dilakukan oleh siswa kelas 12 dengan pendampingan dari dosen, mahasiswa, dan alumni Prodi Teater ISI Padangpanjang.

Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bagian dari penilaian bagi para guru pembimbing mata pelajaran Bahasa Indonesia terhadap proses dan capaian pembelajaran siswa. Adapun tujuan output mata pelajaran ini adalah memperdalam sekaligus memperkuat kemampuan berbahasa para siswa, tidak hanya secara tertulis, tetapi juga melalui praktik ujaran, ucapan, dialog, dan percakapan.

Pada saat yang sama, kegiatan ini menumbuhkan kepercayaan diri siswa dalam mewujudkan karakter tokoh, mengembangkan gagasan kreatif, serta menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bentuk pertunjukan yang memiliki unsur artistik, musik, koreografi, dan penataan pencahayaan yang mendukung konsep pertunjukan.

Dalam kerja sama antarlembaga pendidikan ini, dilakukan proses pendampingan (mentoring) di luar jam sekolah maupun kuliah. Mahasiswa dan dosen ISI Padangpanjang bertindak sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa selama proses penciptaan dan latihan.

Peran Prodi Teater dalam kerja sama ini antara lain memfasilitasi kebutuhan proses latihan dengan memaksimalkan peran para alumni sebagai pelatih. Sementara itu, para dosen dan mahasiswa melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui transfer pengetahuan dan pengalaman seni pertunjukan kepada siswa.

Pendampingan tersebut diwujudkan dalam bentuk kerja artistik, manajemen panggung, pemeranan, penyutradaraan, dan dramaturgi untuk mewujudkan kegiatan ini agar dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana dan harapan berbagai pihak, baik sekolah, kampus ISI Padangpanjang, maupun masyarakat penonton secara luas.

Kehadiran penonton dari kalangan pelajar juga menjadi bagian penting dalam proses ini karena secara tidak langsung kegiatan tersebut turut membangun dan mengedukasi calon penonton serta memperluas apresiasi terhadap seni pertunjukan di lingkungan pendidikan.

Sinergisme yang dilakukan melalui “SKANSA Berdrama Jilid 2” merupakan langkah baik dalam mewujudkan pendidikan karakter siswa melalui media seni drama atau teater.

Pelaksanaan kegiatan ini menjadikan para siswa tidak hanya mempelajari teater sebagai bagian dari pemenuhan tugas mata pelajaran, tetapi juga memperoleh ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman kerja panggung melalui proses seni teater yang dilakukan secara langsung.

Program ini mendapat sambutan baik dari para siswa. Bagi mereka, kerja seni teater dapat menjadi ruang untuk melatih kepekaan terhadap berbagai persoalan kehidupan sosial. Teater juga memberikan pengalaman yang kaya tentang kerja kolektif, mengembangkan bakat yang mungkin selama ini belum tersalurkan, sekaligus mewujudkan naskah tertulis menjadi bentuk audiovisual yang dapat dipentaskan di hadapan penonton.

Para siswa SMK Negeri 1 Padangpanjang menjalani latihan untuk mempersiapkan pertunjukan “SKANSA Berdrama Jilid 2” di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, ISI Padangpanjang, 4–6 Oktober 2026. (Foto: Dok.)

Proses tersebut membutuhkan banyak perangkat ilmu pengetahuan dan pengalaman yang mereka peroleh selama kegiatan berlangsung. Meskipun secara kompetensi keilmuan siswa-siswi SMK Negeri 1 Padangpanjang tidak secara khusus bersentuhan dengan seni teater, melalui program inilah mereka mendapatkan pengayaan kerja praktik yang memperluas pengalaman batin dan sosial di luar bidang keahlian yang mereka pelajari di sekolah.

Pengalaman tersebut menjadi penting karena pendidikan vokasi pada dasarnya tidak hanya mempersiapkan peserta didik untuk memiliki keterampilan teknis sesuai bidang keahlian, tetapi juga membutuhkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kreativitas, disiplin, dan kemampuan beradaptasi.

Dalam konteks ini, teater memberikan ruang pembelajaran yang berbeda. Siswa belajar memahami orang lain melalui karakter tokoh, belajar bekerja dalam kelompok, belajar menyelesaikan persoalan secara bersama, serta belajar mempertanggungjawabkan tugas masing-masing sebagai bagian dari sebuah produksi pertunjukan.

Kerja sama antara ISI Padangpanjang sebagai perguruan tinggi seni dan SMK Negeri 1 Padangpanjang sebagai sekolah kejuruan atau vokasi dalam menggarap “SKANSA Berdrama Jilid 2” merupakan kolaborasi lintas jenjang pendidikan yang menarik. Sinergi ini mempertemukan ranah akademis, kepakaran artistik, serta keterampilan teknis vokasi secara konkret dalam sebuah proses penciptaan karya.

Sebagai salah satu perguruan tinggi seni di wilayah Sumatera, ISI Padangpanjang sudah seharusnya ikut menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni pertunjukan melalui kerja-kerja nyata yang memberikan pengaruh kreatif dan kritis terhadap aktivitas para remaja, khususnya di Kota Padangpanjang.

Kerja sama dengan sekolah menjadi salah satu cara yang strategis untuk memperkenalkan seni pertunjukan secara lebih dekat kepada generasi muda sekaligus membangun pengalaman apresiasi yang tidak hanya berlangsung sebagai kegiatan menonton, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam proses penciptaan.

Iven ini merupakan salah satu upaya memperkuat julukan Padangpanjang sebagai simpul kebudayaan dan kota seni di Sumatera Barat. Kolaborasi ini membuktikan bahwa seni teater bukan sekadar seni peran di atas panggung, melainkan sebuah kerja kreatif terpadu yang membutuhkan tata kelola teknis, artistik, dan manajerial secara presisi. Di dalam sebuah pertunjukan terdapat banyak unsur yang saling berkaitan, mulai dari pemeranan, penyutradaraan, dramaturgi, artistik, musik, tata cahaya, tata panggung, manajemen produksi, hingga pengelolaan penonton.

Karena itu, kehadiran kegiatan semacam “SKANSA Berdrama” tidak hanya penting bagi siswa yang terlibat langsung dalam pertunjukan, tetapi juga bagi ekosistem kesenian di Kota Padangpanjang.

Kegiatan tersebut ikut menghidupkan iklim kesenian daerah sekaligus membuktikan bahwa ruang apresiasi dan praktik seni dapat tumbuh dari lingkungan sekolah. Sekolah dapat menjadi salah satu basis penting dalam membangun kebiasaan berkesenian dan menciptakan generasi yang memiliki kedekatan dengan seni dan kebudayaan.

Berdasarkan pengalaman para siswa yang telah mengikuti “SKANSA Berdrama Jilid 1”, mereka mendapatkan pemahaman bahwa teater tidak hanya dapat dipelajari oleh siswa sekolah seni, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar bagi siswa SMK vokasi non-seni melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa seni pertunjukan dapat hadir sebagai metode pembelajaran yang mempertemukan kemampuan akademik dengan pengalaman praktik.

Hasilnya, mereka menyadari bahwa kerja kolektif membutuhkan kedisiplinan dan pemahaman terhadap karakter setiap anggota tim untuk mewujudkan sebuah pertunjukan. Setiap orang memiliki peran yang berbeda, tetapi seluruh peran tersebut memiliki hubungan dan tanggung jawab terhadap keberhasilan pertunjukan secara keseluruhan.

Karena itu, pada kegiatan “SKANSA Berdrama Jilid 2”, kerja artistik yang mereka persiapkan terlihat jauh lebih matang dan serius. Pengalaman sebelumnya membuat siswa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya kerja kolektif, komunikasi, pembagian tugas, serta menjaga kekompakan selama proses produksi.

Hal ini menandakan bahwa “SKANSA Berdrama Jilid 2” bukan sekadar agenda insidental, melainkan mulai menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam membangun kembali tradisi berteater di lingkungan sekolah. Upaya ini menjadi semakin penting ketika ruang kegiatan teater di kalangan pelajar, khususnya di Kota Padangpanjang, dinilai mengalami penurunan dalam kurun waktu sekitar satu dekade terakhir. 

Maka kehadiran program yang mempertemukan sekolah, perguruan tinggi seni, mahasiswa, dosen, alumni, dan siswa dapat menjadi salah satu jalan untuk menghidupkan kembali ruang-ruang praktik teater di lingkungan pendidikan.

Proses kerja teater, selain membentuk karakter siswa SMK seperti kepercayaan diri, kemampuan artikulasi dan komunikasi, kerja tim, serta kedisiplinan waktu, juga menjadi pengalaman berharga bagi mereka tentang arti kebersamaan selama menjalankan studi di SMK.

Intensitas kebersamaan siswa dalam kegiatan belajar sehari-hari tidak selalu cukup untuk mengenal karakter setiap teman secara lebih mendalam. Namun, melalui proses latihan dan produksi teater, mereka memiliki waktu bersama yang lebih panjang, bekerja dalam situasi yang membutuhkan saling percaya, dan belajar menyelesaikan berbagai persoalan secara kolektif.

Pengalaman ini menjadi semakin berarti karena berlangsung pada masa akhir studi mereka sebelum memasuki fase kehidupan berikutnya setelah kelulusan.

“Kami merasa semakin saling mengenal karakter antarteman satu kelas. Komunikasi yang awalnya tidak begitu lancar menjadi lebih baik. Kami juga memiliki kepercayaan diri dan saling mendukung satu sama lain sehingga membuat kami menjadi lebih kompak dan merasakan kebersamaan itu lebih indah,” demikian ungkapan beberapa siswa dan siswi yang bertugas sebagai sutradara dalam pertunjukan di kelas masing-masing.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman berteater memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar kemampuan tampil di atas panggung. Proses produksi pertunjukan menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengenali diri sendiri sekaligus memahami orang lain.

Mereka belajar bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan tidak ditentukan oleh satu orang, tetapi oleh kemampuan seluruh anggota tim dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Kerja kolaborasi antara ISI Padangpanjang dan SMK Negeri 1 Padangpanjang ini menjadi program yang perlu dipertahankan dan seharusnya dikembangkan secara lebih luas dengan melibatkan sekolah-sekolah lain yang ada di Kota Padangpanjang.

Pengembangan program semacam ini dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui pola pendampingan, pertukaran pengetahuan, pelatihan, produksi pertunjukan, maupun forum apresiasi yang melibatkan siswa sebagai pelaku sekaligus penonton.

Dengan demikian, upaya menjadikan Padangpanjang sebagai kota kebudayaan dan seni tidak hanya berhenti pada slogan atau identitas kota, tetapi dapat diwujudkan secara nyata mulai dari tingkat pendidikan, masyarakat, dan pemerintah.

Ekosistem tersebut tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, media, komunitas, lembaga pendidikan, serta para pelaku seni profesional yang telah dimiliki Kota Padangpanjang. Dari ruang-ruang sekolah inilah kecintaan terhadap seni dapat ditumbuhkan, pengalaman berkesenian dapat diwariskan, dan generasi muda dapat dipersiapkan sebagai bagian dari masa depan ekosistem kebudayaan dan seni pertunjukan di Padangpanjang.*



BACA JUGA